Menyibak Tirai Di Balik Tabu Menikah

Seorang akhwat dalam suatu hari pernah dibuat bingung dengan penuhnya pemilihan gedung untuk pernikahan. Sekalipun ada yang kosong, itu tejadi di bulan Shafar.

Tetap saja sang akhwat tidak memilih bulan tersebut karena tabu menikah di bulan Shafar. Padahal kalau seidkit mau menggunakan logika, dalam bulan tersebut harga gedung menjadi lebih murah dan tamu undangan tidak berbentrokan dengan acara pernikahan lain.

Di tempat lain, seorang akhwat benar-benar dibuat pusing dengan keputusan keluarganya untuk menikah di hari yang bukan saja hari kerja, namun kenyataannya adalah dia harus menunggu lebih lama lagi untuk menikah di tanggal tersebut. Orang tuanya memilih tanggal tersebut karena menurut mereka itu hari terbaik menurut weton dia dan pasangannya.

Itu adalah sebagian kisah yang banyak terjadi di masyarakat Indonesia yang menyebabkan tertundanya pernikahan. Kedua kisah itu didasarkan pada hal yang tak masuk akal, namun dengan pendidikan tinggi dan intelektualitas tinggi toh masih saja orang yang memilih menunda menikah.

Mengapa menunda menikah? Apa yang menjadi hambatan mereka memilih melajang. Padahal keberkahan menikah sudah pernah dijelaskan dalam artikel terdahulu. Bila kurang teryakini anda bisa membacanya lagi disini http://percikaniman.org/detail_artikel.php?cPub=Hits&cID=608


Belum Cukup Materi untuk Menikah.
Alasan ini adalah jawaban yang paling populer di kalangan lajang di masa sekarang. Kehidupan kota yang serba materialistis kebanyakan mendasari seseorang untuk menunda menikah. Hal ini bukan saja tidak relevan dengan ayat anjuran menikah, namun juga mengecilkan peran Allah dari kemampuanNya memberikan rejeki pada setiap insan.

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [Q.S 24:32]

Mengenai kesiapan materi ini ternyata bukan saja menjadi pikiran jangka panjang berumah tangga, namun sudah terjadi di saat merencanakan menikah. Terkadang tradisi merayakan pernikahan secara besar-besaran ikut mendasari penundaan menikah. Memang benar menikah itu harus di kabarkan namun bukan berarti pula harus memaksakan.

Belum Siap Mental untuk Menikah
Di banyak khutbah nikah sudah sering kita mendengar bahwa menikah itu tidak ada sekolahnya. Justru menikah adalah sekolahnya cinta, disitu terdapat pembelajaran bagi yang mau belajar, dan pastinya terdapat ujian.

Yakinlah bahwa sesiap apapun mental anda untuk mengingkari menikah, tidak akan sedikitpun mengurangi nilai ujian di dalamnya. Bersiaplah uji mental yang terjadi setelah pernikahan, bisa jadi akan lebih daripada yang dibayangkan dan yakinlah Allah tidak akan memberikan ujian diluar kemampuan hamba-Nya.

Tabu menikah karena Budaya
Islam telah tegas menghadapi sebuah kebudayaan atau perilaku dari nenek moyang. Ada yang dilanjutkan/disesuaikan dan ada pula yang dihapus dan harus dihilangkan. Ketika ingin merubah kebudayaan yang telah mendarah daging memang diperlukan waktu yang tidak sedikit. Bangsa ini mempunyai aneka kebudayan dan kebiasaan yang terkadang tidak masuk akal sehingga sering membuat para lajang menunda pernikahan.seperti kasus di atas.

Tak ada hari baik dalam Islam. Semua hari adalah baik, itulah sebabnya Allah menciptakan banyak hari untuk kita. Seandainya hari tertentu adalah baik bagi manusia, maka hari itu akan terjadi setiap waktu, intinya seperti apa yang kita lalui sekarang. Keputusan dalam memilih hari pernikahan bagi orang-orang beriman seharusnya didasari atas pertimbangan teknis seperti bukan magis..

Enggan Melangkahi Saudara yang Lebih Tua
Di daerah tertentu hal ini seolah masih berlaku. Biasanya hal ini terjadi pada kaum perempuan. Tak jarang karena begitu lamanya menunggu saudara tua-tuanya menikah, bukan saja menunda pernikahan tapi kemudian mereka menjadi sering berzina dengan alasan berpacaran.

Menyerah dalam Musyawarah
Sepertinya ini adalah kasus paling sering terjadi dalam urusan menunda menikah. Musyawarah adalah cara seorang muslim dalam mamutuskan sesuatu. Kebanyakan para pasangan enggan bermusyawarah demi kebaikan pernikahannya. Mereka seakan mengikuti saja perintah keluarga yang kadang-kadang jauh dari hal yang makruf berbantah-bantahan memang dilarang dalam Islam, namun berpegang teguh pada keyakinan yang benar apalagi baik, maka itu lebih utama.

Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah keni’matan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal. Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. [42:36-38]

Dan masih banyak deretan permasalahan kenapa harus menunda pernikahan padahal sebenarnya sudah siap. Mari kita renungkan, sudah syar’i kah alasan yang kita ambil? Sudah yakinkah dirimu bahwa Allah SWT selalu menolong hamba-Nya yang sedang menunaikan ibadahnya?

Humas PI

Humas PI

PERCIKAN IMAN ONLINE DIGITAL - Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *