Sirah Dalam Timbangan Al-Qur’an

“Akhi-Ukti, Akang Teteh, Baraya Saparakanca….Tinggal hitungan Hari kita akan diundang ke Majelis Ramadhan. Mari kita perkuat intensitas doa “Allahumma baariklana fii Rajaaba wa Sya’ban wa balighna Ramadhan” dan mari kita perkuat kembali Tsaqafah Islam kita untuk menyongsong Syahrul Qur’an 1429 Hijriyyah. Mari Bangkit dengan Al-Qur’an!”

Sahabat-sahabat pembaca bisa menemukan tulisan di atas di Mading Masjid Nurul Huda Ledeng. Bandung. Tulisan tausyiah sekaligus goresan kerinduan dari seorang muslim, ia tidak hanya ingin dirinya yang merasakan rindu tuk sampai ke bilik Ramadhan, namun ia berharap pula kaum muslimin pun kasimbeuh kerinduan yang sama untuk memasuki Syahrul Qur’an yang suci nanti.

Doa, Tsaqafah, dan bangkit saya kira mempunyai korelasi positif. Saya sangat senang membaca pamplet tersebut. Doa adalah aktifitas pribadi dengan Allah swt untuk mensupport tsaqafah dan bangkit. tsaqafah merupakan bekal dalam berdoa dan bensin untuk bangkit. (Tsaqafah = berinteraksi dengan pemikir islam (ulama). Adapun bangkit adalah doa dan upaya kolektivitas dari umat muslim yang tercerahkan -dengan tsaqafah Islam- untuk keluar dari keterpurukan saat ini menuju kemerdekaan Hakiki (baca : Kemerdekaan dalam perspektif Islam). Saya ketengahkan kali ini tsaqafah untuk kebangkitan kaum muslimin.”Sirah dalam Timbangan Alqur’an” Selamat menikmati !

Mu’jizat yang diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw dan menjadi petunjuk bagi manusia untuk mendapatkan kebahagian di di dunia dan akhirat adalah Al-Qur’an.

Dan telah kami turunkan al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk, rahmat, serta kabar gembira bagi orang-orang Islam. (TQS. an-Nahl : 89)

Membaca Al Quran dinilai sebagai ibadah, baik yang membacanya dengan tergagap-gagap- sedang belajar- apalagi yang sudah mahir qiraahnya. Al Quran –yang mempunyai tujuh macam bacaan (qiraat sab’ah) dengan seisinya telah sampai kepada kita melalui sumber yang mutawatir. Adapun yang diriwayatkan secara ahad (tidak mutawatir), seperti mushaf Ibnu Mas’ud maupun yang lain, tidak dianggap sebagai Quran dan tidak digunakan sebagai hujah (sumber hukum).
    
Al Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad secara terpisah-pisah selama 23 tahun. Terkadang ayat-ayat Al Quran turun dalam selang waktu yang berturutan (setiap hari). Terkadang pula turun dalam tempo yang berjauhan. Hal itu mempunyai tujuan khusus, yaitu untuk menetapkan dan memantapkan hati Rasulullah saw dalam mengemban dakwah, membacakannya kepada manusia dengan tenang dan pelan-pelan sehingga mudah dihafalkan, dan agar Al Quran turun sesuai dengan peristiwa yang terjadi atau sebagai jawaban dari pertanyaan masyarakat pada waktu itu.
    
Sejak masa Nabi SAW hingga hari ini Al Quran masih tetap dijadikan obyek pehatian, pemeliharaan dan sumber inspirasi kaum muslimin karena keberadaan Al Quran sebagai kalam Allah yang merupakan sumber hukum pertama bagi kehidupan kaum muslimin sepanjang masa. Kaum muslimin telah mengarahkan perhatian pula kepada As Sunnah termasuk Sirah Nabawwiyah sebagai sumber hukum kedua bagi kaum muslimin setelah Kitabullah.
    
Dimasa sekarang kaum muslimin telah merindukan kembalinya kekuasaan Islam. Mereka telah haus akan kehidupan dibawah naungan negara (khilafah) Islam. Dan mereka telah rindu untuk menjadi ummat yang terbesar dan mempunyai pemerintahan (Khilafah) yang menempati posisi sebagai negara nomor satu di dunia. Oleh karena itu, alangkah baiknya mereka benar-benar memahami sirah Rasul secara Tasri’iy (dalam konteks pengambilan hukum), bukan karena secara tarikh (Uraian historis semata).

Hal itu bisa dicapai dengan menghubungkan antara marhalah (tahapan-tahapan) dakwah yang telah diselesaikan dengan baik oleh Rasulullah SAW dengan ayat-ayat yang diturunkan pada setiap marhalah, sehingga dapat diketahui masalah-masalah yang pernah dihadapi atau digeluti Rasulullah SAW dan ide apa yang telah dijelaskan beliau kepada masyarakat. Dengan kata lain Sirah Nabi harus dipahami berdasarkan tinjauan Al Quran Al Karim. Dalam hal ini kaum muslimin harus memperhatikan Al Quran sebagai sebuah kitab sekaligus sebagai Manhaj (jalan dakwah) yang ditempuh oleh Rasulullah SAW dan juga sebagai metode yang tiada bandingnya yang wajib diikuti didalam mendirikan masyarakat Islam, mewujudkan kekuasaan Islam, dan mengemnbalikan ke dalam realitas kehidupan.

Para Ulama telah membahas dan menemukan ribuan topik yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan dan informasi yang terkandung dalam Al Quran. Hanya saja mereka tidak mengangkat permasalahan ini (menghubungkan sirah dengan Al Quran) dengan perhatian yang besar, sebab yang mereka bahas dari Al Quran adalah perkara-perkara kontemporer, bukan masalah yang telah berlalu atau selesai (seperti upaya yang ditempuh oleh Rasul dalam mendirikan negara dan menyebarkan risalah Islam). Tak seorangpun dari mereka pernah membayangkan bahwa negara khilafah yang kekuasaannya meliputi sebagian besar dunia saat ini akan lenyap; dan akan menjadi tanggung jawab serta kewajiban kaum muslimin untuk mendirikannya kembali.



Benar, tak seorangpun di antara para ulama terdahulu yang membayangkan bahwa bencana yang sangat besar itu akan menimpa kaum muslimin. Oleh karena itu, pembahasan seperti ini belum mendorong para ulama untuk menulis dan mengungkapkannya. Yang harus dilakukan sekarang adalah menghubungkan sirah Nabi Saw dengan ayat-ayat Al Quran yang pernah diturunkan kepada Rasulullah Saw. Beliau telah bergumul dengan realita yang terjadi dan menjawab setiap tantangan dengan ayat-ayat yang turun kepada Beliau Saw. Sehingga Rasulullah Saw mampu merealisasikan keberhasilannya dalam dakwah dengan keberhasilan yang luar biasa.

Sekarang, setelah lenyapnya daulah Islamiyyah, dan negara-negara kafir telah mendominasi negeri-negeri kaum muslimin, membaginya menjadi lebih dari 50 negara, dan memaksakan pengaruh mereka dalam bidang kebudayaan, politik, ekonomi dan militer kepada negara-negara tersebut, maka perkara yang paling wajib bagi para pengemban dakwah (kaum muslimin) adalah kembali kepada Al Quran Al Karim untuk mengetahui jalan dakwah yang telah digariskan oleh Al Quran.

Berpegang teguh kepada metode yang pernah ditempuh Rasulullah SAW dalam mengemban dakwahnya serta marhalah yang beliau jalani sehingga terwujudnya keberhasilan dakwah. Pada masa kini dakwah wajib diemban secara regional maupun Internasional berdasarkan metode yang pernah ditempuh Rasulullah di Makkah, Thaif maupun Madinah. Juga, dakwah harus disampaikan berdasarkan pola pikir maupun pola politik praktis dan sesuai dengan yang dilakukan oleh Rasulullah.

Dengan merujuk kepada asbabun nuzull sebab-sebab turunnya ayat urutan-urutannya dalam hal ini banyak karya para ulama yang membahasnya kita tidak bisa menemukan pemecahan-pemecahan masalah yang dituntut oleh dakwah dan dapat menemukan pemikiran dan persepsi yang diperlukan berdasarkan marhalah yang telah dicapai; baik marhalah at-tasqif wa at-takwin (tahap pembinaan dan pembentukkan kader), marhalah at-tafa’ul wa al-kifah (tahap interaksi dan perjuangan). Maupun marhalah iqomatu ad-daulah wa nasyru al-Islam fil ‘alam (pendirian daulah dan penyebaran Islam ke seluruh dunia).

* * *
(Ibnu Khaldun Aljabari , 12 Agustus 2008)

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *