FLUKTUATIF KEIMANAN

Pada hakikatnya, tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat dosa. Inilah yang di singgung nabi saw dalam beberapa haditsnya, bahwa iman manusia selalu fluktuatif. Berbeda dengan imannya para Malaikat yang stabil, dan tak pernah berubah. Atau berbeda pula dengan imannya  para iblis yang selalu berada di tingkat yang paling rendah.

Pada saat manusia berada pada puncak keimanan, ia akan bisa melampaui keimanan para malaikat. Namun, ketika imannya rendah, ia bisa lebih rendah dari imannya para iblis. Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya Kami akan isi api neraka jahanam dengan kebanyakan jin dan manusia, karena mereka mempunyai hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak digunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Q.S. Al-A’raf 7 : 179).

Ketika iman berada pada titik nadinya yang paling menghawatirkan, di sinilah dosa-dosa itu bermunculan, bak jamur yang tumbuh di musim hujan. Pada saat seperti ini, Allah SWT menegur hamba-hamba-Nya untuk segera bertaubat. Karena, dengan taubat itulah, seorang yang telah berdosa dijamin pasti akan diampuni, sehingga kembali lagi ke level iman tertingginya. ”Katakanlah [wahai Muhammad], ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian semuanya jika bertaubat. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  (Q.S. Az-Zumar 39 : 53).

Iman bagi seorang hamba mempunyai kedudukan yang tinggi dan luhur. Setiap kebaikan dunia dan akhirat tergantung pada kebaikan dan kesempurnaan iman. Betapa banyak manfaat yang melimpah serta kebaikan yang mengalir tanpa henti karena keimanan. Dari sini kaum Muslimin berlomba-lomba untuk menjaga, memurnikan dan menyempurnakan imannya.

Dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw, banyak dalil-dalil yang menjelaskan tentang kondisi keimanan yang selalu fluktuatif. Allah SWT berfirman: “Supaya keimanan mereka bertambah disamping keimanan mereka (yang sudah ada). (Q.S. Al-Fath 48 : 4).

Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang pezina itu berzina, ketika ia memiliki kesempurnaan iman. Dan tidaklah seorang pencuri itu mencuri, ketika ia memiliki kesempurnaan iman serta tidaklah seseorang itu meminum khamr, ketika ia memiliki kesempurnaan iman. Sedangkan pintu taubat masih terbuka setelah itu.” (H.R. Muslim).

Dari pemaparan diatas, Rasulullah selalu mengingatkan kita tentang keimanan yang selalu fluktuatif, terkadang naik terkadang pula turun. Terkadang kita berbuat baik kepada sesama, terkadang pula kita menyakiti sesama kita. Sehingga keimanan kita susah untuk stabil.

Lalu, bagaimanakah agar keimanan kita tetap stabil? Dalam haditnya, Rasulullah menasehati kita untuk selalu menjaga keimanan kita dari perbuatan dosa dan maksiat, sebagaimana sabdanya, ‘Tiga hal yang merupakan sumber segala dosa. Dan kita harus menghindari dan berhati-hati terhadap ketiganya. (Pertama), Hati-hati terhadap keangkuhan, karena keangkuhan menjadikan iblis enggan bersujud kepada Adam, (Kedua) berhati-hatilah terhadap tamak (rakus), karena ketamakan mengantar Adam memakan buah terlarang, dan (Ketiga) berhati-hatilah terhadap iri hati, karena kedua anak Adam (Qabil dan Habil) salah seorang di antaranya membunuh saudaranya akibat dorongan iri hati.” (H.R. Ibn Asakir)

Selain ketiga nasehat Rasulullah saw yang disebutkan dalam hadits diatas, terdapat pula beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan keimanan kita selalu stabil, antara lain;

1.      Tadabur Al-Qur’an

Hal ini termasuk paling agung yang dapat menyebabkan bertambah kokohnya keimanan. Allah telah menurunkan Al-Qur’an sebagai penerang bagi hamba-hamba-Nya, sebagai petunjuk, rahmat, cahaya, kabar gembira dan peringatan bagi orang-orang yang mengingat-Nya. Didalam Al-Qur’an terdapat ayat yang menerangkan tentang perkara ini, yaitu, “Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan sebuah Kitab (Al-Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami. Menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-A’raf 7 : 52)

Ayat ini menerangkan keutamaan Al-Quran. Orang yang mentadaburi Al-Qur’an akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang menjadikan imannya semakin kokoh, “Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka dan kepada Rabblah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal 8 : 2). Ayat tersebut merupakan dalil yang sangat jelas dalam menerangkan pentingnya mentadaburi Al-Quran. Inilah yang paling tinggi kedudukannya dan menyebabkan bertambahnya iman. Ibnul Qayyim pernah berkata: “Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati daripada membaca Al-Quran dengan tadabur dan tafakur.”

 

2.      Memperbanyak Do’a

Do’a adalah permohonan kepada Allah SWT., dan Allah Maha Tahu keinginan setiap hamba-Nya. Allah melimpahkan rahmat-Nya sebelum diminta, namun Allah menyuruh manusia agar berdo’a kepada-Nya. Ini sebagai identifikasi bahwa manusia adalah makhluk Allah, sebagai hamba Allah yang harus memohon dan mengikuti aturan-Nya, agar dalam mencapai apa yang diinginkannya senantiasa berada dalam kebenaran.

Orang yang selalu berdo’a kepada Allah adalah sebagai indikator orang yang akrab (dekat) dengan Allah, dan Allah pun akan akrab bahkan akan mengabulkan do’a hamba-Nya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada-Ku tentang Aku. Maka (jawablah) bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila dia memohon kepada-Ku maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berdo’a dalam kebenaran.” (Q.S. Al-Baqarah 2 : 186).

Sebaliknya orang yang malas/tidak berdo’a kepada Allah termasuk kepada orang-orang yang sombong. Allah tidak menyukai kepada orang-orang yang sombong, menjauh dari Allah, maka Allah pun akan menjauh darinya dan tidak akan menghiraukannya,  “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang meyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Q.S. Al-Mu’min 40 : 60). Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa tidak (pernah) berdo’a kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.”  (H.R. Muslim).

Orang yang tidak pernah berdo’a kepada Allah, hidupnya akan selalu ragu, penuh kekhawatiran, gelisah dan ketakutan, disebabkan oleh ketidakpastian dan buruk sangka kepada Allah. Begitu pun dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, seorang siswa yang tidak yakin dan meragukan terhadap kejujuran gurunya atau khawatir gurunya tidak berlaku adil didalam memberikan kelulusan, maka siswa tersebut akan selalu dilanda resah dan gelisah sebelum tes berakhir, walaupun sudah berusaha belajar semaksimal  mungkin.

Orang yang yakin atau percaya kepada Allah SWT, maka kegelisahan dan ketakutan akan terangkat dan terhapuskan berganti dengan kenyamanan dan ketenangan batin, Allah SWT berfirman, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.”  (Q.S. Ar-Ra’d 13 : 28)

 

3.      Selalu Muraqabah

Muroqobah adalah suatu kondisi psikis yang selalu merasa ditatap, diawasi dan dilihat oleh Allah, mempunyai jiwa ihsan sehingga hidupnya menjadi hati-hati dan selalu mawas diri, cepat menyadari kesalahan, kemudian mohon ampun atas dosa-dosa dan memperbaiki dirinya. Allah SWT berfirman, “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya  diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu,  sedang mereka mengetahui.” (Q.S. Ali Imran 3 : 135).

Apabila seseorang didalam menjalani  kehidupan ini selalu merasakan bahwa Allah melihatnya, maka setiap perbuatannya akan selalu berada dijalan-Nya dan akan cepat melihat kesalahan dirinya apabila melakukan kesalahan dan kembali kepada jalan yang Allah ridlai, “Hai orang-orang  yang  beriman,  bertakwalah  kepada  Allah  dan  hendaklah  setiap  diri memperhatikan  apa  yang  telah  diperbuatnya  untuk  hari  esok  (akhirat),  dan  bertakwalah kepada  Allah,  Sesungguhnya  Allah  Maha  Mengetahui  apa  yang  kamu  kerjakan.”   (Q.S. Al-Hasyr 59 : 18)

 

4.      Menghadiri Majelis Taklim

Islam bukan saja mementingkan aspek lahiriyyah, tetapi juga mementingkan aspek ruhaniyyah, tanpa ada kesinambungan di antara kedua aspek terebut, maka orang tersebut akan hidup dalam ketimpangan. Untuk membentenginya, diperlukan upaya khusus secara berkesinambungan demi tercapainya kehidupan kita secara berimbang berupa tarbiyyah ruhiyyah (pembinaan mental melalui ilmu-ilmu agama) sebagai penyucian diri serta membangun benteng iman yang kokoh untuk menghadang segala serangan yang dapat menjerumuskan diri kita kepada kenistaan.

Hadir di majelis taklim bisa menghidupkan hati yang telah mati, sebagaimana Allah SWT menghidupkan tanah yang telah tandus dengan air hujan.

Sejak Islam tumbuh di jazirah Arab, majelis taklim sebenarnya memiliki akar sejarah yang sangat kuat. Majelis taklim merupakan salah satu cara yang efektif yang dilakukan Rasulullah untuk menyampaikan wahyu dalam rangka pembinaan terhadap para sahabatnya. Dalam majelis taklim itulah pemecahan segala masalah menyangkut keagamaan umat diselesaikan. Dalam perkembangannya, majelis taklim tidak hanya menjadi lembaga pentransfer ilmu saja, akan tetapi telah melakukan perubahan-perubahan sampai pada peningkatan kemampuan kaum muslimin yang meliputi dimensi kognitif (pengetahuan) afektif (sikap) maupun psikomotorik (terampil), sehingga nilai-nilai Islam bisa diaplikasikan dalam kehidupan, baik individu maupun sosial.

Kita mesti menyadari pentingnya mengikuti majelis taklim seiring kesadaran kita akan pentingnya ilmu, khususnya ilmu-ilmu agama.

Perintah dalam Al-Quran dan hadits mengenai kewajiban menuntut ilmu sangat banyak. Hanya saja sampai saat ini, majelis taklim masih menjadi cara epektif dan efesien dalam pelayanan akan kebutuhan ilmu, dengan demikian hendaknya kita memiliki perhatian yang besar terhadap majelis taklim sebagai tempat tarbiyyah ruhiyyah (pembinaan ruhani) kita. Ditunjang dengan beberapa dalil sebagaimana berikut, “Maka bertanyalah kepada ahludz dzikir (ahli ilmu / ulama) jika kamu tidak mengetahui.” (Q.S. An-Nahl 16 : 43). Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling, mereka mengikuti majelis-majelis dzikir (majelis-majelis ilmu). Apabila mereka menemui majelis yang didalamnya ada dzikir, maka mereka duduk bersama-sama orang yang berdzikir, mereka mengelilingi para jamaah itu dengan sayap-sayap mereka, sehingga memenuhi ruangan antara mereka dengan langit dunia, jika para jamaah itu selesai maka mereka naik ke langit” (H.R. Muslim)

 

Semoga kita mampu mengokohkan keimanan kita dengan menjalankan keempat point diatas, dan semoga Allah selalu menjaga diri kita dari berbagai godaan syetan yang terkutuk. Amiin ya rabbal ‘aalamiin.. 

 
Ayat Muhlis

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *