Kemerdekaan dalam Perspektif Islam

Dalam pespektif Islam, inti dari kemerdekaan adalah tauhid. Dengan demikian untuk menilai sejauh mana seseorang, masyarakat atau suatu negara telah merdeka, maka harus dilihat sejauh mana mereka masih diperbudak oleh aturan, norma, adat istiadat yang bukan dari Allah, tetapi dari bangsa asing, pemimpin diktator atau oleh hawa nafsu mereka sendiri.

Ini yang membedakan semangat futuhat dalam jihad Islam dengan semangat penjajahan bangsa-bangsa Barat maupun Timur. Penjajah termotivasi oleh 3-G (Gold-Glory-Gospel). Sementara jihad berisi semangat membebaskan bangsa-bangsa dari perbudakan sesama manusia ke penghambaan kepada Allah saja, membawa dari kegelapan kepada cahaya.



Mengapa kaum muslimin terjajah? Itu karena kaum muslimin mengalami kemerosotan secara perlahan-lahan dalam kurun waktu yang sangat panjang panjang seperti di bawah ini:




Catatan:
Secara militer kaum muslimin pernah terdesak cukup signifikan oleh orang-orang Kafir, misalnya dalam Perang Salib (1076-1187), serangan Tartar yang berakibat hancurnya Bagdad (1258-1260), Reconquista di Andalusia (1492).

Namun karena tingkat berpikir masyarakat masih tinggi serta Daulah Islam masih ada dan disegani, maka serangan tajam kaum kuffar itu tidak lantas menghancurkan peradaban masyarakat Islam.

Berbeda dengan sekarang, ketika tingkat berpikir masyarakat sudah sedemikian rendah, yang dibuktikan dengan rendahnya kepedulian mereka pada Islam dan nasib kaum Muslimin, sementara Daulah Islam sudah tidak ada lagi.

Usaha-usaha kaum muslimin untuk membebaskan diri dari penjajahan

Kaum muslimin telah mencoba berbagai cara untuk membebaskan diri dari penjajahan, sesuai cara pandang mereka tentang hakekat penjajahan itu.



Kendala-kendala yang dihadapi oleh kaum muslimin ketika ingin merdeka

Setelah kaum Kafirin berhasil menghapuskan khilafah, maka mereka melakukan langkah-langkah dalam skala prioritas untuk mencegah agar khilafah tidak bangkit lagi, yaitu dengan:
1. memasukkan faham nasionalisme (pembelaan dan perjuangan yang sebatas daerah atau ras asal).
2. menghapus bahasa Arab, tulisan Arab dan identitas Islam lainnya.
3. memberlakukan pendidikan dalam paradigma ilmu dan metodologi Barat.
4. menghapuskan hukum syari’at atau mengisolirnya ke perkara-perkara “pribadi”.
5. menguasai sektor ekonomi dengan melembagakan sistem ekonomi ribawi.
6. melalui media massa melakukan penyesatan informasi serta
pengalihan perhatian masyarakat terutama generasi muda ke hal-hal sepele (sport, musik, narkoba, …).
7. pengembangan aliran Islam yang menyimpang beserta promosi para tokoh-tokohnya.
8. [tinggal panen:] kristenisasi


Cara mengatasi kendala-kendala tersebut

Kita harus memulai dari diri kita masing-masing, menciptakan lingkungan yang terbaik untuk anak-anak kita, mulai dari rumah kita dan masjid kita, sebagai sentra pemerdekaan ummat. Masjid memiliki fungsi ritual, intelektual, sosial, bahkan bisa pula komersial. Kemudian:

• Memberdayakan ummat dengan membekali mereka dengan pemikiran-pemikiran Islam serta wawasan perkembangan isu-isu global (politik internasional, sains & teknologi, lingkungan hidup, …).

• Bergabung dengan klub-klub dakwah yang berjuang untuk menghidupkan Islam dan kaum muslimin

• Membentuk jaringan gerakan pemerdekaan ummat secara internasional.
    


* * *


Referensi
Endang Saifuddin Anshari: Wawasan Islam. CV.Rajawali, Jakarta, 1986.
Hafiz Abdurrahman: Islam, Politik dan Spiritual. Lisan Ul Haq, Singapore, 1998.
Muhammad Sayyid Al-Wakil: Wajah Dunia Islam dari Dinasi Bani Umayyah hingga Imperialisme Modern. Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 1998.

(Ibnu Khaldun Aljabari, 6 Agustus 2008)

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *