Setiap Hari adalah Hari Ibu

Lihatlah tempat kelahiran di KTP anda masing-masing, kebanyakan disitu pasti tertuliskan kampung ibu kita berasal. Bahkan bila anda mau repot merekam intonasi dan cara anda bicara, maka hasilnya tak akan berbeda dengan cara ibu anda bicara. Tak heran bila wawancara di perusahaan asing sering ditanyakan Mother Tongue Language bukannya Father tounge Language atau parahnya lagi Neighbor Tongue Languge.

Ibu hamil itu luar biasa. Jangankan mengingat bagaimana dengan penuh perasaan dia mengasuh kita sewaktu kecil, sejak dalam kandungan pun kasih sayangnya sudah tercurah secara Biologis. Ketika kita masih berupa janin seorang ibu harus ngidam hal yang di luar dugaan, dan biasanya ngidamnya justru sesuatu kesukaan kita ketika dewasa. Sesudah kita ditiupkan nyawa oleh Allah swt. porsi makanannya kita rebut.

Saat melahirkan lebih dramatis lagi. Demi melihat kita keluar menghirup dunia, seorang ibu rela meregang nyawa. Itulah sebabnya Allah menggolongkan seorang ibu menjadi para syuhada. Mereka seolah tak peduli apakah setelah kita dewasa menjadi orang yang penurut atau pembangkang padanya. Anehnya lagi ketika melahirkan seorang ibu justru mengingat ibunya yaitu nenek kita, bukan bapaknya. Kebanyakan justru kelahiran yang lancar ketika sang ibu berada di sampingnya.

Saat ibunya melahirkan sedapat mungkin mereka mendapatkan gambaran bagaimana saat dulu dia dilahirkan. Maka tak heran wanita berubah drastis ketika sudah menjadi ibu. Hampir seluruhnya kebiasaan saat lajang mulai ditinggalkan secara perlahan.


وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ


“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” [Q.S 46:15]

Sang anak, secara alami terkoneksi dengan sangat menakjubkan dengan para ibunya. Kita pasti pernah mendengar ada anak seumur 3 tahun sudah dapat menghapal banyak ayat Al-Quran. Bila dirunut ternyata sang ibu sering mengaji Al-Quran saat mengandung. Polisi menyadari benar hal ini, maka ketika mengejar buronan biasanya Polisi mencari ibunya terlebih dahulu.

Ketika wajah tuhan tidak lagi ditakuti, bayangkanlah wajah bunda –Ust. Yusuf Mansur/Uang Gampang Dicari.

Bila harus menuliskan bagaimana kasih sayang ibu tercurah mungkin perlu berjuta-juta kalimat. Itu sebabnya seluruh Negara di dunia memiliki tanggal masing-masing untuk memperingati Hari Ibu. Terlebih Indonesia yang menganut faham matrilineal dalam urusan nasab. Dan hari kemarin adalah tanggal 22 Desember.

Demikianlah sifat manusia. Semuanya harus ditandai dengan simbolisasi. Piala dibuat untuk menghargai para atlet yang mungkin latihannya bertahun-tahun, bahkan bila ditukar dengan harga jerih payahnya maka piala tak seperberapanya. Begitupun dengan kasih sayang Ibu, ditetapkanlah hari ibu padahal bila tak ada hari ibu pun kasih sayangnya rela tak terbalas. Seolah simbol yang ditunjukkan cukup untuk mewakili usaha bertahun-tahun.

Sebaiknya tak harus menunggu hari ibu untuk memperlihatkan bakti kita pada orangtua khususnya ibu. Untuk urusan ini jadikan setiap hari adalah hari ibu. Dengan begitu kita sepakat bahwa membhaktikan diri kepada ibu (orang tua) adalah wajib setelah menghambakan diri kepada Allah SWT.


وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا (٢٣)وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا


Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. [Q.S 17:23-24]


Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

There are 1 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *