Tantangan Modernitas Islam

Para futurolog (ahli masa depan) memprediksi bahwa masa depan yang akan dihadapi manusia adalah masa kejayaan teknologi komunikasi.

Prediksi ini didasari oleh realita saat ini, ketika kemajuan teknologi bidang mikrochip, komputer, dan satelit cukup dominan. Tiga bidang teknologi inilah yang akan memacu revolusi komunikasi dan informasi, sebagaimana dinyatakan DeFleur & Dennis bahwa Technological invention and innovation that included the development of the microchip, the sattelite and the computer caused the communication revolution. (DeFleur & Dennis 1985: 76).

Revolusi informasi tidak datang begitu saja, tapi ada yang mengawalinya, yaitu revolusi bidang teknologi. Atau dengan kata lain, revolusi informasi tidak bisa dipisahkan dengan kemajuan pesat di bidang teknologi (revolusi teknologi).

Lalu, siapakah para penguasa teknologi saat ini? Menurut UNESCO (dalam Science, Technology, and Developing Countries), Amerika serikat menumbuhkan dan menggenggam hampir sepertiga dari seluruh karya riset dan pengembangan. Sepertiga lagi dikembangkan dan digenggam oleh Eropa Barat dan Jepang, dan hampir sepertiga selebihnya oleh Rusia.

Belum ada satupun negara muslim yang dijadikan kiblat dalam bidang iptek karena porsi kepemilikan risetnya hanya sekitar tiga persen saja dari seluruh hasil riset yang dikembangkan di dunia ini. Mungkin baru Iran dan Pakistan yang sudah mulai mendalami iptek tingkat tinggi yakni teknologi nuklir untuk energi masa depan dengan bermacam kontroversinya.



Konsekuensinya, kemajuan bidang teknologi dengan segala konsekuensinya, termasuk di dalamnya revolusi informasi akan mencerminkan para penguasa teknologi itu sendiri, yaitu bercirikan sekuler (nilai-nilai transendental terlepas dari kehidupan duniawi). Secara garis besar, sikap umat Islam dalam menghadapi tantangan modernitas terbagi pada tiga kelompok,

1. Sikap distopistik, yaitu orang yang lari dari kenyataan, apatis, pesimis menghadapi tantangan bahkan cenderung mengharamkan kemajuan iptek..
2. Sikap utopistik, yaitu orang yang memiliki optimisme yang berlebihan. Ia berkeyakinan bahwa hanya kemodernan yang bisa menyelesaikan segala masalah. Sikapnya cenderung sekuler.
3. Sikap moderat, yaitu orang mampu melihat persoalan secara utuh dan komprihensip . Sikapnya sangat terbuka dengan kemajuan iptek (modernitas) tapi tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama (ketauhidan).

Sikap ketiga adalah sikap yang paling ideal. Karena didukung oleh beberapa isyarat Al Qur’an bahwa kaum muslimin, baik laki-laki ataupun perempuan, dinobatkan sebagai khalifah fil ardh (yang mengatur bahkan sebagai decision maker demi kemaslahatan dunia). Untuk bisa melaksanakan kekhalifahan secara mapan, modal utamanya adalah ilmu, hal ini tercermin ketika Allah swt. berfirman kepada para malaikat bahwa Dia akan menjadikan Adam dan keturunannya (manusia) sebagai khalifah. Yang diperlihatkan kepada para malaikat untuk menduduki jabatan khalifah fil ardh adalah penguasaan ilmu. (lihat Q.S. Al Baqarah: 30-33).

Penguasaan ilmu merupakan kunci kesuksesan sebagai khalifah fil ardh. Kemudian terlihat pula dalam ayat yang pertama kali diterima Rasulullah saw., yaitu lima ayat dari surat Al ‘Alaq. Ayat-ayat tersebut menyentuh masalah yang paling essensial dari potensi manusia, yaitu akal dan batin (fikir dan dzikir), juga disebutkan perangkatnya, yaitu iqra (baca, riset, teliti), ‘allama (mengajarkan/transfer ilmu), dan qalam (alat tulis/alat penyimpan data/memori).

Kalau ayat-ayat Al Qur’an ditelusuri secara seksama, bisa ditemukan bahwa pengembangan dan pengoptimalan intelektual yang berwawasan tauhid sangat mewarnai pesan-pesan Al Qur’an. Ini terbukti misalnya dengan disebutkannya kata ilmu dengan berbagai pecahannya sebanyak 780 kali. Allah swt. mengangkat derajat orang yang berilmu dan beriman (Q.S. 58: 11). Kemudian, yang paling takut pada Allah adalah orang-orang yang berilmu (Q.S. 35: 28).

Berbekal ruh inilah, kemudian kaum muslimin generasi awal membangun fondasi peradaban untuk bisa mandiri. Karena kemandirian merupakan suatu keniscayaan untuk bisa melaksanakan ajaran Islam secara utuh (Q.S. 4; 141). Akhirnya, fakta historis menunjukkkan bahwa dengan semangat Qur’ani, selama beberapa abad para ulama dan saintis muslim menjadi pelopor ilmu, pembawa obor pengetahuan, bahkan karya-karya mereka dijadikan texbook atau handbook di Eropa selama beberapa abad, sehingga kaum muslimin benar-benar menduduki jabatan khalifah fil ardh. Mampukah kita mengulangi kesuksesan ini ?


Insya Allah.

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *