Wudhu sebagai Pembersih Diri Manusia

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Nabi SAW. pernah berziarah ke kuburan. Ketika sampai di kompleks kuburan beliau berkata:
“Keselamatan atasmu wahai tempat kaum Mukmin, dan kita insyaAllah akan menyusul kamu dalam waktu dekat. Alangkah rindunya aku untuk segera dapat melihat saudara-saudara kita.”
Para sahabat yang mengiringi rasul bertanya:“Bukankah kami adalah saudara-saudaramu, wahai Rasulullah? Rasulullah saw. menjawab “kamu semua adalah sahabat-sahabatku dan saudara-saudara kita adalah yang belum datang (pada masa kita).”
Mereka bertanya lagi, “Bagaimana engkau mengetahui siapa yang belum datang dari umatmu, wahai Rasulullah?”
Beliau Bersabda, “Tidakkah engkau ketahui jika seseorang mempunyai kuda yang putih bercahaya berada di antara kuda-kuda yang hitam, apakah ia dapat melihat kudanya?”
Mereka pun berkata, “Tentu ia dapat mngetahuinya, wahai rasulullah.”
Beliau bersabda, “Sesungguhnya mereka akan datang nanti dengan wajah yang bercahaya karena bekas wudhunya.” (H.R. Muslim)
    

Engkau memang benar, wahai Rasulullah SAW. Tanda mereka terlihat di wajah mereka yang mengeluarkan sinar dari cahaya wudhu yang menerangi mereka. Adapun maksud kuda putih wajahnya adalah kuda yang warna putih kulitnya lebih banyak dari kulit hitamnya. Dan kuda ini dapat dengan cepat diketahui perbedaannya dengan yang lain, yaitu dari tanda khusus yang ada padanya.
    
Adapun manusia di hari kiamat kelak terdiri dari berbagai jenis warna dan kulit. Sebagian mereka ada yang wajahnya hitam disebabkan oleh kekafiran mereka dan sebagian lain wajahnya putih oleh keimanan, ibadah, dan ketaatan mereka yang baik, serta pengakuan mereka atas Tuhannya. Tidaklah sulit bagi Rasulullah saw. untuk membedakan saudaranya pada waktu itu.
    
Bekas wudhu adalah tanda dari shalat dan khusyuk di dalam ruku’ dan sujudnya. Ia adalah puncak ibadah dan ketaatan yang tertinggi. Dan kita wahai saudaraku tercinta sering mendengar pesan Rasulullah Saw. yang menyabdakan untuk melaksanakan shalat seperti Beliau shalat.
Nilai penting sebuah shalat tidak hanya berpahala, sebab hal ini dalah kewajiban yang semestinya dilakukan oleh manusia.

Bukan seperti orang-orang yang malas atau bahkan meninggalkan shalat, mereka beranggapan shalat adalah membutuhkan keluarbiasaan. Allah SWT sudah mencurahkan karunia yang maha dahyat kepada semua makhluknya, maka sangat wajar jika manusia ‘harus’ menjalankan kewajiban shalat kapan, dimanapun dan dalam kondisi apapun (kecuali uzur yang disyariatkan).
Berusaha khusyu’ dan berusaha membuktikan efek dari shalat yang telah dilakukan.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اَرَأَيْتُمْ لَوْ اَنَّ نَهْرًا بِبَابِ اَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ. هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟ قَالُوْا: لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ. قَالَ: فَذٰلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ اْلخَمْسِ يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ اْلخَطَايَا. مسلم

Dari Abu Hurairah bahwasanya ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sebuah sungai di depan pintu seseorang diantara kalian, lalu ia mandi di dalamnya sehari lima kali. Apakah masih ada daki (di badannya) sedikitpun ?”. Para shahabat menjawab, “Tentu sudah tidak ada dakinya sedikitpun”. Beliau bersabda, “Demikian itulah perumpamaan shalat lima (waktu), Allah menghapus dosa-dosa dengannya”. [HR. Muslim juz 1, hal. 462]

Jika kita mengetahui nilai sebuah sungai dalam membersihkan kotoran, kita juga akan mengetahui pengaruh wudhu. Mudah-mudahan Allah Swt. Melindungi dan menjadikan kita dalam golongan “saudara-saudara” yang sangat dirindukan oleh Rasulullah Saw. di al-haudh.

Shalat harus Nge-fek dong…

Shalat jalan terus, maksiat juga jalan…itulah istilah yang sering dilontarkan kepada sebagian dari kita. Padahal dalam Al Qur’an telah digariskan bahwa :

اُتْلُ مَا اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ اْلكِتٰبِ وَ اَقِمِ الصَّلوٰةَ، اِنَّ الصَّلوٰةَ تَنْهٰى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَ اْلمُنْكَرِ، وَ لَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ، وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Qur’an dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS. Al-‘Ankabuut : 45]

Seharusnya kita tidak hanya berdiri pada status mengerjakan, tetapi juga ‘mendirikan’. Sehingga kemungkinan masuk pada kategori lalai dalam shalat menjadi sangat kecil. Karena di akherat kelak ada juga orang-orang yang shalat tetapi tidak beruntung.

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ .الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, (QS.107:4-5)

Referensi:
– 50 Nasihat Rasulullah untuk Generasi Muda. Al-Bayan 2003
– Berbagai Sumber

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *