Akhlaq Ramadhan

Ramadhan tak sekadar bulan berpuasa, namun juga merupakan bulan penyembuh ruhani. Inilah bulan ketika orang-orang beriman memperbaharui perjanjian mereka dengan Sang Pencipta. Bulan di mana manusia berlomba untuk menyiapkan bekal untuk kehidupan berikutnya, yakni kehidupan akhirat. Namun, bagaimanakah caranya memelihara ruhani tersebut agar tidak kembali sakit dalam sebelas bulan lainnya?
Untuk memelihara dan menjaganya, ada beberapa hal pokok yang dapat dilakukan, yaitu dengan hal-hal berikut.

Menjaga Hati

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya di dalam jasad ada gumpalan, jika gumpalan itu baik maka seluruh jasad menjadi baik, dan apabila gumpalan itu rusak maka seluruh jasad juga rusak. Ketahuilah bahwa gumpalan itu adalah hati.”

Kualitas iman seorang manusia selalu mengalami fluktuatif. Pasang surut ini terjadinya di dalam hati. Hati yang tadinya bersih bisa menjadi kotor dan berpenyakit. Di sinilah wajibnya selalu meneliti kondisi kesehatan hati melalui evaluasi terus-menerus agar tidak mendapati hatinya kesat dan lalai.

Dalam bukunya Benalu-benalu Kalbu, Haris Firdaus menyatakan bahwa untuk menjaga kebersihan hati, seyogianya setiap muslim mengetahui apa saja penyakit hati itu, sehingga dapat mengambil berbagai tindakan untuk menghindarinya atau setidaknya menguranginya.

Berikut sifat-sifat yang menjadi penyakit hati.
1. Takabur (sombong) ialah suatu sifat atau perilaku yang menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Ia menganggap dirinya yang paling hebat dan derajatnya lebih tinggi daripada orang lain. Pada dasarnya sifat sombong ini terbagi atas tiga bagian, (a) sombong terhadap Tuhan; (b) sombong terhadap Rasul dan kebenaran; dan (c) sombong terhadap manusia. Banyak hal yang bisa memunculkan kesombongan, yaitu ilmu, ibadah, nasab, rupa, kekayaan, kekuasaan, dan pengikut yang banyak.
2. Riya ialah menampakkan diri kepada orang lain supaya diketahui kehebatan, kebaikan, atau amal dengan tujuan mendapatkan pujian.
3. Ujub yaitu merasa bangga dan kagum kepada diri, golongan, atau kelompoknya. Adapun hal yang menimbulkan rasa ujub adalah rupa yang elok, kekuatan, kecerdasan, keturunan, jabatan, pengikut yang banyak, kekayaan, popularitas, dan golongan. Sifat ujub merupakan embrio dari tumbuhnya ketakaburan.
4. Dusta yaitu pernyataan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Makna dusta meliputi segala gerak manusia, baik ucapan maupun perbuatan, dan termasuk dosa yang sangat besar, terlebih lagi bila berdusta atas nama Allah dan Rasulnya.
5. Dengki dan hasud. Dengki ialah sikap tidak senang atas kenikmatan yang diperoleh orang lain dan berusaha menghilangkan kenikmatan tersebut, baik dengan maksud agar kenikmatan itu berpindah ke tangannya atau tidak, sedangkan hasud adalah sifat yang dimiliki seseorang yang selalu menginginkan hilangnya kenikmatan orang lain, baik hasilnya dimaksudkan kembali kepadanya atau tidak.
6. Kikir ialah awas ketinggalan

Selain menyebutkan penyakit-penyakit hati, Haris memberikan pula penawarnya, yaitu: (1) menyimak ayat-ayat Al Quran; (2) memperbanyak zikir; (3) melihat uban di kepala (mengingat kematian); (4) banyak berdoa; dan (5) menyantuni fakir miskin dan anak yatim.

Imam Al Ghazali dalam Sa’id Hawwa menyebutkan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjaga kesucian hati dan menghindari aib yang akan menghinggapi hati kita, yaitu:
1. Meminta nasihat seorang guru yang memahami berbagai aib jiwa dan jeli terhadap berbagai cacat yang tersembunyi. Pintalah guru tersebut memberitahukan berbagai aib diri dan apa saja jalan terapinya.
2. Meminta kepada seorang kawan yang jujur, beragama, dan “tajam penglihatan” menjadi pengawas untuk memperhatikan berbagai keadaan dan perbuatannya, kemudian menunjukkan kepadanya berbagai akhlak tercela, perbuatan yang tidak baik dan aibnya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
3. Memanfaatkan lisan musuhnya untuk mengetahui aib dirinya, karena mata kebencian mengungkapkan segala keburukan. Seseorang bisa lebih banyak mengambil manfaat musuh yang menyebutkan aib-aibnya ketimbang manfaat dari kawan yang berbasa-basi dengan berbagai pujian tetapi menyembunyikan aib-aibnya. Sayangnya tabiat manusia cenderung mendustakan musuh dan menilai pernyataannya sebagai kedengkian. Padahal orang yang memiliki mata hati tidak akan mengabaikan manfaat yang dapat diperoleh dari pernyataan musuh-musuhnya, karena keburukan-keburukannya pasti akan tersebar melalui lisan mereka.
4. Bersosialisasi. Jika melihat hal yang tercela dalam masyarakatnya maka hendaklah nisbatkan pada dirinya karena hal yang memprihatinkan merupakan cermin orang mukmin. Kemudian lihatlah aib orang lain sebagai aibnya sendiri, dan ketahuilah bahwa tabiat manusia berbeda-beda tingkatan dalam mengikuti hawa nafsunya.

Menjaga Lisan

Di antara perkataan manusia, ada yang buruk dan ada yang lebih buruk, ada yang keji dan ada yang lebih keji, ada yang baik dan ada yang lebih baik. Allah menganjurkan kita mengucapkan perkataan terakhir, yakni perkataan yang lebih baik.

Renungkanlah penggalan hikmah di atas. Perhatikanlah keadaan kebanyakan manusia di mana perkataan mereka masih berada di dalam kategori ‘yang buruk’ dan ‘lebih buruk’ atau ‘yang keji’ dan ‘lebih keji’ atau bahkan tidak dua-duanya, yakni perkataan sia-sia atau ‘mubah’. Jarang sekali orang yang bisa meningkatkan ibadahnya ke kategori ‘lebih baik’. Padahal perkataan ‘yang baik’ saja masih bisa memberi peluang kepada setan dan menimbulkan perselisihan.

Ibnu Al-Azraq dengan kitabnya Bada’i’ as-Salik mencoba menghitung kewajiban lisan, hasilnya ia mendapatkan lebih dari 50 buah kewajiban seorang manusia terhadap lisannya, di antaranya ialah: berkata jujur, amar makruf, nahyi munkar, berkata baik, mengecam orang yang menyesatkan, membaca bacaan shalat, tilawah Al Quran, zikir, berkata tegas karena Allah, memohon perlindungan kepada Allah ketika menghadapi godaan setan, menunaikan kalimat Allah, menunaikan kesaksian, mendamaikan di antara manusia, menjawab salam, dll.

Selanjutnya Ibnu Al-Azra menghitung larangan-larangan lisan, lebih dari 65 buah larangan lisan ia temukan. Hal ini tak jauh berbeda dari temuan Imam Al Ghazali yang diringkas Sa’id Hawwa dalam bukunya Mensucikan Jiwa. Imam Al Ghazali menyebutkan setidaknya ada duapuluh penyakit lisan, di antaranya: pembicaraan yang tidak berguna, berlebihan dalam berbicara, melibatkan diri dalam pembicaraan yang batil, perbantahan dan perdebatan, kefasikan, berkata keji, jorok, dan cacian, melaknati, senda gurau, ejekan dan cemoohan, menyebarkan rahasia, janji palsu, berdusta dalam perkataan sumpah, menggunjing (ghibah), menghasut (namimah), dan sanjungan.

Rasulullah saw. bersabda, “Simpanlah lisanmu kecuali untuk kebaikan karena sesungguhnya dengan demikian kamu dapat mengalahkan setan.” (H.R. Thabrani dan Hibban). Hadis di atas menyiratkan bahwa bahaya lisan sangat besar dan tak ada seorang pun yang dapat selamat daripadanya kecuali dengan perkataan yang baik, atau kalau tidak mampu maka hendaknya ia diam.

Keutamaan diam diakibatkan oleh banyaknya penyakit lisan di atas. Ketahuilah bahwa penyakit-penyakit ini sangat mudah dan ringan meluncur dari lidah, terasa manis di dalam hati, bahkan orang yang melibatkan diri di dalamnya jarang sekali mampu menahan lidahnya. Keterlibatan dalam berbagai penyakit lisan ini sangat berbahaya. Diam merupakan jalan keselamatan, oleh sebab itu keutamaan diam sangatlah besar. Di samping dalam diam itu terkandung kewibawaan, konsentrasi, zikir, dan ibadah, di dalamnya juga terkandung berbagai tanggung jawab perkataan di dunia dan hisabnya di akhirat.

Menjaga Perbuatan

Kebersihan hati dan lisan tercermin dalam perilaku dan perbuatan. Jika hati dan lisannya baik, maka akan baik pula seluruh perbuatannya, sebaliknya jika hati dan lisannya buruk, maka akan buruk pula seluruh perbuatannya. Keburukan sekecil apa pun, meski sebesar dzarrah, Allah akan membalasnya dengan balasan yang setimpal. Sebaliknya, kebaikan secuil apa pun, meski sebutir atom, Dia tidak akan pernah lalai memberikan ganjarannya.

Al Quran dan hadis telah banyak mengungkapkan perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukan orang-orang sebelum kita, di antaranya: memakan, membayar, dan atau menjadi saksi transaksi riba; mencuri; menawarkan dan atau meminum minuman keras; laki-laki atau perempuan yang meniru lawan jenis (baik dalam tindakan maupun penampilan); berzina; menipu; memfitnah; menyuap dan disuap; berkhianat; memutuskan silaturahmi; menganiaya; bersengketa; mengadu domba; dan membunuh. Selain itu Al Quran dan hadis memberikan pula kabar gembira bagi hamba-hamba yang tetap memelihara dirinya dalam koridor kebenaran dengan perbuatan-perbuatan terpuji, di antaranya: menghormati orang tua; menyambungkan silaturahmi; bershadaqah; dan mendamaikan perseteruan.

Balasan atas perbuatan manusia ini tak hanya terjadi di akhirat saja, melainkan juga dapat terjadi di dunia. Kita telah banyak mendengar ataupun menyaksikan kisah orang-orang hebat yang memperoleh kebahagiaan dari ketulusannya, pun tak sekali dua kita menyaksikan sejarah bencana dan derita yang menimpa orang-orang durhaka yang telah melakukan dosa yang teramat besar.

Maulana Asyraf Ali Tsanwi dalam bukunya Pahala dan Azab atas Perbuatan Manusia membuktikannya dengan menyebutkan riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa sedekah bisa menolak bala, bahwa banyak silaturahmi bisa memperpanjang usia, dan bahwa zina bisa mempercepat kebinasaan. Ini, setidaknya, menyiratkan bahwa implikasi amal perbuatan kita, entah yang baik atau yang buruk, tak hanya akan kita dapatkan di akhirat, tetapi juga di dunia ini. Karenanya, untuk memelihara keimanan kita dalam sebelas bulan pasca Ramadhan, hindarilah perbuatan-perbuatan yang akan menggelincirkan kita pada kemaksiatan, hindarkan aktivitas yang dalam jangka panjang akibatnya sangat merugikan, yang sangat tidak sebanding dengan kenikmatannya yang hanya sementara.

Cara menjaga kebersihan hati, lisan, dan perbuatan

Imam Al Ghazali menyebutkan ada banyak amal yang dapat menjaga kebersihan hati, lisan, dan perbuatan kita, di antaranya:
– Menyegerakan ibadah wajib
– Memperbanyak ibadah sunah
– Memperbanyak zikir
– Tilawah Al Quran, {sepuluh amalan tilawah Al Quran, yaitu: (a) memahami keagungan dan firman Allah; (b) mengagungkan Allah; (c) kehadiran hati dan meninggalkan bisikan jiwa; (d) tadabbur; (e) tafahhum (memahami secara mendalam); (f) meninggalkan hal-hal yang dapat menghalangi pemahaman; (g) takhshish (menyadari diri sebagai sasaran yang dituju setiap nash dalam Al Quran; (h) ta’atstsur (mengimbas ke dalam hati); (i) taraqqi (meningkatkan pemahaman); dan (j) tabarriy (melepaskan diri dari daya dan kekuatannya dan memandang kepada dirinya dengan pandangan rido dan tazkiyah)}.
– Bergaul dalam lingkungan yang kondusif
– Mengingat kematian dan pendek angan-angan
– Menghindari Riya’
– Menghindari jalan masuk setan, di antaranya dengan menghindari marah dan syahwat, tidak dengki dan tamak, tidak kenyang dengan makanan sekalipun halal dan bersih, tidak terburu-buru tanpa mengonfirmasi persoalan, tidak mengumpul-kumpulkan segala macam harta kekayaan, tidak bakhil dan takut miskin, tidak fanatik terhadap mazhab dan hawa nafsu, tidak mendengki lawan dan melecehkannya, tidak buruk sangka terhadap kaum muslim, tidak mengikuti hawa nafsu, tidak sombong, tidak cinta kedudukan dan kepemimpinan, tidak musyrik dan riya’, dan tidak dengki.

Tidak ada yang patut diharapkan, tidak ada yang patut dituju, tidak ada yang dicintai di dunia dan di akhirat kecuali Allah. Jika seberat dzarrah dari segala amal selain mencintai Allah memasuki kalbu, maka seluruh ibadah menjadi rusak. Karena itu bersihkanlah kembali niat dan tekad dengan hati, lisan, dan perbuatan untuk kemudian kembali lagi kepada Sang Maha Pencinta, Allah swt.

Dini, dari berbagai sumber
MaPI 12/2005
Humas PI

Humas PI

PERCIKAN IMAN ONLINE DIGITAL - Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *