Mukmin Yang Kuat Lebih Dicintai

RASULULLAH SAW. bersabda, “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai daripada orang mukmin yang lemah dan pada masing-masingnya ada kelebihan. Lobalah kamu kepada apa yang bermanfaaat bagimu, mohonkanlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu katakan, ‘Seandainya saya berbuat begini, maka begini’. Tetapi katakanlah, ‘Allah telah menakdirkannya, apa-apa yang dikehendaki oleh Allah maka diperbuatnya’, karena sesungguhnya kata-kata ‘seandainya’ adalah mempekerjakan setan“. (H.R. Muslim).

Mukmin yang kuat lebih disukai dan lebih baik ketimbang mukmin yang lemah. Kuat bisa bermacam-macam; kuat badan, kuat ekonomi, kuat kedudukan, kuat mental dan lain-lain yang dapat diperbandingkan dengan yang lain.

Kuat secara sendiri-sendiri atau kuat secara bersama-sama. Menurut sunah Allah, seorang menjadi kuat, ditentukan oleh faktor penunjang. Kuat badan ditunjang oleh kekekaran dan kesempurnaan susunan tubuh. Itu juga ditentukan oleh gizi.

Kuat ekonomi, ditunjang oleh harta yang dihasilkan oleh kerja keras penuh perhitungan. Kuat kedudukan ditunjang oleh kelebihan yang dimiliki, ilmu, akhlak dan cara mainnya. Kuat mental, karena iman dan kepercayaan kepada diri sendiri. Dan seterusnya. Jadi sebelum seorang mukmin menjadi “kuat”, dia harus siap dengan faktor penunjang kekuatan itu. Maka dia akan lebih disukai dan lebih baik di sisi Allah.

Yang harus dijaga setelah seorang mukmin menjadi kuat, ialah jangan sekali-kali takabur, sombong, congkak. Sebab harus diingat segala yang baik itu ada yang “lebih baik” ada pula yang paling baik. Orang mukmin harus dinamis. Kalau dia telah mencapai prestasi baik, di atasnya masih ada yang lebih baik. Begitu seterusnya secara tasalsul, sambung-menyambung.

Kekuatan yang ada pada diri mukmin yang diabdikan untuk kepentingan hidup, adalah sudah pada tempatnya. Namun dalam memilih pengabdian, harus dipilih yang ada gunanya bagi dirinya dengan tidak melupakan kontak dengan Allah. Hambatan berupa kesulitan tidak menjadikannya lemah. Karena kontaknya dengan Allah itu tadi.

Bagi orang mukmin, yang paling sulit ialah mengatur hati, kalau suatu saat harus menanggung akibat dari perbuatannya. Karena ada “sebab”. Di sini orang banyak tergelincir. Padahal orang mukmin harus yakin, bahwa bagaimanapun kehendak (iradah) dan takdir Allah, pasti terjadi ada sebab atau tidak.

Dalam hadis di atas, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa orang mukmin yang kuat itu lebih dicintai oleh Allah SWT dan dorongan-dorongan agar kaum muslimin itu optimis dalam bekerja serta tabah dalam menghadapi segala kemungkinan.

Hadis di atas mengandung tiga dorongan dan dua macam larangan yaitu;

Pertama, iman, yakni pusat kebahagiaan dunia dan akhirat manakala diikuti dengan amal saleh, sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam firmannya: “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (An-Nahl:97)

Keimanan tiap-tiap orang berbeda, ada yang kuat dan ada yang lemah. Orang yang kuat imannya sangat terdorong untuk mengerjakan amal saleh sebanyak-banyaknya, suka amar ma’ruf dan nahi mungkar, gemar berjihad, tidak takut rintangan dalam mengajak kebaikan, sabar dalam melaksanakan hak-hak Allah seperti salat, puasa, zakat, haji dan sebagainya.

Namun orang yang lemah imannya lengah dan lalai untuk beramal saleh dan cita-citanya untuk mencapai kebahagiaan akhirat lemah. Orang kuat imannya lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah imannya. Apa yang dikerjakan oleh masing-masingnya mengandung kebaikan, namun orang yang kuat imannya selalu menyuburkan imannya dengan amal saleh sehingga imannya semakin rindang dan akarnya semakin menghujam ke dalam hati sanubarinya.

Kedua, Rasulullah saw. menganjurkan kepada kita untuk tangkas mencari segala sesuatu yang membawa kemanfaatan baik kemanfaatan dunia maupun kemanfaatan akhirat. Seorang mukmin jangan sampai mengosongkan waktu, sehingga waktu itu berjalan tanpa meninggalkan bekas kecuali ketuaan belaka. Namun istilah waktu dengan kegiatan mencari ilmu, harta, menolong anak yatim, membaca Alquran, selawat dan lain sebagainya.

Ketiga, dalam menghadapi segala usaha dan rencana hendaklah mohon pertolongan kepada Allah, karena yang memutuskan dan menentukan segala sesuatu, tentu saja dalam hal ini usaha-usaha yang bersifat lahir (memenuhi syarat-syaratnya) dalam suatu hadis Rasulullah saw. menjelaskan,

“…apabila kamu minta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah. Dan ketahuilah seandainya suatu umat berkumpul untuk mencari suatu kemanfaatan bagimu, niscaya mereka tidak dapat memberi manfaat kecuali sesuatu yang telah dicatat oleh Allah untukmu dan seandainya suatu umat berkumpul untuk menimpakan suatu mudarat atasmu, niscaya mereka tidak dapat menimpakan mudarat kecuali yang telah Allah catat atasmu”. (H.R. Turmudzi).

Keempat, Rasulullah saw. melarang kita lemah dalam mencapai cita-cita, namun hendaknya kita optimis dalam usaha kita. Jiwa harus penuh kepercayaan kepada Allah agar apa yang kita cita-citakan tercapai disertai usaha yang benar-benar, tidak boleh malas-malasan dan berdiam diri tanpa usaha. Nabi saw. telah mengajarkan doa kepada kita antara lain, “Ya Allah, saya mohon perlindungan kepada-Mu dari lemah dan malas.” (H.R. Abu Dawud).

Kelima, apabila kita tertimpa suatu hal yng tidak menyenangkan, Rasul saw. melarang kita untuk mengucapkan pengandaian (seandainya). Karena kata ini dapat membuka pintu pekerjaan setan. Dengan kata-kata itu seolah-olah kita dapat menghindarkan diri dari takdir Allah, padahal takdir Allah mustahil tidak terlaksana, yang benar, untuk menanggapi peristiwa yang telah lampau kita katakan Allah telah menakdirkannya dan apa yang dikehendaki oleh Allah niscaya diperbuat-Nya.

Sedangkan untuk menghadapi sesuatu yang akan datang kita persiapkan sepenuhnya dan hendaklah kita dapat mengambil pelajaran dari apa yang telah kita alami pada waktu yang lampau, jangan sampai kita terperosok dua kali dalam satu lubang. Oleh karenanya hendaklah jangan sampai kita melakukan sebab-sebab yang mengakibatkan kegagalan.

Secara keseluruhan, hadis di atas menganjurkan agar orang beriman tidak berhenti berjuang, amar ma’ruf, nahi mungkar dan bersabar, apabila suatu saat kesandung aral. Tidak dianggap benar, orang mukmin yang malas, lebih suka “enak saja”, menunda-nunda urusan dan memulangkan semua kegagalan atau keberhasilan kepada pengandaian.

Pengandaian adalah laku orang munafik. Berjuang, amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan segala akibatnya, adalah perintah Allah. Meskipun sedapat-dapatnya diikhtiarkan kemungkinan menimpanya bahaya, disebabkan oleh kesalahan langkah, boleh dihindari. Tetapi apabila sudah menimpa, itu bukan karena akibat dari melaksanakan perintah, namun adalah takdir Allah semata-mata.***


Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *