KEWAJIBAN MUSLIM DALAM MENGHADAPI UJIAN (1)

Rasulullah Saw. bersabda:
“Bersegeralah beramal sebelum ujian-ujian datang bagaikan gulita malam. Seseorang di pagi hari beriman dan di sore hari menjadi kafir serta di sore hari beriman dan di pagi hari menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan secuil dunia.” (H.R. Muslim)

“Sesungguhnya dunia ini manis dan menghijau. Dan sesungguhnya Allah mengangkat kalian sebagai khalifah di dalamnya. Maka hendaknya dia memperhatikan bagaimana seharusnya dia bekerja. Maka berhati-hatilah menghadapi dunia dan berhati-hatilah menghadapi wanita. Karena sesungguhnya awal bencana pada Bani Israil adalah urusan wanita.” (H.R. Muslim)

Dua hadits di atas menegaskan bahwa setiap muslim akan dihadapkan pada ujian. Tidak ada seorang muslim pun yang luput dari ketentuan Allah (sunnatullah) ini. Hadits pertama menjelaskan bahwa ujian yang menghadang manusia bisa berbentuk kenestapaan. Sedangkan hadits kedua menggambarkan bahwa ujian juga bisa berupa kebahagiaan dan keberhasilan duniawi.

Hadits-hadits tersebut sesuai dengan firman Allah Swt.,
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Q.S Al-‘Ankabuut [29]: 2-3)

“…Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan.” (Q.S. Al-Anbiyaa [21]: 35)

Hadits-hadits dan ayat-ayat di atas memberikan gambaran tentang tabiat dan hakikat kehidupan. Informasi ini amat penting bagi seorang muslim karena akan membantu dalam menyiapkan perbekalan untuk perjalanan menuju kebahagiaan akhirat. Orang yang akan berlayar di lautan, berbeda perbekalannya dengan orang yang akan melintasi gurun pasir atau pun merambah hutan belantara.

Kedua bentuk ujian (kenestapaan dan kebahaigaan) tersebut lebih konkrit disebutkan dalam firman-Nya,
“Dan ingatlah (hai para muhajirin), ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Medinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Anfaal [8]:26)

Pada ayat di atas, Allah Swt. menggambarkan kaum muslim mula-mula diuji dengan intimidasi (ujian pertama) yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Allah kemudian menolong dan memberikan kemenangan kepada mereka. Allah pun memberi mereka rezeki. Kemenangan dan rezeki (ujian kedua) itu adalah ujian untuk menakar kemampuan syukur kaum muslim.

Hadits di atas menyebut kata fitan yang artinya banyak ujian. Di antara ujian yang dihadapai seorang mukmin dalam beribadah, beramal saleh, menegakkan kebenaran, dan menyebarkan kebajikan adalah sebagai berikut.

Makar Orang-orang yang Tidak Beriman
Sejak awal, sejarah dakwah yang digulirkan oleh nabi-nabi sebelum Rasulullah Saw., selalu di hadang oleh orang-orang kafir. Untuk menghentikan laju dakwah itu, mereka melakukan berbagai upaya mulai dari rayuan hingga pembunuhan. Dalam Al-Quran, Allah Swt. banyak mengingatkan kita (kaum mukminin) tentang makar orang-orang kafir ini. Salah satu hikmahnya adalah agar kita senantiasa memiliki kesiapan mental saat menghadapinya.

“Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.’” (Q.S. Saba’ [34]:34)
Khusus untuk Rasulullah Saw., Allah Swt. menggambarkan ujian dalam bentuk makar orang-orang kafir dalam firman-Nya,

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (Q.S. Al-Anfaal [8]:30)

Allah Swt. menegaskan bahwa orang-orang kafir tidak akan pernah berhenti memusuhi dakwah. Firman-Nya,
“…Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Baqarah [2]:217)

Harus diingat bahwa pemurtadan yang paling ampuh bukanlah pemaksaan (agar mukmin keluar dari agama), melainkan rayuan budaya, gaya hidup, ideologi, dan bentuk serbuan pemikiran (al-ghazwul-fikri) lainnya.

Kezaliman Penguasa
Kekuasaan yang dijalankan dengan kezaliman mempunyai peran penting dalam merintangi tegaknya kebenaran dan dilaksanakannya ibadah serta perjalanan dakwah. Dalam sejarah, tercatat para ulama yang menjadi korban kekejaman penguasa zalim. Sebut saja Sa’id Bin Zubair, Imam Ahmad, dan Imam Ibnu Taimiyyah yang tatap istiqamah menegakkan kalimat Islam meski mereka harus berhadapan dengan penguasa yang kejam.

Tidak perlu jauh-jauh, di negri kita sendiri, hal itu (kekejaman penguasa) pernah kita saksikan dan rasakan. Di tahun 80-an, tidak sedikit para dai yang dijebloskan ke bui dan diintimidasi hanya gara-gara bersikap kritis dan melakukan amar makruf nahyi munkar. Para siswi dan mahasiswi pun dilarang mengenakan jilbab di sekolah dan kampus negri. Wajar jika Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kita sebuah doa yang penggalannya berbunyi, “Dan jangan engkau berikan kekuasaan kepada orang yang tidak mengasihi kami.”

Kedengkian Sesama Muslim
‘Batu sandungan’ juga bisa datang dari sesama muslim atau bahkan dai. Bentuknya bisa bermacam-macam semisal sikap iri dan dengki atas keberhasilan yang dicapai orang lain.

Kata ‘batu sandungan’ sengaja saya beri tanda kutip karena hal itu tidak selalu berakibat buruk bagi orang yang didengki. Sebaliknya, bagi si pendengki belum tentu hal itu menjadi sesuatu yang produktif dan mengantarkan ia pada keinginannya.

Rasulullah Saw. menegaskan, “Tidak ada seorang pun yang menghinakan seorang muslim di satu tempat di mana ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan menghinakan orang (yang menghina) itu di tempat yang ia inginkan pertolongan-Nya. Dan tidak seorang pun yang membela seorang muslim di tempat di mana ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan membela orang (yang membela) itu di tempat yang ia menginginkan pembelaan-Nya.” (H.R. Ahmad, Abu Dawud, Ath-Thabrani)

Rongrongan Keluarga

Tidak kalah seriusnya, rintangan justru bisa juga datang dari orang-orang terdekat dan tercinta. Anak, istri, suami, serta ayah atau ibu bisa menjadi aspirasi atau penambah semangat beribadah dan menegakkan kebenaran.

Tapi dalam waktu yang sama, mereka juga dapat menjadi penghalang serta pemaling jalan kebenaran, kejujuran, dan ketaatan kepada Allah. Bisikan, tuntutan, atau ambisi-ambisi keluarga boleh jadi menyebabkan seseorang berat untuk melangkahkan kaki dalam melaksanakan perintah-perintah Allah Swt. Oleh karen itu, Allah Swt. mengingatkan orang-orang beriman dalam firmannya,

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Q.S. At-Taghaabuun [64]:14-15)

Peran Setan

Yang disebutkan di atas hanyalah penyebutan beberapa contoh ujian kehidupan bagi orang beriman. Tentu saja, setan wajib kita posisikan sebagai musuh nyata dan tantangan abadi bagi orang beriman. Bagi setan, semua ujian yang disebutkan di atas bisa dijadikan senjata untuk menembus jantung pertahanan orang beriman.

Senjata-senjata itu akan efektif bila setan berhasil mengendalikan, menggalang kekuatan, dan melakukan kerjasama dengan musuh dalam selimut yang ada pada setiap manusia, yakni hawa nafsu.

Jangan khawatir, kita semua bisa selamat menghadapi berbagai ujian tersebut dan bertahan dari provokasi setan dengan ikhtiar yang optimal. Nah, apa sajakah ikhtiar yang wajib kita lakukan? Dapatkan jawabannya pada tulisan mendatang.

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *