Mudik Ilahiyah

Hari Raya Idul Fitri telah menjadi suatu momen mudik nasional bagi sebagian besar masyarakat muslim di Indonesia. Cukup unik memang, karena hal itu tidak terjadi di negara-negara mana pun di dunia, bahkan di negara-negara yang berlabel Islam sekalipun.
Hari Raya Idul Fitri telah menjadi suatu momen mudik nasional bagi sebagian besar masyarakat muslim di Indonesia. Cukup unik memang, karena hal itu tidak terjadi di negara-negara mana pun di dunia, bahkan di negara-negara yang berlabel Islam sekalipun. Bagi mereka yang biasa melaksanakan mudik, rasanya akan ada sesuatu yang hilang atau mengganjal dalam hati dan perasaan apabila tidak melakukan mudik di hari Lebaran.



Mudik, sebagai sebuah tradisi sosial yang beririsan dengan momen ritual keagamaan, ternyata juga menjadi suatu hal yang melibatkan aspek-aspek multidimensional kehidupan kemasyarakatan dan bahkan pemerintahan. Lihat saja, bagaimana pemerintah sibuk dan seriusnya mengurusi masalah transportasi ketika momen ‘hajatan’ nasional itu tiba. Belum lagi, aparat keamanan yang juga turut terlibat dan bertanggung jawab di dalamnya. Para pedagang dan masyarakat umum di sepanjang jalur mudik juga tak kalah ikut berpartisipasi dalam prosesi budaya yang berlangsung secara massal dan alami ini.

Mudik, yang berarti pulang kampung, memang akan membawa setiap pelakunya pada kondisi lepas dan terbebas dari kerinduan yang membuncah. Saat bertemu dengan orang tua, saudara, keluarga, atau orang-orang terdekat yang kita cintai tentu merupakan sebuah kebahagiaan yang sungguh sangat mengharukan. Tak jarang tetes air mata pun mewarnai momen-momen yang jarang terjadi tersebut. Walhasil, mereka akan merasakan kesegaran dan semangat baru untuk menjalani hidup dan kehidupan ke depan.

Mudik sebagai sebuah tradisi sosial yang berkaitan dengan dimensi fisik dan emosional memang sudah sering kita lakukan. Namun semestinya pula kita mulai menyelami mudik secara hakiki yang berkaitan dengan dimensi spiritual; memudikkan hati dan jiwa kita kepada sang Maha Pencipta. Dengan melakukan mudik seperti itu, kita akan mendapatkan kesegaran jiwa dalam balutan fitrah yang tanpa noda.

Orang yang melaksanakan ibadah haji merupakan salah satu gambaran mudik secara spitritual, yang juga sekaligus melibatkan aspek fisik dan emosional. Dalam prosesi itu, orang yang bersungguh-sungguh menjalaninya akan merasakan kedekatan dengan sumber kerinduan yang selama ini telah diaktualisasikan dalam skala yang lebih kecil yang berkaitan dengan orang-orang terdekat yang kita cintai. Adapun di skala yang lebih besar, kerinduan itu berkaitan dengan kerinduan kepada Sang Pencipta. Tak heran, setiap orang yang sudah mengunjungi Baitullah, baik dalam ibadah haji atau umroh, akan tetap merasakan kerinduan untuk kembali lagi ke sana.

Mentransformasikan pemaknaan mudik dari yang sekadar bersifat fisik dan emosi menuju yang bersifat hakiki atau spiritual, merupakan salah satu usaha yang patut dilakukan oleh setiap insan muslim. Hal tersebut merupakan sebuah persiapan kita untuk menuju mudik yang sebenar-benarnya, yaitu kembali kepada Tuhan Sang Pencipta Semesta.

Sumber : MaPI (Majalah Percikan Iman)

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *