Menjadi Manusia Mengagumkan (1)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ (رواه مسلم)

“Sungguh mengagumkan urusan (sikap) orang beriman, karena segala urusannya baginya adalah kebaikan. Dan itu tidak terjadi selain pada orang beriman. Jika ia menerima kebahagiaan ia bersyukur, maka itu jadi kebaikan baginya. Dan jika ia menerima musibah ia bersabar, maka itu jadi kebaikan baginya.” (Riwayat Muslim)

Mengagumkan!” Sering Anda mendengar kalimat itu, bukan? Bahkan sering Anda mengucapkan kalimat itu, bukan? Untuk hal apa seseorang mengungkapkan kalimat “mengagumkan” itu? Pasti untuk hal-hal yang luar biasa, istimewa; untuk hal yang tidak dimiliki atau tidak dapat dicapai oleh manusia kebanyakan.

Maka kita tahu orang-orang yang mengagumkan atau membuat orang terkagum-kagum adalah, sekedar contoh, laki-laki yang sangat tampan, perempuan yang sangat jelita, pelari yang memecahkan rekor kejuaraan lari, pencetak gol terbanyak dalam sebuah musim kompetisi sepakbola, astronot yang mendarat di angkasa luar, dan seterusnya. Orang yang mengagumkan itu sering diidentikkan dengan orang sukses, orang besar, atau orang penting.

Menurut siapa? Tentu saja menurut manusia.

Nah, kita –semua orang beriman- mempunyai peluang untuk menjadi manusia yang mengagumkan. Tidak tanggung-tanggung, kita bisa menjadi manusia mengagumkan di mata Rasulullah saw. Yang juga itu berarti mengagumkan di sisi Allah swt. Dan dengan demikian, kita benar-benar, secara meyakinkan –bukan kesan atau klaim- menjadi orang sukses, besar dan penting. Bahkan secara eksplisit kekaguman Rasulullah saw. diungkapkan dalam hadits lain:

عَجِبْتُ مِنْ قَضَاءِ اللَّه لِلْمُؤْمِنِ ، إِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ حَمِدَ وَشَكَرَ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ حَمِدَ وَصَبَرَ ، فَالْمُؤْمِنُ يُؤْجَرُ فِي كُلِّ أَمْرِهِ ” (الْحَدِيث أَخْرَجَهُ أَحْمَد وَالنَّسَائِيُّ).


“Aku kagum dengan ketentuan Allah kepada orang beriman. Jika ia menerima kebaikan ia memuji (Allah) dan bersyukur dan jika ditimpa musibah ia memuji (Allah) dan bersabar. Jadi orang mu’min itu diberi pahala dalam segala urusannya.” (Ahmad dan An-Nasai)

Hidup ini ujian. Ada ujian pahit: problem, kesulitan, intrik-intrik, jalan terjal, situasi mengecewakan, kepedihan, nestapa. Ada ujian manis: kekayaan, pangkat, ketampanan, kecantikan, pujian, ilmu, kecerdasan, gelar akademik dan sebagainya.

Semua itu, di mata Allah swt bernilai sebagai ujian. Justeru dari situasi itulah muncul manusia-manusia yang layak menyandang gelar manusia sukses, manusia besar, manusia penting. Dari situasi itulah muncul manusia-manusia yang mengagumkan itu. Quran menyebut orang sukses, besar, dan penting dengan kalimat “ahsanu ‘amala” orang yang paling baik amalnya.

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al-Mulk 2)

Hal apa yang menyebabkan Rasulullah saw. terkagum-kagum kepada orang beriman? Karena orang beriman dapat mengolah dan mengelola situasi apa pun –suka-duka, bahagia-nestapa- menjadi khair (kebaikan). Khair di akhirat tentu saja berupa pahala dari Allah swt, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, “Jadi orang mukmin itu diberi pahala dalam segala urusannya.” Tentu saja khair itu bukan hanya di akhirat melainkan juga di dunia.

Wujudnya antara lain ketenteraman jiwa, kepastian langkah dalam mengarungi kehidupan, keberekahan dalam rizki dan kemampuan menghidupkan orang lain.

Syukur

Dengan cara apa khair itu dicapai? Seperti yang ditegaskan dalam hadits riwayat Imam Muslim di atas, caranya, apabila menerima kebahagian (sarra) bersyukur dan sebaliknya manakala ditimpa musibah, penderitaan dan kenestapaan bersabar.

Syukur dan sabar bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisah-pisah atau dipereteli. Kedua sifat itu saling mendukung dan saling melengkapi.

Hadits yang tengah kita bahas itu menyebut kebahagiaan dengan ‘sarra’. Sarra maknanya adalah kenyamanan, kebahagiaan, kesehatan, dan hal-hal yang menyenangkan lainnya. Seorang ulama mengatakan bahwa sarra adalah,

“Segala kenikmatan yang membuat orang yang menerimanya berasa gembira dan bahagia. Baik kenikmatan itu bersifat materia atau bukan materi.” Kata sarra dan kebalikannya, dharra disebut dalam Quran angara lain dalam ayat:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ
“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.” (Ali Imran 134)

Adalah penting untuk mengenal nikmat apa saja yang Allah berikan kepada kita. Karena mengenali nikmat akan membawa seseorang pada ingat kepada yang memberi nikmat. Dapat difahami jika dalam Quran kita menemukan banyak sekali ayat yang menyuruh kita mengingat segala kenikmatan dari Allah.

Memang kita tidak akan mampu menghitung jumlah nikmat dari Allah. Tapi kita bisa menghadirkan kesadaran betapa variatif dan banyaknya kenikmatan yang kita terima.

Sampai-sampai seorang penulis Barat menulis buku 10.000 Tings To Praise God For. Isinya adalah daftar 10.000 karunia Tuhan yang karenanya kita wajib memuji-Nya atau bersyukur kepada-Nya. Tanpa mengemukakan teori yang rumit-rumit atau opini yang filosofis, buku itu hanya memuat sepuluh ribu hal yang patut kita syukuri.

Sekedar contoh buku itu menyebut kue yang bisa matang dengan rata, topi pandan bertepi lebar, bunga di pot yang sedang mekar, kemampuan bernafas dengan bebas, hati yang mau bertobat, sidik jari yang unik, sidik suara yang unik, struktur sela yang unik, marmer yang berwarna hijau. (Lihat 8 Etos Kerja Profesional, Jansen Sinambo)

Syukur harus dilakukan dengan tiga bentuk, yakni:

Pertama, syukur dengan hati. Syukur dengan hati adalah membayangkan dan merasa-rasakan kenikmatan dan senantiasa menghadirkan kesadaran adanya Pemberi nikmat. Perasaan itu harus diterjemahkan dalam bentuk cinta kepada Allah, Rasulullah, dan kitab Allah serta mengikatkan hati dan anggota tubuh kepada Sang Pemberi nikmat.

Allah meminta kita untuk senantiasa merenungi, menghayati, dan memikirkan kenikmatan-kenikmatan yang diberikan-Nya. Firman-Nya:

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (Luqman 20)

Kedua, syukur dengan lisan. Yakni melantunkan rasa syukur dalam bentuk pujian dan sanjungan kepada Allah serta menceritakan atau menampilkan kenikmatan (tahadduts bin-bi’mah) tersebut. Rasulullah saw. bersabda:

«مَنْ قال حين يُصبحُ : اللَّهمَّ ما أصبحَ بي من نعْمَةٍ ، أو بأحدٍ من خَلْقِكَ ، فَإِنَّها مِنْكَ وحدَكَ ، لا شَريكَ لَكَ ، لَكَ الحمدُ ، ولك الشُّكْرُ ، فقد أدَّى شُكْرَ يَوْمِهِ ، وَمَنْ قال مِثلَ ذلك حين يُمسْي ، فقد أدَّى شُكْرَ لَيلَتِهِ».أخرجه أبو داود .

“Barangsiapa mengucapkan di waktu pagi, ‘Ya Allah, segala kenikmatan diberikan kepadaku saat aku memasuki pagi hari atau kepada seseorang dari makhluk-Mu, maka sesungguhnya itu hanyalah dari-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Bagi-Mulah segala puji dan bagi-Mulah segala syukur’, maka sungguh dia telah menunaikan syukur hari itu. dan barangsiapa mengucapkannya di waktu sore maka sungguh ia telah menunaikan syukur malam itu.” (Abu Dawud)

Menceritakan atau menampilkan kenikmatan bisa dalam bentuk kata-kata. Jadi janganlah kita menjadi manusia yang hanya dikenal sebagai pengeluh, tidak ada yang keluar dari mulut kita selain penderintaan dan nestapa. Padahal banyak kenikmatan yang kita rasakan yang dapat kita ceritakan. Dengan cara ini seseorang akan senantiasa memiliki optimisme.

“Dan adapun dengan nikmat Tuhanmu maka ceritakanlah.” (Adh-Dhuha 11)

Allah juga menyukai orang yang menampilkan kenikmatan yang diterimanya. Bukanlah sikap terpuji, bila seseorang mempunyai kemampuan membeli pakaian yang bagus namun selalu memilih memakai pakaian yang lusuh dan membuat orang kasihan melihatnya. Padahal Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ » (رواه أحمد)
“Sesungguhnya Allah Yang Maha Gagah lagi Maha Mulia suka melihat bukti kenikmatan-Nya pada hamba-Nya.” (Ahmad)

Ketiga, syukur dengan seluruh anggota tubuh dalam bentuk amal badah. Inilah puncak kesyukuran seorang hamba kepada Allah swt. Firman-Nya, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah 152-153)

Urutan perintah dalam ayat itu adalah diawali dengan mengingat Allah yang berarti juga mengingat segala nikmat-Nya. Perintah berikutnya adalah mensyukuri nikmat-nikmat-Nya dan tidak mengingkarinya. Dan kesyukuran itu harus dibuktikan dengan melaksanakan berbagai ibadah yang diperintahkan-Nya.

(bersambung)

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *