Meretas Jalan Menjadi PENGUSAHA



عَنْ جُمَيْعِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ خَالِهِ قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ ص عَنْ اَفْضَلِ اْلكَسْبِ؟ فَقَالَ: بَيْعٌ مَبْرُوْرٌ وَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ.

Dari Jumai’ bin ‘Umair dari pamannya, ia berkata : Nabi SAW pernah ditanya tentang pekerjaan yang paling utama. Maka beliau menjawab, “Berdagang yang baik (menjaga kehalalannya) dan pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri”. [HR. Ahmad juz 5, hal. 368, no. 15836]



Seorang dosen di sebuah universitas negeri di Bandung dalam perkuliahannya telah mengobarkan semangat mahasiswanya untuk segera keluar dari kelas. Bukan untuk membolos melainkan membalas perkataan sang dosen dengan tindakan nyata. Memangnya apa yang yang dikatakan sang dosen? “Bapak lebih bangga mempunyai mahasiswa yang setelah lulus memilih jadi tukang cendol daripada bekerja pada perusahan bergengsi, karena dia telah jadi bos untuk dirinya sendiri sekaligus meretas jalan menjadi pengusaha!”.

Lewat kalimat berbeda hal ini pernah diutarakan oleh ahli marketing terkenal. Hermawan Kertajaya yang notabene bukan orang muslim dalam satu tayangan televisi pernah mengajak umat Islam untuk berwirausaha karena pada dasarnya pemimpin umat Islam yaitu Nabi Muhammad juga seorang pengusaha.

Pengusaha adalah profesi yang mulia. Bagaimana tidak, dalam otaknya dia memikirkan sedikitnya empat perut yang harus diberi makan dari seorang pegawai. Oleh sebab itu mata kuliah kewirausahaan (entrepreneurship) sekarang mulai berlaku di banyak universitas bahkan di sekolah teknik!.

Di tangan para pengusaha nantinya nasib Indonesia berada. Menjadi miskin atau makmur semuanya tergantung sebanyak apa pengusaha mau berkembang. Pengangguran yang menjadi pangkal kemiskinan dapat diatasi oleh para pengusaha.

Masih ingat krisis moneter yang terjadi saat 1998, banyak perusahaan asing atau lokal yang bergantung pada Dollar gulung tikar, perusahaan memberhentikan ribuan pegawainya. Namun anehnya Usaha Kecil dan Menengah meraup untung hampir menyamai franchise asing. Yang tidak dapat dimengerti kesuksesan usaha ini ikut menumbuhkan kreativitas, daya beli masyarakat bahkan menumbuhkan rasa nasionalisme.

Islam sangat mendorong umatnya menjadi pengusaha. Bahkan Islam menjanjikan dari sepuluh orang penghuni surga delapan diantaranya adalah pengusaha. Dan tak ada satupun perniagaan di dunia yang akan sukses kecuali perniagaan yang menyertakan Allah di dalamnya. Bagaimana agar Allah meridhoi usaha kita?

Jujur dan ‘Bersih’


عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: التَّاجِرُ اْلأَمِيْنُ الصَّدُوْقُ اْلمُسْلِمُ مَعَ الشُّهَدَاءِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ. ابن ماجه


Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Pedagang yang menjaga amanat, yang jujur lagi Islam bersama orang-orang yang mati syahid pada hari qiyamat”. [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 724, no. 2139, dla’if, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Kultsum bin Jausyan Al-Qusyairiy]


Mengapa Rasulullah sukses menjadi pengusaha di waktu muda? Salah satunya adalah jujur itu sebabnya beliau diberi gelar Al-Amin. Bersih yang dimaksud bukan saja bersifat fisik usahanya namun juga mentalnya. Tidak menipu atau berkolusi dalam perniagaannya.

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” [Q.S 83:1-3]


Pilihlah Perniagaan Syariah

Ini berlaku untuk perniagaan yang menghindari riba. Dapat juga diartikan dengan mencari pendanaan lewat lembaga yang mengedepankan syariah. Selain mengamankan, perniagaan syariah senantiasa menentramkan.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” [ Q.S. 2:278]

Zakat dan Sedekah

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” [QS.Al-Baqarah : 276]
Apabila telah mencapai nishab maka keuntungannya harus dizakatkan. Zakat ini dibayar setelah pendapatan dikurangi biaya operasional atau keuntungan bersihnya. Mungkin bagi yang tidak mengerti bayar zakat seperti beban layaknya pajak.

Namun dalam Islam zakat itu justru harta kotor yang bukan hak pemilik jadi harus dikeluarhan untuk para mustahik. Dan yakinlah disini berlaku rumus kebalikan, semakin anda mengeluarkan harta untuk zakat dan sedekah semakin bertambah harta anda.

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” [Q.S 2:245]

Pantang Menyerah

“Janganlah kamu merasa bahwa rizkimu datangnya terlambat. Karena sesunguhnya, tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya rizki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Maka, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram” [HR Abdur-Razaq, Ibnu Hibbanm dan Al-Hakim]

Menjadi pengusaha itu tidak mudah, ada sejumlah trial and error yang harus dilewati. Ibaratnya ingin memetik buah dari pohon yang tinggi. Anda dapat memetiknya dengan melompat, namun seketika itu juga anda jatuh termasuk kelelahan. Atau anda dapat bersabar dulu membuat undakan yang tinggi, langkahnya lebih lama namun yakinlah dengan cara ini semua buahnya akan terpetik.


Semoga bermanfaat.

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *