Sulitkah Melatih Disiplin Anak?

Banyak orangtua yang mengeluhkan masalah yang satu ini, kenapa ya kok sulit melatih anak untuk disiplin ? nurutnya hanya ketika ada orangtua tapi sebaliknya ketika luput dari perhatian mulai deh melanggar aturan. Jadinya ya curi-curi kesempatan.

Sebenarnya tidak perlu bingung, kita tinggal mengubah pola pendekatan saja. Yang perlu dipahami orangtua, cara-cara pengajaran disiplin ala “militer” gak akan buat anak patuh atau berperilaku seperti yang kita harapkan, lebih baik pilih cara yang menyenangkan dan kreatif biar anak melakukannya tidak dengan beban dan orangtua pun tidak harus selalu jadi ”polisi”. karena tanpa atau dengan orangtua disiplin pasti akan berjalan ( tentunya jika sudah menjadi kebiasaan ). Berikut uraian lengkapnya.

Pengajaran disiplin pada anak tentunya bertahap, sama dengan perkembangan moral yang juga bertahap yaitu dimulai dari tahapan takut akan hukuman, kemudian malu dengan lingkungan sekitar, barulah tumbuh sebuah kesadaran. Pada orang dewasa, kesadaran itu telah tumbuh, sehingga saat dia melakukan sesuatu, dia menyadari bahwa manfaat kedisiplinan itu akan kembali ke dirinya lagi. Nah, pada anak usia dini, perkembangan moralnya belum sampai di tahapan itu. Orang tua masih perlu menetapkan batasan nilai karena, pada usia dini batasan perilaku yang dimiliki anak adalah kelakuan baik, kelakuan buruk, reward atau penghargaan dan punishment atau hukuman. Jadi belum atas dasar kesadaran.

Berikut langkah-langkah pengajaran disiplin yang bisa dilakukan orangtua

../images/anakangop.jpgLatih dan latih ( dan jadikan kebiasaan )
Disiplin pada anak tentu beda dengan orang dewasa. Disiplin pada anak usia dini lebih untuk pengenalan masalah; boleh-tidak, baik-buruk atau jelek-bagus suatu perilaku. Disiplin juga diarahkan untuk membentuk kebiasaan baik sehingga anak punya keteraturan waktu akan suatu kegiatan; makan, tidur, istirahat dan lainnya. dengan keteraturan anak jadi gak bingung dan mendapatkan rasa aman.

Pembentukan disiplin pada anak usia dini tidak terjadi dengan tiba-tiba, melainkan dari rutinitas harian yang terpelihara semenjak bayi dan terbawa ke usia selanjutnya. Pada masa bayi, rutinitas bisa terbentuk dengan sendirinya. Sejalan dengan bertambahnya usia, disiplin terbentuk melalui proses belajar atau proses pembiasaan yang diulang-ulang. Misalnya : Bangun pagi, merapikan tempat tidur, mandi, sarapan.

yakin dech kalo hal ini diluang-ulang, lama2 bisa jadi kebiasaan, ada atau gak ada kita sebagai orangtua anak sudah tahu apa yang harus dilakukan.

Konsisten

Selama orang tua menerapkan secara konsisten, maka dengan siapa pun anak berhadapan, ia akan berperilaku sama dalam menyikapi suatu aturan. kalo dirumah dibiasakan cuci tangan dan dilakukan dengan konsisten misalnya, maka dimanapun dia berada anak akan melakukan hal yang sama. diawasi ataupun enggak, jadi gak ada dech yang namanya curi2 kesempatan.

Nah yang juga penting, agar penegakan disiplin berjalan sesuai harapan sebaiknya kedua orang tua sama –sama konsisten dan sepaham saat menjalankan kesepakatan. Jika anak merengek meminta “kelonggaran”. Hadapi saja dengan sikap yang tegas ( bukan galak loh ), karena sekali orang tua luluh menghadapi rengekan anak, bisa jadi besok anak akan mengulang hal sama demi memenuhi keinginannya. Jangan juga ayah lalu membolehkan tapi ibu tetap pada aturan karena jika ini terjadi anak cenderung akan lebih dekat dengan salah satu orangtuanya. tentunya ini bukan hal yang baik bagi perkembangan anak.

Kemas dengan fun

Buang jauh2 disiplin ala “militer”, yakin dech cara ini gak akan membawa hasil seperti yang kita harapkan, memang siy anak lalu nurut, tapi nurutnya karena takut dengan hukuman Pak, bukan karena tahu perbuatan yang dilakukan baik. dan biasanya juga gak tahan lama, nurutnya jika ada kita aja…nah giliran orangtuanya lengah anak mulai dech cari kesempatan untuk melanggar aturan. Daripada keras-kerasan dan sama-sama capek, ada baiknya ganti dengan pendekatan yang kreatif dan menyenangkan buat anak. kita bisa loh pakai tabel reward dan konsekuensi, tulis dipapan apa2 saja yang harus dilakukan anak jika anak berhasil melakukannya beri stiker lucu2 nah stiker ini diakhir minggu bisa ditukar dengan hadiah, hadiah gak harus berupa barang atau uang loh tapi dengan kegiatan2 sederhana seperti berenang sama mama papa, jalan2 makan diluar atau yang lain. gak hanya reward loh, jika anak melanggar aturan maka stikernya bisa saja dikurangi. nah disini tantangannya buat anak. Dengan menggunakan tabel ini anak dapat melihat dengan lebih konkret konsekuensi pelanggaran yang dia lakukan. Jika kita sekadar marah-marah, anak lebih sering bingung karena kemarahan orang tua adalah sesuatu yang lebih abstrak daripada konsekuensi langsung yang harus diterimanya.

Anak yang mengikuti latihan disiplin dalam suasana relaks dan merasa senang, akan menganggap bahwa kedisiplinan adalah sebuah kebutuhan dan hidupnya akan nyaman karena segala sesuatunya berjalan dengan teratur. sedangkan anak yang ditekan oleh orang tua otoriter untuk selalu berdisiplin akan menjalaninya dengan rasa takut. Nantinya anak akan tumbuh menjadi pribadi “asal tidak dimarahi orang tua”. anak tidak mempunyai rambu-rambu internal dari dalam dirinya, harus ada figur yang “menakutkan” buat dia, baru kemudian dia mau menjalani peraturan yang ada. Dengan kata lain, semua harus ada hukumannya dulu baru dia mau menjalankan, karena pada dasarnya ia tidak memiliki tanggung jawab dari dalam diri. duh sedihnya.

Jadi contoh dan teladan

Ingat loh anak usia dini belajar dari mengamati dan mencontoh. Dan contoh utama untuk ditiru adalah orangtuanya. Anak usia dini lebih mudah membaca apa yang dilakukan orang tua daripada apa yang diminta orang tua. Jadi daripada capek-capek nyuruh anak gosok gigi sehabis makan, lebih baik orangtua memberi contoh langsung dengan menyikat gigi sehabis makan. Pasti dech anak akan ikut melakukannya tanpa disuruh. coba aja…

Hadapi dengan sabar

buang jauh2 ancaman apalagi hukuman fisik, hadapi dengan sabar itu lebih baik. jika anak melanggar aturan yang dibuat bersama, misalnya : jadwal nonton TV-nya gak sesuai aturan, katakan saja dengan lembut “Maaf ya, Adik kan enggak boleh nonton teve kalau belum bereskan mainan. Mama matikan dulu ya tevenya. Kalau Adik sudah selesai membereskan mainan, baru boleh nonton lagi.”

semoga bermanfaat

oleh bu litha (Herlita Jayadianti)
from : warnaislam.com
Humas PI

Humas PI

PERCIKAN IMAN ONLINE DIGITAL - Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *