Renungan Sebuah Cita-Cita Mulia

“Allah tujuan kami, Rasul panutan kami, Al Quran pedoman kami, Jihad jalan kami dan Syahid adalah cita-cita tertinggi kami”

Sahabat-sahabat semua pasti setuju dengan statment di atas? Pastinya, tapi… apa kita cuma mengharapkannya atau… ingin membuatnya menjadi nyata?Oke, yuk kita check sudah sejauh mana kita sudah merealisasikan statment itu.

Okz masih ingat ga Ustadz Aam pernah berbicara tentang ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta? Yups diantaranya yaitu ada rindu, rela berkorban dan ketika disebut namanya hati akan berdebar dengan kencang, dan kalau sudah jatuh cinta, apapun akan kita lakukan karena tujuan utama adalah mendapatkan simpati dari orang yang kita cintai.

Betul begitu bukan? Betul3x (kata upin ipin).

Sekarang pertanyaannya adalah sudah sejauh mana kita mencintai Allah hingga Allah menjadi tujuan utama kita?dan apa yang sudah kita usahakan untuk meraih tujuan itu?Rasanya malu ya, kalau dikasih pertanyaan itu…

“Saat aku bangun dipagi hari, Allah memandangku dan berharap aku akan berbicara kepada-Nya, walaupun hanya sepatah kata meminta pendapat-Nya atau bersyukur atas sesuatu yang indah yang terjadi dalam hidupku hari ini atau kemarin. Tapi aku begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja. “

Jika saat bangun saja Allah bukan tujuan pertama yang kita sapa, bagaimana bisa bisa mengatakan bahwa Allah adalah tujuan utama kita. Sedih sekali ya… Lalu statment selanjutnya bahwa Rasulullah adalah panutan kita semua. Adalah sebuah hal yang menarik kenapa kita mengidolakan seseorang.

Ada yang karena suaranya, wajahnya, gaya bicaranya, kepribadiannya dsb. Kalau kita ngefans sama Brad Pitt, Nicholas saputra or Afgan adalah tidak lain karena ada sesuatu di balik mereka, yaitu kelebihan, kelebihan inilah yang membuat kita ingin meniru, betul kan? Lalu sejauh mana kita ngefans sama Rasulullah?

“Ketika aku ditanya oleh adik kecil yang masih duduk di bangku TK, dan bertanya kapan Rasulullah lahir?Siapa ibu bapaknya?Bagaimana Rasululullah meninggal?Apa yang beliau amanatkan?tolong ceritakan kisah Rasulullah?Lalu, aku terdiam dan cepat-cepat menulis semua pertanyaan itu di msg dan kukirim kepada teman yang lebih tau dengan harapan temanku bisa membantu menjawabnya”

Jika kita tidak tau tentang Rasulullah, bagaimana kita bisa mengatakan bahwa Rasulullah adalah panutan kita semua? Sungguh ironis sekali jika kita dengan bangga menyebutkan bahwa jihad adalah jalan kita dan syahid adalah cita-cita tertinggi kita sementara kita belum mengenal Allah dan Rasulu-Nya, padahal jauh waktu kita masih dalam belaian tangan ibu kita sudah bernadzar (janji) kepada Allah. Kita sudah membuat MOU atau nota kesepakatan sama Allah.

Inilah yang disebut dalam Al Quran dengan transaksi yang menguntungkan. Saking Maha Sayangnya Allah sama kita semua, Allah sudah memberikan modal utama bagi kita semua yaitu menjdi seorang muslim alias ‘orang yang selamat’ Kita dari awal sudah diberikan tiket untuk menuju gerbang kebahagiaan atau untuk merealisasikan statment itu.

Asyhadu allaa ilaa ilaaha illallaah wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah

adalah rangkaian kalimat yang membuat pemuda secerdas Hamzah, Khalid bin Walid, bahkan seorang musisi Inggris Cat Stevens dan juga kita fall’in love sama Allah dan Rasul-Nya. Kalau sudah tau itu semua, kebangetan kan kalau kita masih terdiam dan ga bersemangat meraih Cinta-Nya? Senang nggak sih kalau hanya dengan mengucapkan dua kalimat ini bisa masuk syurga.. tidak ada rekayasa apapun..!!

Dari Mu’adz berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, barang siapa yang akhir katanya (ketika ajal menjempunya) ‘La ilaha illallah’ pasti dia masuk syurga.”

Semoga kita semua, sahabat-sahabat yang dirahmati Allah termasuk ke dalam orang-orang yang menjadikan Allah sebagai tujuan utamanya, menjadikan Rasul sebagai panutannya, jihad menjadi jalannya dan Syahid adalah cita-cita tertingginya. Amin ya Rabbal alamin. Semoga bermanfaat. iRm@

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *