Pembersihan Hati


إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ


Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya MEREKA bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, MEREKA bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (QS. Ali Imran : 120)

Apakah kita termasuk seperti MEREKA?

Seketika dada ini berdegub kencang saat mengetahui salah seorang saudara kita memperoleh kesuksesan, dan kita merasa bahwa ia telah mengungguli kita. Kemudian kekhawatiran membuncah dari dalam hati bahwa saudara yang telah mendapatkan kesuksesannya itu akan bersikap sombong kepada kita sementara kita sendiri hanya bersungut-sungut tidak bisa mengunggulinya.

Jiwa ini tidak kuasa menanggung kesombongan dan kebanggaan saudara kita itu, sebab kita hanya bisa menerima kesejajaran dengan orang lain namun tidak bisa menerima jika orang lain mengungguli kita. Bahkan mungkin, kita bersumpah agar orang itu kehilangan nikmatnya hingga tetap sama dengan kita yang tidak mendapat nikmat. duh Saudaraku, tamak sekali kita …

Saudaraku, jika demikian, sungguh kita tak bedanya dengan saudara-saudara nabi Yusuf kecuali Bunyamin yang merasa ayah mereka tidak lebih mencintai mereka. Sehingga mereka harus menyingkirkan Yusuf agar kemudian cinta dan perhatian ayah mereka tertumpah kepada mereka saja.


فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ


Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS. Al Israa : 37)
Kita sering merasa lebih cantik, lebih tampan, lebih memiliki segalanya, sehingga yang tergambar dalam hati dari kebanggaan akan diri itu adalah bahwa harus selalu kita yang lebih dulu mendapatkan segala kenikmatan. Sakit dada ini, rasa benci mencuat terhadap orang lain yang mendahului.

Misalnya, ada saudara yang mendapatkan nikmat dari Allah berupa suami yang sholeh, tampan dengan segala kelebihan lainnya, kita merasa bahwa seharusnya kita lah yang lebih berhak mendapatkannya, bukan dia. Atau setidaknya kita berharap agar kita juga mendapatkan yang serupa agar saudara kita itu tidak mengungguli kita. Namun ketika Allah belum juga memberikan karena hendak menguji kesabaran hambanya, kita marah dan kesal. duh Saudaraku, tamaknya kita …



وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا



Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS.An Nissa:32)
Masihkan kita terus merasa gundah dan tersiksa jika saudara kita mendapatkan kenikmatan-Nya?

Di pertiga malam, mata ini begitu sembab dengan linangan air mata harap akan ampunan Allah. Dalam setiap do’a, tercukil keinginan agar Allah melimpahkan rezeki dan nikmat-Nya kepada kita.

Namun, ketika Allah menguji kesabaran kita dengan menunda rezeki itu, kita marah, putus asa, bahkan berpikir bahwa Allah tidak mendengar do’a dan permintaan kita. duh Saudaraku..bukankah Allah Maha menepati janji.



وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ


Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka HENDAKLAH mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS.Al Baqarah:186)
Saudaraku..kita rajin berdoa, rajin optimis, rajin ikhtiar tapi jangan lupa yang di persyaratkan Allah SWT. Saudaraku..kita rajin berdoa, rajin optimis, rajin ikhtiar tapi siapkan juga jika terkabulnya Doa terpending atau tidak diterima.

Kita tahu bahwa hidup tidak mungkin tanpa cobaan, kita begitu mengerti bahwa sebagai orang beriman tentu harus diuji keberimanan ini. Bahkan kita juga memahami bahwa Allah tidak akan memberikan beban, ujian, amanah di luar batas kemampuan makhluk-Nya.

Namun betapa sering kita mengeluh, menangis, merasa keberatan dengan semua ujian hidup ini. Kita juga merasa putus asa karena Allah belum juga mengakhiri cobaan dan penderitaan hidup ini. Lalu kita merasa bahwa hanya kita yang mendapatkan ujian begitu berat. duh Saudaraku, …


أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ


Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS.Al Isra : 142)
Tahukah saudaraku, bahwa dengan begitu berarti kita telah membenci ketentuan (qadha’) Allah, tidak suka kepada nikmat-Nya yang telah dibagikan di antara para hamba-Nya, dan tidak mau menerima keadilan-Nya yang ditegakkan-Nya dalam kerajaan-Nya dengan kebijaksanaan-Nya yang tersembunyi bagi kita, kemudian kita mengingkari dan menganggap buruk hal tersebut.


وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ


Dan ingatlah ketika Tuhan mu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (tidak mau bersyukur), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim :7)

Setiap orang yang beriman digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang memiliki pesona, beliau bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu’min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)

Indahnya menjadi manusia Beriman….

Humas PI

Humas PI

PERCIKAN IMAN ONLINE DIGITAL - Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *