Fenomena Perdukunan Cap Indonesia

Dukun adalah orang yang mengobati, menolong orang sakit, memberi jampi-jampi (mantra, guna-guna, dsb)…(pusatbahasa.diknas.go.id)

Dalam bahasa Arab, dukun biasa diistilahkan dengan kahin, ‘arraf, munajjim atau sahir (tukang sihir), yaitu orang yang mengaku mengetahui perkara gaib, menebak isi hati, membaca pikiran, nasib, masa depan, jodoh, orang hilang, benda hilang, dengan cara melihat bintang, telapak tangan, garis-garis dan sebagainya, atau orang yang bekerjasama dengan jin dalam mencelakakan korban, memisahkan suami dengan istrinya atau menjadikan mereka akur kembali. Dan sekarang mereka dikenal juga dengan istilah paranormal, magician, Ilusionis, “orang pintar” dan sebagainya.

Berkenaan dengan hal ini, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam telah menerangkan salah satu rambu untuk menjaga keutuhan Islam seseorang, pada sabdanya beliau berkata,

“Barangsiapa mendatangi arraf (dukun) dan bertanya kepadanya akan sesuatu, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam.” (HR. Muslim dari sebagaian istri-istri Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam)
Dan riwayat yang lain,


“Barangsiapa mendatangi kahin atau arraf (dukun) dan dia membenarkan ucapannya maka dia telah kufur terhadap yang diturunkan kepada Muhammad (Al Qur’an)” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah r.a)

Kedua hadts di atas memuat ancaman Nabi SAW terhadap dua jenis golongan manusia. Yang pertama, mereka yang datang kepada dukun/paranormal sebatas untuk bertanya. Dan yang kedua, mereka yang datang, bertanya, dan percaya. Masing-masing keadaan ini deberitakan baginda Rasulullah SAW dalam redaksi yang berbeda dan dengan akibat yang berbeda pula.

Adapun yang pertama, Rasulullah SAW mengancam dengan ancaman, “tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam”.
Al Imam An-Nawawi Rahimahullah menjelaskan; Adapun tidak diterimanya shalat (orang yang bertanya kepada dukun selama empat puluh malam), artinya tidak ada pahala untuk dia, meskipun shalat yang dilakukannya dianggap sah dan tunai kewajibannya dan tidak perlu baginya mengulangi shalatnya. (Syarah Shahih Muslim)

Dan golongan yang kedua, “maka dia telah kufur terhadap yang diturunkan kepada Muhammad”. Dan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah Al Qur’an dan kufur terhadap Al Qur’an, berarti keluar dari Islam atau murtad.

Apabila kita memperhatikan fenomena di tanah air, perdukunan dan paranormal bukanlah barang haram yang harus dijauhi. Lihat saja berapa banyak iklan-iklan praktek perdukunan dan usaha-usaha klenik di koran-koran, majalah-majalah yang beredar. Praktek-praktek ini begitu laris manis di tengah-tengah masyarakat muslim yang menjadi pasien mereka.

Dan tengoklah lebih jauh lagi, kita akan dapati sederetan nama-nama populer dalam barisan dukun/paranormal yang berhasil menipu jutaan pemirsa ummat Islam melalui acara-acara penyesatan yang disponsori stasiun-stasiun televisi dan iklan-iklan, yang menawarkan solusi kehidupan.

Sebut saja seperti Mama Laurent yang katanya bisa membantu peruntungan, meramal masa depan, membaca pikiran, mengetahui isi hati, dan sebagainya. Belum lagi nama-nama beken lainnya seperti Deddy Corbuzier, Romi Raffael, ki Joko bodo dan yang lainnya.

Jelas ini merupakan realita yang menyedihkan. Bagaimana tidak, Indonesia yang merupakan negara berpenduduk muslim terbesar, ternyata merupakan ladang subur bagi penyebaran virus-virus kekufuran. Masyarakat tidak lagi bertindak rasional. Lihat saja kasus Ponari dengan “batu petir”-nya yang konon diyakini “sakti”. Bahkan produk “ponarisweat”-nya masih tetep laku 5000 per plastik sampai detik ini.

Begitu pula Dewi Sulistyowati dan entah siapa lagi yang bakal menyusul, telah menjadi fenomena berkat batu yang mereka temukan. Tapi yang lebih fenomenal dari itu semua adalah ribuan atau bahkan jutaan ummat manusia yang “tersihir” dan percaya terhadap eksistensi “batu petir” dalam proses penyembuhan.

Terlepas dari pernyataan para pasien yang mengaku sembuh setelah meminum air celupan batu tersebut dan terlepas dari sibuknya para dokter yang menyatakan bahwa itu hanya disebabkan faktor sugesti, yang diakui dunia medis sebagai salah satu faktor penyembuhan juga. Saat ini batu-batu tersebut telah menjerumuskan ummat kepada kesyirikan kepada Allah SWT. Karena mereka yang mengakui eksistensi batu tersebut dalam proses penyembuhan.

Fenomena Ponari adalah indikator pemerintah yang tak tanggap menangani krisis yang terjadi di tengah masyarakat. Ada ketidakpastian yang mneingkat dalam masyarakat kita sekarang ini. Setiap tahun, masyarakat menengah ke bawah merasakan hidup semakin tidak jelas. Begitu juga masa depannya. Hati-hati, ini tanda atau isyarat bahwa masyarakat kita sedang bingung. Sebagai muslim yang baik, kita harus peka bahwa ini adalah fenomena yang berbahaya dan menyimpang.

Untuk bisa melepaskan hal-hal yang irasional, ada beberapa kemungkinan yang bisa mengatasi krisis ini, yakni meningkatnya taraf hidup, sehingga masyarakat punya kemampuan untuk berobat dan menyisihkan uang setiap bulannya untuk tabungan kesehatan bagi keluarganya. Ini harus dibarengi dengan meningkatnya tingkat pendidikan dan kualitas dalam beragama.

Dalam Islam, kefakiran akan mendatangkan kekufuran. Sebab itu, pemerintah harus buka mata dan telinga. Kasus Ponari bukan sekadar persoalan dukun yang dipercayai, tapi menjadi problem sosial yang kompleks dan perlu penanganan serius.

Fenomena Ponari adalah bahaya yang dapat mengancam akidah. Inilah prioritas dakwah kita semua.

Bagi yang telah merasa capek berdakwah..mulai dan lulailah lagi..galakkan dakwah..amar makruf dan nahi mungkar tentunya!


Sumber :
–    “Muslim Indonesia di Persimpangan Jalan (1) dan (2)” by Ust. Jafar Salih
–    Majalah Sabili No. 17 TH.XVI 12 Maret 2009/15 Rabiul Awal 1430 H


Penulis : Teh Emilia


Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *