Kiat Mencontreng Calon Pemimpin

Dalam Islam kepemimpinan merupakan hal yang vital. Rasulullah Saw memerintahkan jika ada tiga orang yang melakukan perjalanan, maka hendaknya meraka mengangkat salah seorang dari mereka menjadi pemimpin. diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda,
“Jika ada tiga orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi pemimpinnya,” (HR Abu Daud).

Secara garis besar, Islam mensyaratkan bahwa dalam memilih pemimpin yang diutamakan adalah
– Pemimpin yang mencintai keimanan daripada kekafiran (QS at-taubah [9]: 23)
– Berilmu luas dan kuat perkasa (QS al-Baqarah [2]: 247). Kekuatan yang dimaksud, adalah kekuatan dalam berbagai bidang, tidak hanya kekuatan fisik, tapi juga mental
– Qowiyul amin, bisa dipercaya (QS al-Qashash [28]: 26).

Sementara Ibnu Taimiyah mengemukakan tiga kiat sederhana dalam memilih pemimpin.

Pertama, ashlah,
yang paling layak dan paling sesuai. Tentu saja ia adalah orang yang terbaik segala-galanya, di antara semua orang yang ada di wilayahnya. Paling tinggi imannya di antara para calon yang ada, paling baik moralnya di antara mereka, paling tinggi budi pekertinya, paling tinggi ilmunya, dan paling luas wawasannya dalam mengatasi masalah-masalah hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta yang paling terampil memanage atau mengelola unit/wilayah yang dipimpinnya.

Kedua, apabila yang terbaik tersebut tidak diperoleh di antara mereka, pilihlah kriteria yang di bawahnya, dan apabila hal tersebut juga tidak bisa diperoleh, pilihlah yang setidak-tidaknya yang memiliki “quwwah” (otoritas) dan amanah. “Quwwah” berarti memiliki kekuatan jasmani dan rohani, dia seorang “problem solver”, seorang yang cerdas bisa memecahkan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.

Ketiga, amanah, bisa dipercaya, jujur, tulus dalam melaksanakan tugas yang diemban atau diamanatkan kepadanya. Apa pun hambatan dan rintangan yang dihadapi karena ia sudah sanggup menjalankannya, tetap akan menjalankannya sepenuh tenaga dan sepenuh hati.
Jika kiat memilih di atas kita terapkan dalam pemilu kali ini, maka pemilu tahun ini akan menghasilkan para pemimpin yang terbaik di antara yang ada. Dampak selanjutnya, perjalanan bangsa di masa yang akan datang akan lebih baik dari masa sebelumnya. Tentu saja hal ini akan berpengaruh pada kesejahteraan rakyat secara keseluruhan.

Demi kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang, sungguh sangat layak jika kita berhati-hati dan waspada dalam memilih. Jangan sampai kita memilih preman atau penjahat kelas kakap memimpin negeri ini. Jika ini yang terjadi, alih-alih kita keluar dari keterpurukan, justru kita akan terbenam lebih dalam lagi dalam lumpur kesengsaraan.

Nah, yang menjadi pokok masalah. Adakah calon pemimpin yang seideal itu? hampir semua orang mungkin bilang tidak ada!. So pilihlah yang terbaik, yang ada ‘potensi’ untuk berusaha menjadi pemimpin ideal. Sebagian menganggap jika kita tidak memilih maka akan memberikan ruang yang lebih besar untuk terpilihnya pemimpin negeri yang ‘jauh’ dari Islam. Jika ini terjadi maka, kesulitan dakwah dan kemajuan Islam akan datang lebih besar lagi.

Maka pilihan-pilihan itu kembali kepada diri anda, sebagai warga negara yang beragama.



Wallahu a’lamu bis shawab.

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *