Santun dalam Mengkritik dan Dikritik


إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ



kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS.103:3)

Sebagai seorang muslim dan meyakini penuh bahwa Islam tidak bisa tegak dengan sendiri-sendiri maka interkasi kerjasama dengan saudara lain adalah penting. Bersama dalam bahagia dan sekaligus duka, tidak rela saudaranya terjerumus dalam jurang dosa dan kesesatan.

Maka wajiblah antara kita saling ingat, kritik dan nasehat. Dan wajib jugalah mau menerima kritik dan nasehat dengan lapang dada. Buka berpikir negative bahwa itu sebuah kebencian tetapi sebuah bukti kasih sayang dia atas kita.



عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: حَقُّ اْلمُسْلِمِ عَلَى اْلمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ: مَا هُنَّيَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: اِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلّمْ عَلَيْهِ، وَ اِذَا دَعَاكَ فَاَجِبْهُ، وَ اِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَ اِذَا عَطِسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمّتْهُ، وَ اِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَ اِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ. مسلم



Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Haqnya orang Islam atas orang Islam yang lain itu ada enam. Lalu (beliau) ditanya, “Apasaja enam itu ya Rasulullah ?”. Beliau menjawab, “1. Apabila kamu bertemu dengannya ucapkanlah salam kepadanya, 2. Apabila dia mengundangmu maka datangilah, 3. Apabila dia minta nasehat kepadamu maka berilah nasehat, 4. Apabila dia bersin dan memuji Allah maka doakanlah dia, 5. Apabila dia sakit maka jenguklah, dan 6. Apabila dia meninggal maka antarkanlah jenazahnya”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1705]

Puncak kesuksesan seseorang bermuara pada kelapangan dada dalam menerima kritikan. Namun, anehnya tidak semua orang suka dikritik, karena beranggapan kritik adalah penghinaan yang menurunkan harga diri dan mencemarkan nama baik. Padahal kalau kita bisa menyikapinya, kritikan tidak akan menjadi bumerang melainkan rezeki yang tidak disangka-sangka. Lalu, bagaimana caranya agar kita siap menerima kritikan orang lain?

Cara yang efektif untuk bisa berlapang dada dalam menerima kritikan, dapat diawali dengan teknik mencari tahu kelemahan diri dari kerabat terdekat. Teknik ini bukan untuk mencari kelemahan agar mudah dipersenjatai melainkan memudahkan kita dalam mengetahui kekurangan diri.

Orang terdekat akan lebih terbuka dalam memberikan kritikan. Kritik tersebut tidak hanya dalam hal keindahan, seperti cocok atau tidak baju yang kita pakai, akan tetapi mintalah dikritik mengenai perilaku kita. Apakah sudah sesuai dengan yang mereka harapkan? Juga apakah sikap kita aman bagi orang lain?

Bahkan dalam riwayat shahabat, beliau-beliau tidak segan bertanya adakah yang salah dengan diri saya? Adakah kesalahan yang sudah saya lakukan? Sehingga para shahabat yang lain akan memberikan penilaian dan tanggapan dengan santun dan sayang.

Dengan mengetahui kelemahan diri, maka akan memperjelas kekurangan diri sehingga termotivasi untuk terus melakukan perbaikan. Apabila teknik mencari tahu kelemahan diri ini dipraktekan secara kontinyu dan konsisten, bisa dipastikan akan terbangun sikap dan perilaku pengendalian diri. Karena ada orang-orang disekitar yang mengawasi sikap dan perilaku kita, selain Allah tentunya.

Ketika teknik mencari kelemahan diri dari kerabat terdekat tersebut sudah dikuasai, dengan sendirinya kita akan siap menerima kritikan dari orang lain. Kita tidak akan merasa dilemahkan oleh kritikan. Justru diuntungkan, karena sudah dibantu oleh orang-orang untuk memberikan masukan demi perbaikan diri.

Dan seseorang bisa berlapang dada menerima kritikan jika hatinya bersih. Dalam hati yang bersih terdapat kestabilan dalam mengatur diri. Sepedas apapun kritik akan dihadapi dengan ketenangan. Seandainya kritik itu benar, maka kita akan bersyukur karena ada yang mengingatkan. Dan bila kritik itu berada diluar diri-berupa fitnah-maka berusahalah untuk mengambil pelajaran darinya.

Untuk itu saudaraku, tidak ada kritik yang akan melemahkan diri. Kita tidak akan terhinakan oleh kritik dan kita pun tidak akan dipermalukan oleh pedasnya cacian. Semua perlakuan dari orang lain itu adalah rezeki. Karena ada kritiklah kita bisa lebih mendewasakan diri dan karena ada cacianlah kita dapat memperbaiki diri.

Jadi ketika menerima kritik, jangan langsung tergesa membela diri. Dengarkan, berpikir positif dan berterimakasih. Bagi yang akan mengkritik, perhatikan cara, waktu dan tempat. Jika dapat memilih maka pilihkan timing setepat mungkin, dengan bahasa dan komunikasi sebaik mungkin sehingga bisa efektif dan benar-benar menyuburkan silaturrahim dan keimanan. (iRm@)

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *