Bijaksana Artinya Diam …

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71]

Anda boleh tidak setuju dengan kalimat tersebut. Namun masihkah pendapat anda dipertahankan ketika mengetahui bahwa orang yang banyak bicara adalah bijaksana.

Diam akhir-akhir ini seperti barang mewah, mungkin juga eksklusif atau terasing dalam definisi sebenarnya. Diam banyak dipilih warga yang tinggal di kota besar, semoga hal tersebut lahir dari sikap pengendalian diri dan bukannya sikap tak peduli.

Diam dalam proses komunikasi melewati suatu proses yang panjang. Tahapan itu didapat dari awal paling kontradiktif yaitu banyak bicara. Padahal Nabi SAW sering mengingatkan agar berhati-hati dalam bicara. Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6475 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 74 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.
“Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”

Orang cenderung banyak bicara justru karena mereka tidak mengerti. Dari bicara itu akan tersaring dengan sendirinya mana yang benar beriringan dengan dimengertinya suatu wawasan dan pengetahuan baru. Bahan pembicaraan yang dulunya banyak dan tak karuan mulai dikurangi yang salah, diperbaiki dan dipersingkat. itu sebabnya terdapat pepatah yang mengatakan “silent is Gold” dan bukannya Silver.

Maka untuk mendapatkan tingkatan ‘Gold’ kita harus mencari ilmu sebanyak-banyaknya tanpa harus mengkotakan diri dengan satu subjek tertentu. Baik itu dari pendidikan formal dan lebih baik lagi memperkaya diri dengan pengetahuan non formal. Belajar langsung pada ahlinya dan berkaca pada kehidupan terkadang mampu menjadikan seseorang bijaksana dengan sendirinya tanpa mengenal usia.

Ketika semua itu dilakukan secara konsisten bukan tidak mungkin kebijaksanaan akan menjelma bukan saja dari kata-kata yang diucapkan namun juga dari tingkah laku kita sehari-hari.

Semoga kita termasuk dalam orang-orang bijaksana dengan kriteria yang dituturkan oleh Ali bin Abi Talib , “berbahagialah orang yang bisa menahan kelebihan mulutnya dan menginfakkan kelebihan hartanya”. Begitulah orang bijak seharusnya, diam untuk hal yang tak perlu dan berbicara untuk sesuatu yang benar. Di manakah posisi anda sekarang? Di manapun itu pastikan untuk tidak ingin segera mencapai posisi ‘Gold’ secepat mungkin sehingga anda tak berhenti mencari ilmu.

Ingatlah lisanmu cerminan kepribadian didunia sekaligus menjadi jalan ke syurgamu. Kurang yakin ? silahkan merenungkan nasehat sepanjang masa dibawah ini :

1.    Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula. Allah meridhai kalian bila kalian hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta” [HR.Bukhari]

2.    Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no. 6474 dari Sahl bin Sa’id bahwa Rasulullah SAW bersabda. “Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga”

3.    Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, “Seorang Muslim adalah yang dapat selamat sekalian orang Muslim dari gangguan lidah dan tangannya. Seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan semua larangan Allah.” (dishahihkan Bukhari – Muslim)

4.    Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala hal. 45, “Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara. Hal itu karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara, dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan”.

Beliau berkata pula di hal. 47, “Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi telinga dua buah, sedangkan diberi mulut hanya satu adalah supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Seringkali orang menyesal di kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak akan pernah membawa penyesalan. Dan menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan adalah lebih mudah dari pada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan. Hal itu karena biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan mampu mengontrol perkataan-perkataannya.

Beliau menambahkan di hal. 49, “Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam. Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya”.

Semoga bermanfaat !

Oleh : Pipit Nurul Fatimah

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *