Puasa & Shalat Pertamaku…

Seperti bulan-bulan Ramadhan lalu, aku tak pernah menjalankan puasa. Mungkin orang bilang Islamku adalah Islam KTP hanya sebagai identitas. Aku adalah seorang pemabuk berat, penjudi dan juga mungkin orang yang tidak bertanggung jawab kepada keluargaku. Bertahun-tahun Ramadhan kulalui tak pernah alpha, tak pernah alpha dari kemaksiatan.

Hingga aku berusia 55 tahun, suatu ketika aku sedang terkapar karena minuman yang menerbangkan fikiranku, aku tak ingat apa yang terjadi, sayup-sayup aku mendengar kata “ayah-ayah..” dan mataku tak jelas memandang seperti ada bidadari manis membantuku merangkul untuk berjalan.



Terbangun aku mendengar suara rintihan seseorang menangis, suaranya sendu, isak tangis yang begitu menyesak. Kuseret badanku, menjawab rasa ingin tau,, rupanya itu anakku terduduk membuka kedua telapak tangannya dan memohonkan ampunan untukku, tangis air matanya tiada henti mengalir.

“Ya Rabb, engkau yang Maha Pengasih Maha Penyayang, Engkaulah yang menguasai hati setiap insan, Ya Allah Ya Tuhanku ampunilah dosa-dosa ayahku, berikanlah ia hidayah taufikmu, bukakanlah pintu hatinya. Ya Rabb, berapapun besar dosa ayahku dia adalah tetap ayahku, besar dosanya takan lebih besar dari jasanya yang telah mengurusku dari kecil, setiap pangkuannya adalah amalnya, setiap keringatnya adalah ibadahnya dan setiap amarahnya adalah cintanya kepadaku….”


“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Q.S Al Israa: 24)

Ya Allah aku tak pernah menyadari anakku tumbuh menjadi anak yang begitu shaleh, bersegara aku untuk berpura-pura tidur kembali. Anakku mengambil selimut untukku dan mengusap keningku sambil berkata “ayah, aku sayang sama ayah” kemudian dia membersihkan bekas muntahanku.

Waktu sahurpun tiba, dia tak pernah bosan mengajakku untuk berpuasa, aku tak tau apa yang menggerakkan hatiku sehingga aku bangun dan makan sahur untuk berpuasa, anakku tersenyum melihatku dan menyiapkan makanan untukku, dia tak pernah melepas pandangannya dariku, menatapku seolah aku adalah ayah yang dinantikannya selama ini.

Untuk pertama kalinya dalam seumur hidupku aku shalat shubuh berjamaah dengan keluargaku. Ketika aku bersujud, aku merasa sesuatu yang sulit untuk aku ungkapkan, keningku seperti menyentuh langit, sejuk dan damai.

Apakah ini kenikmatan dari shalat?

“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itu (kekal) di syurga lagi dimuliakan.” (Q.S Al Ma’arij: 34-35)

Di hari pertamaku shaum banyak sekali kenikmatan yang aku peroleh, aku merasa selalu rindu kepada Allah, aku tak pernah berhenti mengingat Allah, setiap kali aku mengingatNya maka aku mendapat ketenangan bathin, ketentraman jiwa, kedekatan dengan sang pencipta. Dan aku baru menyadari akan arti keluarga, kasih sayang didalamnya.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (Q.S Ar’rad: 28)

Apakah ini kenikmatan puasa?

Mungkin aku adalah orang awam yang tak mengetahui hikmah dari puasa, akan tetapi aku tau bahwa puasa mengantarkan seseorang kepada kesehatan hidup, kesehatan fikiran, kesehatan hati dan puasa mengantarkan kepada taqarub, mengantarkan kepada jiwa yang tenang, menghapus dosa-dosa kecil, mengantarkan kepada ketaqwaan dan menjadikan orang menjadi dermawan.

Sehingga menjadikan setiap orang menjadi rindu akan datangnya Ramadhan. Dan pengalaman shaum pertamaku menjadikan ia candu bagiku. Semoga Allah memberikan usia dan rezeki untukku untuk kita semua agar dapat kembali bertemu dengan bulan yang paling indah yaitu bulan suci Ramadhan.

Amin ya Allah ya rabbal alamin.

-Irma Fatmawati-
Team HomePI Percikan Iman

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *