Inilah Umar bin Al-Khaththab

Keislaman beliau telah memberikan andil besar bagi perkembangan dan kejayaan Islam. Beliau adalah pemimpin yang adil, bijaksana, tegas, disegani, dan selalu memperhatikan urusan kaum muslimin. Pemimpin yang menegakkan ketauhidan dan keimanan, merobohkan kesyirikan dan kekufuran, menghidupkan sunnah dan mematikan bid`ah. Beliau adalah orang yang paling baik dan paling berilmu tentang al-Kitab dan as-Sunnah setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Nasab Beliau

Beliau adalah Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qarth bin Razah bin ‘Adiy bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi pada kakeknya Ka’ab. Antara beliau dengan Nabi selisih 8 kakek. lbu beliau bernama Hantamah bind Hasyim bin al-Mughirah al-Makhzumiyah. Rasulullah memberi beliau kun-yah Abu Hafsh (bapak Hafsh) karena Hafshah adalah anaknya yang paling tua; dan memberi laqab (julukan) al-Faruq.

Kisah Beliau Masuk Islam

Sebelum masuk Islam, Umar bin ulKhaththab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya dengan kaum Muslimin, bertaklid kepada aiaran nenek moyangnya, dan melakukan perbuatan-perbuatan jelek yang umumnya dilakukan kaum jahiliyah, namun tetap bisa menjaga harga diri. Beliau masuk Islam pada bulan Dzulhijah tahun ke6 kenabian, tiga hari setelah Hamzah masuk Islam.

Ringkas cerita, pada suatu malam beliau datang ke Masjidil Haram secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan bacaan shalat Nabi. Waktu itu Nabi membaca surat al-Haqqah. Umar kagum dengan susunan kalimatnya lantas berkata -kepada dirinya sendiri- “Demi Allah, ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy.” Kemudian beliau mendengar Rasulallah membaca ayat 40-41 3, lantas beliau berkata, “Kalau begitu berarti dia itu dukun.” Kemudian beliau mendengar bacaan Nabi ayat 42, akhirnya beliau berkata, “Telah terbetik lslam di dalam hatiku.” Akan tetapi karena kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan terhadap agama nenek moyang, maka beliau tetap memusuhi Islam.

Kemudian pada suatu hari, beliau keluar dengan menghunus pedangnya bermaksud membunuh Nabi. Dalam perjalanan, beliau bertemu dengan Nu`aim bin Abdullah al-’Adawi atau seorang laki-laki dari Bani Zuhrah. Lekaki itu berkata kepada Umar, “Mau kemana wahai Umar?” Umar menjawab, “Aku ingin membunuh Muhammad.” Lelaki tadi berkata, “Bagaimana kamu akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah, kalau kamu membunuh Muhammad?” Maka Umar menjawab, “Tidaklah aku melihatmu melainkan kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu.” Tetapi lelaki tadi menimpali, “Maukah aku tunjukkan yang lebih mencengangkanmu, hai Umar? Sesuugguhnya adik perampuanmu dan iparmu telah meninggalkan agama yang kamu yakini.”

Kemudian dia bergegas mendatangi adiknya yang sedang belajar alQur’an surat Thaha kepada Khabab bin al-Arat. Tatkala mendengar Umar datang, maka Khabab bersembunyi. Umar masuk rumahnya dan menanyakan suara yang didengarnya. Kemudian adik perempuan Umar dan suaminya berkata, “Kami tidak sedang membicarakan apa-apa.” Umar menimpali, ^Sepertinya kalian telah keluar dari agama nenek moyang kalian.” Iparnya menjawab, “wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada agamamu?^ Mendengar ungkapan tersebut Umar memukulnya hingga terluka dan berdarah, karena tetap saja saudaranya itu mempertahankan agama Islam yang dianutnya- Umar berputus asa dan menyesal melihat darah mengalir pada iparnya.


Gbr. Masjid Umar Bin Khattab

Umar berkata, ‘Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin membacanya.’ Maka adik perempuannya berkata,” Kamu itu kotor. Tidak boleh menyentuh kitab itu kecuali orang yang bersuci. Mandilah terlebih dahulu!” Iantas Umar mandi dan mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya. Ketika dia membaca surat Thaha, dia memuji dan muliakan isinya, kemudian minta ditunjukkan keberadaan Rasulullah.

Tatkala Khabab mendengar perkataan Umar, dia muncul dari persembunyiannya dan berkata, “Aku akan beri kabar gembira kepadamu, wahai Umar! Aku berharap engkau adalah orang yang didoakan Rasulullah pada malam Kamis,

‘Ya Allah, muliakan Islam.dengan Umar bin alKhaththab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam.’

Waktu itu, Rasulullah berada di sebuah rumah di daerah Shafa.” Umar mengambil pedangnya dan menuju rumah tersebut, kemudian mengetuk pintunya. Ketika ada salah seorang meiihat Umar datang dengan pedang terhunus dari celah pintu rumahnya, dikabarkannya kepada Rasulullah. Lantas mereka berkumpul. Hamzah bertanya, “Ada apa kalian?” Mereka menjawab, ‘Umar (datang)!” Hamzah berkata, “Bukalah pintunya. Kalau dia menginginkan kebaikan, maka kita akan menerimanya, tetapi kalau menginginkan kejelekan, maka kita akan mubunuhnya dengan pedangnya.” Kemudian Nabi menemui Umar dan berkata kepadanya. “… Ya Allah, ini adalah Urnar bin al-Khatheab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin al-Khaththab.”

Seketika itu pula Umar bersyahadat, dan orang-orang yang berada di rumah tersebut bertakbir dengan keras. Menurut pengakuannya dia adalah orang yang ke-40 masuk Islam.

Abdullah bin Mas’ud berkomentar, “Kami senantiasa berada dalam kejayaan semenjak Umar masuk Islam.”

Shuhaib bin Sinan berkata, “Tatkala Umar masuk Islam, maka Islam mulai tampak. Kami membuat halaqah di sekitar Masjidil Haram, dan kami bisa thawaf di Masjidil Haram….”


Keutamaan-Keutamaan Beliau

Setelah masuk lslam, beliau menjadi orang yang semangat menuntut ilmu dan gigih dalam memperjuangkan Islam. Beliau memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

1. Beliau termasuk orang yang mendapat jaminan masuk surga berdasarkan hadits-hadits shahih. Di antaranya apa yang disampaikan oleh Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

“Kami tengah berada di sisi Rasnlullah, tatkala beliau bersabda,’Waktu aku tidur, diperlihatkan kepadaku keadaan surga. Maka tiba-tiba ada perempuan yang berwudhu di samping istana di surga. Saya bertanya, ‘Untuk siapa istana ini ?’ Mereka menjawab, ‘Untuk Umar.’ ”

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa istananya dari emas.

2. Orang yang dijauhi oleh setan. Apabila beliau melalui suatu jalan, maka setan akan mencari jalan lain yang tidak dilalui beliau. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda kepada beliau,

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidaklah Syaithan bertemu denganmu melalui sebuah jalan melainkan dia akan melalui jalan yang tidak eagkau lalui.”

3. Orang yang mendapatkan rekomendasi dari Rasulullah sebagai orang yang mati syahid. Hal ini berdasarkan hadits Anas bin Malik yang berkata, “Nabi bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman mendaki gunung Uhud; maka gunung Uhud tersebut bergoncang/bergetar. Maka sambil menghentakkan kakinya ke gunung Uhud, Rasullulah bersabda, ‘Diamlah wahai Uhud, karena tidaklah yang berada di atasmu melainkan seorang aabi, seorang shiddiq (Abu Bakar), dan dua arang syahid (Umar dan Utsman)’

4. Orang yang dikaruniai firasat atau ilham yang benar. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Sungguh tetah ada pada umat sebelum kalian orang-orang yang disebut muhaddatsun. Maka apubila hal itu terjadi pada seseorang dari umatku, maka dia adalah Umar.” (H.R. Bukhari no.3689)

Ibnu Hajar berkata,”Muhaddatsun adalah orang yang benar firasatnya. Yaitu, orang yang disampaikan sesuatu ke dalam hatinya oleh malaikat yang ada di langit, maka dia menjadi seperti orang yang berbicara dengannya.”

5. Dan beliau adalah orang yang tegas dan berwibawa, wara’ (rnenjaga diri dari perbuatan haram/makruh), sangat berhatihati dan teliti,dan orang yang paling dermawan setelah Rasulullah dan Abu Bakar. Sederhana,tawadhu’ dan disegani kawan maupun lawan.

6. Beliau sangat memperhatikan urusan kaum muslimin dan menjaga hak-hakmereka, keras kemauannya, selalu berusaha menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya, senantiasa melakukan amar makruf nahi munnkar meskipun sampai detik-detik menjelang ajalnya. Dan beliau orang yang sangat takut kalau dirinya terjatuh dalam perbuatan kemunafikan.

7. Beliau termasak orang yang paling dekat dengan Rasulullah dan seringmenemani Rasulullah dalam lawatannya. Maka beliau menjadi orang yang paling alim setelah Rasulullah dan Abu Bakar ash-Shiddiq. Sebagaimana perkataan Ali bin Abu Thalib,

“Sesungguhya Saya sering mendengar Nabi mengatakan, ‘Saya pergi bersama Abu Bakar dan Umar’, `Saya masuk bersama Abu Bakar dan Urnar’ dan Saya keluar bersama Abu Bakar dan Umar’.”

Maka hanya orang-orang yang bodoh tentang Umar bin al-Khaththab saja yang berani mencaci dan mencelanya.


Gbr. Gerbang Umar Bin Khattab


Penutup

Pada masa pemerintahannya keadaan kaum muslimin aman dan makmur. Beliau orang yang pertama kali mendapat gelar Amirul Mukminin. Beliau menjabat sebagai khalifah (pemimpin) kaum muslimin selama ini tahun 6 bulan 4 hari. Beliau sangat bejasa dalam perkembangan dan kejayaan Islam.

Di antaranya adalah penetapan kalender hijriyah, memperluas ukuran Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, penaklukan negeri-negeri kafir seperti Damaskus, Irak, Banal Maqdis, Swis, Mesir, Azerbaijan, Armenia, Anbar, Syam, Shan’a, Jurjan dan lain-lain sehingga Islam tersebar luas.

Beliau juga menertibkan adminirstrasi pemerintahan, membentuk departemen-departemen guna membantu beliau menjalankan tugas sebagai Amirul Mukminin. Beliau tidak mewakilkan suatu urusan kecuali kepada ahlinya, meskipun kepada seorang budak.

Pada tahun 23 hijriyah beliau mengerjakan ibadah haji ke Baitul Haram Makkah. Setelah pulang dari ibadah haji beliau berdoa kepada Allah agar dimatikan dalam keadaan syahid di kota Madinah. Beliau juga mengadu kepada Allah bahwasanya beliau sudah tua sehingga beliau takut kalau tidak mampu menjalankan kewajiban dengan baik.

Pada hari Rabu 3 hari sebelum bulan Dzulhijjah berakhir, beliau ditikam Abu lu’lu’ah Fairuzal-Majusi, budak Mughirah bin Syu’bah, saat shalat shubuh dengan tiga likaman. Abu Lu’lu’ah juga menikam sahabat Nabi lainnya yang seluruhnya berjumlah 13 rang. Akibatnya 7 orang meninggal akibat banyak kehilangan darah.

Beliau meninggal pada hari Sabtu dalam usia 63 atau 65 tahun. Pada hari Ahad bulan Muharam 24 Hijriyah jenazab beliau dikuburkan di rumah Aisyah, berdampingan dengan kuburan dua sahabatnya, Rasulullah dan Abu Bakar ash-Shiddiq.

(AI-Bidayah wan-Nihayah oleh lbnu Katsir IV / 141 – 143).


WaIlahu a’lam.


Maraji’:
1. Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari oleh lbnu hajar Al-Asqalani Cetakan Darul Fikr Beirut,
2. AI-Bidayah wa an-Nihayah oleh Ibnu Katsir Cetakan Darul Fikr Beirut,
3. Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Syaikh Shafiyyur Rahman all-Mubarakfuri cetakan Jum’iyah Ihya at-Turats Kuwait.

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *