Bolehkah Merinci Aib Orang Lain?

Fatimah binti Qais pernah meminta penialaian kepada Nabi saw. tentang dua orang laki-laki yang akan melamarnya. Nabi saw. menjawab, “Sesungguhnya laki-laki yang pertama sangat miskin dan tidak mempunyai pekerjaan. Sedangkan laki-laki kedua, sering memukul perempuan.”

Bertolak dari kasus ini cukup jelas bahwa kita tidak dilarang menyebutkan aib orang lain dengan niat supaya tidak timbul korban berikutnya. Kalau kita pernah ditipu oleh A, lalu B bertanya kepada kita tentang perilaku A, maka tidak berdosa kita bicara apa adanya tentang penipuan yang pernah dilakukan A.

Wallahu A’lam

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *