Kesadaran Politik Berawal dari Keluarga

Politik secara sempit sering diartikan sebagai kekuasaan. Dunia politik sering dipandang sebagai dunia yang ‘kotor’, karena adanya persaingan untuk berebut kekuasaan, apalagi ditambah adanya intrik-intrik yang dilakukan oleh pelaku di dalamnya, untuk menjatuhkan pelaku lainnya. Intrik-intrik kotor tersebut (yang menyebabkan dunia politik dipandang sebagai dunia yang kotor) seharusnya dinilai sebagai penyimpangan dan bukan dipandang sebagai dunia politik itu sendiri.

Untuk mendefinisikan politik, kita bisa melakukannya dengan melihat fungsi kekuasaan (yang sebenarnya, yang seharusnya dilakukan oleh sebuah kekuasaan) yaitu melakukan pemenuhan setiap kebutuhan rakyat. Karenanya kita bisa, bahkan seharusnya, mengartikan politik sebagai aktivitas pemenuhan setiap urusan umat, baik itu pendidikan, ekonomi, sosial, keamanan, pertahanan dan ‘politik’. Dengan melihat politik dalam pengertian ini, setiap kita, kaum muslimin pada dasarnya (dan seharusnya) adalah seorang politisi, yaitu orang yang memiliki sense of crisis terhadap semua kejadian di lingkungannya.

Saat ini, ketika kaum muslimin dihadapkan terhadap fakta-fakta kehidupan yang semakin materialistis, sense of crisis umat sedikit demi sedikit terkikis dan hingga saat ini menjadi sangat tipis. Kesadaran politik umat, hanya muncul, ketika phisically arrested, tersiksa secara fisik, baik dalam bentuk pemukulan, penyerangan atau terganggunya urusan perut mereka. Kesadaran politik umat juga hanya terbatas dalam ruang-ruang batas formal (yang sebenarnya virtual/maya), hanya sebatas negara, propinsi, kecamatan bahkan RT. Ini berarti umat (kaum muslimin) harus dibangkitkan untuk kembali memiliki sense of crisis atau kesadaran politik itu.

Kesadaran, Pemikiran dan Akal

Usaha mewujudkan kesadaran politik umat menuntut kita untuk menjawab sebuah pertanyaan penting : KESADARAN itu apa? Karena kita tidak mungkin bisa mewujudkan kesadaran politik umat, jika tidak mengetahui apa yang dimaksud dan parameter apa saja yang bisa digunakan untuk mengukur kesadaran umat tersebut.

Wujud sebuah kesadaran adalah perilaku, yang juga merupakan buah dari pemikiran. Sehingga kesadaran bisa kita samakan dengan pemikiran, namun penggunaannya dalam lingkungan (context) yang berbeda. Keduanya merupakan bentuk penilaian terhadap suatu fakta dengan menggunakan suatu standar nilai. Jika kita katakan, sebagai contoh, kekalahan Megawati dalam pemilihan presiden yang lalu adalah karena tidak “cantiknya” FPDI-P dalam bermain lobi dan bersikap, maka pernyataan tersebut adalah pemikiran. Pernyataan tersebut juga merupakan bentuk kesadaran politik. Jadi antara kesadaran dan pemikiran bisa dianggap (dan seharusnya) sebagai sinonim.

Pemikiran adalah buah yang dihasilkan setelah melalui proses berpikir. Berpikir memerlukan fakta yang diamati, baik fakta terindera ataupun tidak terindera, tetapi bisa dirasakan (perasaan) melalui jalan-jalan yang terindera. Sebagai contoh pensil, kertas, buku dan benda fisik lainnya adalah fakta-fakta yang terindera. Sedangkan elektron, netron, proton, Allah, malaikat, syaitan, jin adalah fakta tak terindera namun bisa dirasakan melalui jalan-jalan yang terindera. Bagaimana kita berpikir bisa mencapai Allah padahal kita tidak mampu menjangkau Dzat-Nya?

Banyak ayat di dalam Al Qur’an yang menyatakan aktivitas berpikir untuk mengakui keberadaan dan kekuasaan Allah. Silih bergantinya siang dan malam, berbagai warna kulit kita, manusia yang berpasang-pasangan merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berpikir. Ini berarti untuk menjangkau keberadaan Allah, kita diperintahkan untuk memperhatikan alam sekitar kita. Setiap fakta yang terjangkau oleh akal manusia ternyata memiliki keterbatasan, termasuk akal kita sendiri. Di balik semua yang terbatas itu, dituntut adanya Sang Pencipta, dan bathil jika dikatakan mereka ada dengan sendirinya.
Itulah unsur pertama dalam berpikir, yaitu fakta yang terindera. Unsur kedua adalah indera itu sendiri yang digunakan untuk mencerap fakta. Tanpa adanya indera, baik itu karena cacat ataupun sengaja tidak digunakan, manusia tidak bisa melakukan kegiatan berpikir. Ambil contoh, tutup mata Anda ketika membaca tulisan ini dan cobalah membacanya. Bisa ? Saya yakin tidak, kecuali Anda memiliki indera keenam (sekali lagi, indera yang digunakan). Nah, itulah peran indera dalam proses berpikir, yaitu untuk mencerap fakta.
Jadi, sudah dua unsur yang kita temukan berperan dalam proses berpikir. Unsur ketiga adalah organ otak. Otak merupakan pusat pengolahan data (‘processing’) dari seluruh tubuh kita, baik itu data dari luar maupun dari dalam (lapar, haus, dingin dan sebagainya) tubuh kita. Peran otak dalam mengolah informasi disertai dengan kemampuan untuk menyimpan informasi (‘archieving’). Namun, kedua fungsi tersebut tidak berarti apa-apa jika otak tidak mampu melakukan merangkai fakta dengan informasi.
Dalam penjelasan tersebut, unsur keempat dalam poses berpikir bisa kita peroleh yaitu informasi sebelumnya, yaitu informasi yang berkaitan dengan fakta yang dicerap. Oleh karena itu, Islam menganjurkan kepada muslimin untuk selalu belajar, karena dengan belajar akan semakin banyak informasi yang diperoleh. Contoh mudah tentang informasi ini adalah jika kepada kita disodorkan buku yang ditulis dengan huruf Cina, apa yang bisa kita lakukan dengan buku tersebut, jika kita buta tentang aksara dan bahasa Cina ? “Bantal” merupakan fungsi terhormat bagi buku tersebut.
Jadi, unsur-unsur dalam proses berpikir bisa kita bagi kedalam dua unsur, yaitu internal dan eksternal. Unsur internal, Insya Allah dengan tercukupinya gizi, indera dan otak manusia tidak akan cacat. Namun untuk unsur eksternal, yaitu fakta dan khususnya informasi sebelumnya merupakan unsur yang sangat-sangat penting dalam usaha menumbuhkan pemikiran/kesadaran di kalangan umat.
Adanya kemampuan berpikir (memiliki akal) tersebut membedakan manusia dengan binatang, meskipun organ otak keduanya memiliki. Perbedaan antara manusia dan binatang dalam berpikir bisa dilihat, bahwa kuda tetap makan rumput dan tidak akan mengubah menu sarapannya, kecuali manusia mengubahnya dengan tepung gizi.

Pembekalan Informasi: Tugas Keluarga
Informasi tentang fakta dan informasi sebelumnya yang terkait dengan fakta haruslah diperoleh sebelum seseorang melakukan penyikapan terhadap sebuah fakta. Jika ada kesalahan pada salah satunya, maka orang tersebut akan salah dalam penyikapan atau dalam bertingkah laku. Lihat kembali sikap dan perilaku orang yang disodori buku beraksara Cina di atas. Jadi, informasi tentang fakta (saat ini) diperoleh, tidak bisa tidak, harus dengan mengamati atau mencari informasi tentang fakta, sedangkan informasi sebelumnya yang digunakan untuk penyikapan (penilaian) diperoleh dari pembekalan informasi yang pada akhirnya akan membentuk karakter seseorang.
Perlu diketahui, karakter seseorang tidak bisa dinilai dari cara berpakaian, aksesoris yang digunakan, cepat-lambatnya berjalan atau keras-lembutnya dalam berbicara. Namun karakter seseorang haruslah diukur dari ide-ide atau pemikiran-pemikiran yang diutarakannya dan perilakunya dalam menyikapi fakta di sekitarnya.
Oleh karena itu, pembekalan informasi merupakan fungsi yang paling penting yang dimiliki sebuah keluarga. Keluarga lah yang menjadi institusi pertama tempat manusia tumbuh. Keluarga merupakan lingkungan pertama dimana anak berinteraksi dengan orang lain, yang tentu saja akan menyikapi (menolak atau mencontoh) fakta/perilaku orang lain dalam keluarga. Karena itu, keluarga, terutama kaum ibu sangat berperan dalam membentuk maklumat (pengetahuan) awal bagi anak-anaknya.


Islam: Maklumat Awal dan Standar Nilai
Dalam kehidupan kaum muslimin saat ini, terlihat kesadaran umat yang sangat tipis, bahkan kabur. Penderitaan saudaranya (sesama muslim) di negara, di propinisi lain bahkan di kota lain tidak menjadi keprihatinan bagi sebagian besar kaum muslimin di Indonesia dan di seluruh dunia. Apalagi ditambah kesulitan hidup yang dialaminya (karena krisis ekonomi), sebagian besar kaum muslimin semakin kehilangan jati diri Islamnya dalam menyikapi fakta-fakta di sekitarnya. Karenanya, institusi keluarga kembali disuarakan untuk kembali menjadi lingkungan pembinaan anak, sehingga terbentuk generasi yang sadar dengan kondisi saudaranya, sesama muslim.
Keluarga, seperti dijelaskan di depan, sangat berperan sebagai benteng pertama dan terakhir dalam pembentukan jati diri (karakter) Islam pada diri anak. Pembentukan karakter diawali dengan pembentukan maklumat awal pada diri anak. Di sini muncul pertanyaan, maklumat apakah yang akan diberikan ?
Dalam proses berpikir yang sudah diberikan di depan, tanpa adanya informasi sebelumnya yang terkait dengan fakta, maka tidak mungkin bisa dilakukan penyikapan yang benar terhadap sebuah fakta. Oleh karena itu, agar seorang anak mampu menyikapi sebuah fakta dengan benar (yang berarti anak akan memiliki jati diri yang benar) maka sebagai langkah awal harus membekali anak dengan nilai-nilai sebuah ideologi yang benar, yang tidak lain adalah nilai-nilai Islam.

Dengan maklumat Islam yang secara intensif dan benar diperkenalkan kepada anak, Insya Allah pada diri anak akan terbentuk jati diri Islam yang kokoh. Karenanya, pemberian maklumat awal haruslah ditingkatkan dengan usaha mengubah maklumat Islam tersebut menjadi nilai-nilai yang akan dianut dan diemban oleh seorang anak. Yang berarti usaha pemberian maklumat awal meningkat (simultan) menjadi usaha membentuk pola hidup seorang anak. Di sini jati diri Islam terbentuk.

Jati diri Islam ini akan tampak ketika seorang muslim dihadapkan pada sebuah fakta, dia akan memahami fakta tersebut dan kemudian menyikapinya (menolak atau menerima) dengan nilai-nilai Islam, tidak dengan standar nilai lain (kapitalisme atau sosialisme atau kejawen dan lain sebagainya). Jadi, penolakannya/pengingkarannya berdasarkan Islam, begitu juga dengan penerimaan/persetujuannya adalah berdasarkan Islam. Ini berarti Islam menjadi standar dalam menilai baik buruknya sebuah fakta, termasuk di dalamnya perilaku lingkungan sekitarnya.

Jati Diri Islami: Terikat dengan Syari’at Islam

Selain komponen pemikiran/kesadaran, dalam diri manusia terdapat komponen lain yaitu perilaku, yang seperti dijelaskan di depan sebagai wujud penyikapan terhadap sebuah fakta dan dipengaruhi oleh pemikirannya. Perilaku tersebut muncul sebagai wujud pemenuhan kebutuhan hidup, baik kebutuhan jasmani ataupun kebutuhan nalurinya.
Dalam usaha pemenuhan kebutuhan hidupnya tersebut seorang muslim haruslah terikat dengan nilai-nilai Islam (syari’at Islam). Bagaimana cara kita makan, minum, buang hajat, sholat, puasa, berjual beli, menikah, memelihara anak dan semua aspek hidup kita terikat dengan nilai-nilai Islam.

Di sini, sebagai bagian akidah, kita diingatkan bahwa diri kita (manusia) secara fitrah butuh seorang Rasul yang memberikan contoh-contoh dalam pemenuhan kebutuhan hidup.
Namun, perilaku manusia tidak selalu terkait dengan pemikirannya. Sebagai contoh, seorang yang rajin beribadah, bisa saja tetap melakukan dosa dan ini sangat manusiawi, karena manusia adalah makhluk yang lalai.

Benar yang disabdakan oleh Rasulullah saw bahwa tidak beriman seorang pezina ketika melakukan zina begitupun seorang pencuri ketika mencuri. Dalam hal ini, tidak bisa dikatakan pelaku maksiat tersebut kafir. Yang bisa kita katakan adalah perilaku daripada pelaku maksiat tersebut tidaklah Islami. Oleh karena itu dalam Islam terdapat mekanisme taubat, yaitu menyadari kesalahan dan memohon ampun kepada Allah seraya berusaha tidak mengulang kemaksiatan tersebut.

Jika kemaksiatan atau sebuah tindakan mengakibatkan kerugian orang lain, diharuskan pelaku meminta maaf dan memberikan ganti kerugian.
Karena itu, seseorang muslim dengan jati diri Islami, yang tentu saja sudah berbekal maklumat nilai-nilai Islam, akan senantiasa bersikap hati-hati dalam langkah hidupnya. Ketidaktahuannya terhadap sebuah fakta akan mendorong dirinya mempelajari fakta tersebut mendalam disertai usaha untuk mencari nilai-nilai Islam yang mengatur fakta tersebut. Dia tidak melangkah/berbuat sebelum mengetahui secara jelas bagaimana Islam mengatur masalah tersebut. Islam menjadi pola hidupnya.

Penutup

Kesadaran politik perlu dan harus diwujudkan dalam setiap diri muslim. Institusi keluarga menjadi ujung tombak dan benteng terakhir dalam pembentukan kesadaran politik tersebut. Dalam membentuk kesadaran politik, secara internal (dalam tubuh muslim) perbaikan gizi pada anak merupakan syarat mutlak bagi pembentukan indera dan otak yang sehat. Kedua unsur tersebut (indera dan otak) sangat berperan di dalam mencerap dan mengolah unsur eksternal kesadaran politik, yaitu informasi, baik yang berkaitan dengan fakta lingkungan (saat ini dan dulu) maupun nilai-nilai yang digunakan untuk menilai baik-buruknya fakta tersebut.

Terbentuknya kesadaran politik pada diri anak, sangat erat terkait dengan peran keluarga untuk membekali anak dengan nilai-nilai yang benar yang akan menghasilkan perilaku yang benar dalam menyikapi sebuah fakta. Nilai-nilai yang benar tersebut adalah Islam. Jika nilai-nilai Islam telah digunakan untuk menstandarkan setiap perbuatannya dan menilai baik-buruknya fakta di sekitarnya, maka pada diri orang tersebut telah terbentuk jati diri yang Islami.

Seseorang dengan kesadaran politik yang tinggi dan berjati diri Islami akan berusaha untuk membangun kesadaran politik lingkungannya. Dia akan mewarnai lingkungannya dengan selalu berusaha menyadarkan masyarakat di sekitarnya, bahwa Islamlah satu-satunya aturan hidup yang benar dan pola hidup yang mampu memecahkan setiap permasalahan hidupnya.

Itulah produk yang seharusnya dihasilkan oleh setiap keluarga muslim. Yaitu generasi Islami, yang kokoh dan cerdas dalam menyikapi lingkungan sekitarnya. Wallahu a’lam bis showab

* * *
[posted by Ibnu Khaldun, 6 Maret 09]

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *