Filantropis diwaktu Lapang & Sempit

Hari itu, di kota Madinah, terlihat kafilah panjang 700 kendaraan yang penuh dengan muatan. Semua yang melihat tidak ada yang tak takjub. Namun, seutas demi seutas tali perniagaan tersebut dilepas.
Ia memutuskan seluruh kafilah itu diserahkan kepada penduduk Madinah. Bahkan, menurut riwayat lain, ia malah menambahkan lagi dengan 40 ribu dinar, 500 ekor kuda, dan 500 ekor unta. Ia adalah seorang pengusaha sukses yang sangat dermawan. Ia begitu takut dengan kekayaannya yang melimpah tetapi bisa melupakan urusan akhirat. Dialah Abdurrahman bin Auf.

Ia bisa menangis, hanya karena sebuah gumaman yang keluar dari Aisyah ra yang berbunyi, kulihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan melangkah. Dengan gumaman itu pula Abdurrahman bin Auf menyadari bahwa harta dunia bisa melenakan dan melupakan tujuan hidup bahwa hidup ini harus diisi dengan kebaikan.

Subhanallah, dia berhasil menjadi filantropis atau dermawan sejati di tengah melimpahnya kekayaan.

Namun, sejarah telah menunjukkan bahwa menjadi seorang filantropis tidak selalu berada dalam kelapangan. Ada kisah indah yang semakin menguatkan bahwa memberi tak selalu memiliki kelebihan rejeki. Ketika itu datang kepada Rasulullah seorang laki-laki yang sedang kelaparan. Rasul segera mengirim utusan untuk meminta pada salah seorang istrinya.

Namun hasilnya hanya air minum. Lalu, Rasulullah pun menyuruh mendatangi istri-istrinya satu persatu, hasilnya sama.
Akhirnya Rasulullah bersabda, barang siapa yang malam ini berkenan menjamu tamu, niscaya Allah akan merahmatinya. Salah seorang sahabat Anshar berkata, “Aku, wahai Rasulullah”. Jawaban spontan itu keluar karena ia memang mengharap rahmat yang telah dijanjikan. Padahal, di rumahnya tidak ada makanan sedikitpun untuk tamu itu kecuali sisa makanan untuk anak-anaknya.

Maka ketika tamu itu datang ke rumahnya, orang Anshar dan istrinya hanya diam, duduk santun, dan menyuruh anak-anaknya tidur serta mematikan lampu sehingga tampaknya kelihatan seperti telah makan. Mereka ikhlas, sabar, bisa tersenyum walau perut mereka sama belum makan.

Allah pun takjub dengan akhlak keluarga Anshar itu hingga turunlah QS Al-Hasyr ayat 9 yang berbunyi, Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Subhanallah, mereka sama sekali tidak menunggu kaya untuk berderma.

Dari kedua kisah tersebut nampak jelas bahwa kita tidak bisa berkelit untuk tidak menjadi filantropis, Islam telah memberikan tips agungnya dalam Al-Qur’an.

Pertama,
harus menyadari bahwa semua harta yang kita miliki adalah milik Allah.

Kedua,
harus menyadari bahwa keberkahan harta bukanlah dengan dimiliki atau dikuasai sendiri, tetapi dengan berbagi.

Ketiga,
menyadari bahwa harta adalah sarana kebahagiaan dunia dan Akhirat.

Keempat,
Tidak pernah ada cerita orang yang menjadi miskin dan susah karena gemar bersedekah.

Kelima,
Berusaha menjadi lebih kuat dengan kaya itu lebih baik. Tetapi semuanya akan sia-sia dan menjerumuskan ke neraka jika tidak sabar dan syukur atas harta yang ditrima

Keenam,
Tidak ada yang menjamin bahwa sedekah dengan nilai yang banyak itu lebih baik dari yang sedikit. Karena Allah Maha Mengetahui

Imam Syahid Hasan Al-Bana telah mengatakan, “harta adalah kekayaan dalam kehidupan dunia. Islam tidak merendahkannya sehingga mengosongkan tangan kaum muslimi darinya. Namun tidak juga mengagungkannya hingga menjadikan kaum muslimin ambisius untuk meraihnya. Islam menjadikan harta sebagai sarana untuk kebaikan jika pemiliknya menghendaki kebaikan itu.”

Ketenangan dan kebahagiaan akan muncul pada diri kaum mukminin jika telah melakukan amalan kebaikan. Tidak bisa dinafikkan bahwa untuk melakukan suatu amalan diperlukan harta. Allah telah memerintahkan bahwa kita harus berjihad melalui jiwa, raga, dan harta.

Keinginan menjadi filantropis sangat menggiurkan bagi orang yang merindukan keimana dan keridhoan Sang Pemilik Kekayaan. Keinginan ini terbuka bagi siapa saja, keculai yang selalu memelihara kekikiran dan keserakahan. Wallahualam bish shawaab





Referensi:
Hikmah Republika: Adakah Allah Selalu Di Hatim. Jakarta: Republika, 2004;h.114-7 (dengan beberapa penyesuaian)

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *