Menilai Cermin dengan Benar

Mengenai judul di atas seluruh dunia sudah menuliskannya dalam kata-kata bijak ataupun pepatah. Dalam bahasa Inggris kita mengenal dengan istilah ‘don’t Judge a book from it’s cover’. Dan di Indonesia orangtua membekali petuah ‘tak kenal maka tak sayang’.

Ramah bagian dari Akhlak

Banyak orang yang menyepelekan berkenalan dengan orang baru. Seolah mengenalkan diri terlebih dahulu adalah tabu, oh keliru jaman sekarang orang menyebutnya gengsi.

Padahal dulu berkenalan menjadi hal yang biasa dilakukan oleh orang Indonesia, sehingga sampai sekarang Indonesia dikenal sebagai negara yang ramah. Menang dalam urusan menahan gengsi untuk mencoba ramah dengan berkenalan bukanlah hal yang membanggakan. Tak ada seorangpun dapat menduga kadang pintu rejeki terbuka ketika kita berkenalan.

Berkenalan secara tidak langsung membuat jiwa siap jadi pemenang. Karena ketika orang lain sibuk dengan pikirannya menilai orang, dia sudah siap’mengenal’ segala tentang dia.



يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
    


“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [QS.49:13]

Berkenalan Kunci Awal Perjodohan

Ayat ini biasanya ada di setiap kartu undangan pernikahan. Mungkin sebagian orang menganggap berkenalan itu hanya untuk yang akan menikah. Mungkin benar pada awalnya, namun lihatlah rejeki persaudaraan yang meluas dari hubungan pernikahan?.

Maka pada setiap persaudaraan yang lahir dari pernikahan terjalin silaturrahim yang semakin meluas daripada sedang melajang.



يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً


“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” [QS.4:1]

Berkenalan Bukti dari Husnudhon

Suudzon kadang menjadi penghalang. Keadaan terancam atau mungkin tersaingi adalah yang dihindari, oleh sebab itu banyak orang mencegahnya dengan berlindung lewat perspektif suudzon.

Mari kita hindari berburuk sangka, bila bukan karena ada pahalapun sebenarnya berbaik sangka membawa kita pada psikologi diri yang sehat dan terbuka.

Belum lagi sikap husnudzon senantiasa membawa diri selalu bahagia Masih jauh lebih baik ketika tidak kenal tapi semua orang tidak menganggapnya antipati atau berburuk sangka menilai orang.

Yang biasanya terjadi adalah ketika seseorang tidak kenal biasanya dianggap sombong atau judes. Padahal perkara kenal-mengenal ini sudah diatur dalam Al-Qur’an..

Ada sebuah trik kecil ketika suudzon terlintas datang kepada seseorang datang, yaitu tantang diri anda untuk tersenyum. Atau lebih baik lagi mencoba ramah bila memang berkenalan masih dianggap terlalu jauh.
Selalu yakinlah masih banyak orang baik di dunia ini, walaupun memakai ‘jaket’ persepsi yang salah.

Manusia masih sering menilai seseorang dari baju terluarnya. Percayalah terkadang kita harus berbaik sangka melihat orang di luar ‘jaket’nya. Bisa jadi kita mendapati orang tersebut baik hati, penuh pancaran kasih sayang, siap bersilaturrahim, membawa rizki bahkan jodoh.



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ


“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” [QS.49:12]


Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *