Tafsir Ibn Katsir Surat Al Ikhlash (Memurnikan Keesaan Allah)

Bertemu dalam ketaatan bersatu dalam perjuangan… menegakkan syari’at dalam kehidupan. Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, terangilah jalan-jalannya.


Tafsir Ibn Katsir Surat Al Ikhlash (Memurnikan Keesaan Allah)
Surat Makkiyyah
Surat Ke-122, 4 ayat.


Asbabun Nuzul

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab bahwa orang-orang musyrik pernah berkata kepada Nabi Saw: “Hai Muhammad! Terangkanlah kepada kami nasab Rabbmu.” Maka Allah Ta’ala menurunkan firmanNya
((قل هو الله أحد الله الصمد لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد
Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Ilah yang bergantung kepadaNya segala urusan. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara denganNya.

Imam Al Bukhari meriwayatkan, Qutaibah memberitahu kami, al Mufadhdhal memberi tahu kami, dari ‘Uqail dari Ibn Syihab, dari ‘Urwah dari ‘Aisyah bahwa Nabi jka berbaring di tempat tidur setiap malam, maka beliau menyatukan kedua telapak tangan beliau, lalu meniupnya serayamembaca pada keduanya: Qulhuwallahu ahad, Qul a’uudzu birabbil falaq, dan Qul a’uudzu birabbin naas,” dan beliau kemudian mengusapkan kedua telapak tangan beliau itu ke bagian-bagian tubuh yang bisa beliau jangkau, beliau memulainya dari kepala, wajah dan anggota tubuh bagian depan. Beliau melakukan hal tersebut sebanyak tiga kali. (As Sunan)

بسم الله الرحمن الرحيم
قل هو الله أحد الله الصمد لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد

Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Ilah yang bergantung kepadaNya segala urusan. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara denganNya.
‘Ikrimah mengatakan: “ketika orang Yahudi mengatakan; “kami menyembah ‘Uzair putera Allah,” dan orang-orang Nasrani mengatakan: “kami menyembah Al Masih putera Allah.” Sedangkan orang-orang Majusi mengatakan: “kami mnyembah matahari dan bulan.” Adapun orang-orang musyrik mengatakan; “kami menyambah berhala” maka Allah menurunkan kepada RasulNya Saw قل هوالله أحد ‘Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa.’ Yakni, Dia Yang Tunggal danstu-satunya, yang tiada tandingannya, tanpa pembantu, juga tanpa sekutu, serta tidak ada yang menyerupai dan menandingiNya. Dan kalimat itu tidak bisa dipergunakan pada seorang pun dalam memberikan penetapan kecuali hanya kepada Allah Swt, karena Dia yang Sempurna dalam semua sifat dan perbuatanNya.”
Dan firman Allah Ta’ala الله الصمد ‘Allah adalah Ilah yang bergantung kepadaNya segala urusan.’ ‘Ikrimah mengatakan dari Ibn ‘Abbas; ‘yakni Rabb yang bergantung kepadaNya semua makhluk dalam memenuhi segala kebutuhan dan permintaan mereka.’ ‘Ali Bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibn ‘Abbas, Dia adalah Rabb yang benar-benar sempurna dalam kemuliaanNya. Maha Agung yang benar-benar sempurna dalam keagunganNya. Maha Penyantun yang benar-benar sempurna dalam kesantunanNya, Maha Mengetahui yang benar-benar sempurna dalam keilmuanNya. Maha Bijaksana yang benar-benar sempurna dalam kebijaksanaanNya. Dan Dia adalah Rabb yang telah sempurna dalam semua macam kemuliaan dan kewibawaanNya. Dia adalah Allah Yang Maha Suci. Semuaya itumerupakan sifatNya yang tidak pantas disandang kecuali olehNya, tidak ada yang menandingiNya, serta tidak ada sesuatu pun yang setara denganNya. Maha suci Allah, Yang Mahatunggal lagi Maha Perkasa.

Al Hasan mengatakan: “الصمد” Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, yang tidak akan pernah berakhir. Sedangkan ‘Ikrimah mengatakan: “الصمد” yang tidak ada sesuatu pun keluar dariNya dan tidak juga makan. Ar Rabi’ bin Anas mengungkapkan: “Dia adalah Rabb yang tidak beranak dan tidak diperanakkan,” seakan-akan Dia menjadikan ayat setelahnya sebagai penafsir baginya, yaitu firmanNya, لم يلد ولم يولد “Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan” dan itu merupakan penafsiran yang sangat bagus.

Ibn Mas’ud, Ibn ‘Abbas, Sa’id bin Al Musayyab, Mujahid, ‘Abdullah bin Buraidah, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, ‘Atha’ bin Abi Rabah, ‘Athiyyah al ‘Aufi Adh Dahhak, dan As Suddi mengatakan “الصمد Yang Kokoh.” Sufyan menceritakan dari Manshur dari Mujahid: “الصمد yakni, al Mushmat yang berarti kuat dan kokoh.” Asy Sya’bi mengatakan: “yaitu yang tidak makan dan tidak minum.” Abdullah bin Buraidah juga mengatakan: “الصمد cahaya yang berkilauan.” Semua itu diriwayatkan dan dikisahkan ole Ibn Abi Hatim, al Baihaqi dan ath Thabrani.

Demikian juga denga Abu Ja’far bin Jarir menyebutkan lebih banyak dari itu dengan sanadnya sendiri. al Hafizh Abul Qasim ath Thabrani menyampaikan didalam kitab as Sunnah miliknya setelah menyampaikan beberapa kali pendapat-pendapat diatas mengenai penafsiran kalimat الصمد.” Semua itu benar, dan ia merupakan sifat-sifat Allah Rabb kita.
Firman Allah Ta’ala, لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد

“Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya.” Maksudnya, Dia tidak memiliki anak dan tidak juga Dia sebagai Ayah atau Ibu. Mengenai firmanNya
ولم يكن له كفوا أحد
“dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya,” Mujahid mengatakan: “yakni, Dia tidak mempunyai pendamping.” Dan dalam kiyab Shahih al Bukahri disebutkan:

لا أحد اصبر على أذى سمعه من الله انهم يجعلون له ولدا وهو يرزقهم ويعا فيهم

“Tidak ada yang lebih sabar atas suatu hal menyakitkan yang didengar melebihi kesabaran Allah. Di mana mereka menjadikanNya sebagai seorang anak, padahla Dia member rizqi dan kesehatan kepada mereka”
Imam al Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw beliau bersabda yang artinya:
“Allah telah berfirman, ‘anak Adam telah mendustakanKu, sedang dia tidak berhak melakukan hal tesebut, dia juga mencelaKu, padahal dia tidak berhak untuk itu. Kedustaan yang dia lakukan terhadapKu itu adalah ucapannya, ‘Dia tidak akan pernah dapat mengembalikan diriku sebagaimana Dia telah memulai diriku. Dan tidaklah pengawalan itu tidak lebih mudah dari pengulangannya. Dan caciannya kepadaKu adalah ucapannya bahwa Allah telah mengambil anak, padahal Aku Mahatunggal yang bergantung sagala urusan, Aku tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara denganKu.”

Keutamaan surat Al Ikhlash

1. Imam al Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah ra., bahwa Nabi Saw pernah mengutus seseorang dalam suatu peperangan dan dia membacakan al Qur’an untuk para shahabatnya dalam shalat mereka, lalu dia menutupnya denga surat قل هو الله أحد ketika mereka kembali, mereka menceritakan hal itu kepada Nabi Saw, maka beliau berkata: “tanyakan kepadanya, untuk apa dia melakukan hal tesebut.” Kemudian mereka pun bertanya kepadanya, lalu dia menjawab: “karena Ia merupakan sifat ar Rahmaan, sedang aku lebih suka membacanya.” Maka Nabi Saw bersabda: “beritahukan kepadanya bahwa Allah menyukainya.” Dan diriwayatkan oleh Muslim dan an Nasa’i.

2. Imam al Bukhari meriwayatkan dari Abu Sa’id bahwasanya ada seseorang mendengar orang lain membaca: قل هو الله أحد yang dia ulang berkali-kali. Sestelah pagi hari tiba, dia mendatangi Nabi Saw dan menceritakan peristiwa itu kepada beliau. Dan orang itu merasa masih terlalu sedikit membacanya, maka Nabi Saw bersabda: “demi Rabb yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya surat itu menyamai sepertiga al Qur’an.” Diriwayatkan oleh Abu Daud dan an Nasa-i.


3. Imam Malik bin Anas meriwayatkan dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdirrahman, dari ‘Ubaid bin Hanin, dia berkata: “Aku pernah mendengar Abu Hurairah berkata: ‘aku pernah pergi bersama Nabi Saw, lalu beliau mendengar seseorang membaca: قل هو الله أحد, maka Rasulullah Saw bersabda: ‘Wajib baginya,’ – kutanyakan, ‘apa yang wajib?’ beliau menjawab: – ‘surga.’” Diriwayatkan oleh at Tirmidzi dan an Nasa-i dari hadist Malik. At Tirmidzi mengatakan: “Hasan Shahih gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Malik.” Dan telah juga disebutkan sebelumnya: ‘kecintaanmu padanya akan memasukkanmu ke surge.’” (Musnad Imam al Ahmad)

4.‘Abdullah bin Imam Ahmad meriwayatkan dari Usaid bin Abi Usaid, dari Mu’adz bin ‘Abdillah bin Habib, dari ayahnya, dia berkata: “kami ernah merasa haus dan berada dalam gelap gulita, sedang kami tengah menunggu Rasulullah Saw shalat bersama kami, lalu beliau keluar dan memegang tanganku seraya berkat: ‘katakanlah.’ Maka akupun terdiam. Beliau berkata lagi ‘katakanlah.’ Kutanyakan: ‘apa yang harus aku katakan?’ Beliau menjawab: قل هو الله أحد dan al Mu’awwidzatain (al Falaq dan an Naas) saat memasuki waktu sore dan saat memasuki waktu pagi hari sebanyak tiga kali, niscaya akan diberi kecukupan kepadamu setiap hari dua kali.’” Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at Tirmidzi, dan an Nasa-i, dari hadits Ibn Abi adz Dzi-b. At Tirmidzi mengatakan: ‘Hasan shahih gharib dari sisi ini.” Dan juga diiriwayatkan oleh an Nasa-i melalui jalan lain dari Mu’adz bin Abdillah bin Habib, dari ayahnya dari ‘Uqbah bin ‘Amir, lalu dia menyebutkan hadits tersebut. Dan lafaznya: “maka ia akan mencukupi segala sesuatu.”




Semoga bermanfaat!
Halaqah, Ahad, 28 Juni 2009
Nasipah

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *