SABAR DALAM BERIBADAH

Ibadah Haji bertamu di rumah Allah merupakan cita-cita semua umat Islam. Ibadah yang satu ini cukup berat, selain membutuhkan bekal dan persiapan yang tidak sedikit. Ibadah ini memakan waktu persiapan, proses dan kembali ke tanah air dalam waktu yang panjang, bisa 1 bulan bahkan lebih.

Allah swt menjanjikan kemabruran dan pahala syurga bagi yang mendapatkannya. Tetapi untuk mendapatkan kemabruran dan kekhusyuk-an ketika melakukan ibadah haji perlu kesabaran dalam prosesnya.
Sebagaimana diketahui bahwa terdapat 3 macam kesabaran didalam kehidupan seorang muslim
1. Kesabaran dalam kemaksiatan
2. Kesabaran dalam ketaatan
3. Kesabaran dalam musibah.

Pada umumnya setiap jiwa akan lari dari kesusahan, kesulitan, kepayahan maupun pengorbanan, sementara setiap ibadah yang diperintahkan Allah swt membututuhkan hal-hal diatas karena itu dibutuhkan kesabaran terhadap itu semua didalam melakukannya.

Tak diragukan lagi bahwa seorang yang melakukan ibadah haji diharuskan bersabar tatkala meninggalkan keluarganya di negeri asalnya, bersabar dengan berbagai manasiknya, bersabar dengan segala ujian dan cobaan selama berada di tanah haram.

Untuk itu seorang yang berhaji ke baitulah memerlukan kesabaran atas ketaatannya itu dalam beberapa hal keadaan, diantaranya :

1. Menjaga keikhlasan hati sebelum berangkat, ketika dan proses pulang haji, yaitu dengan senantiasa menjaga kelurusan niatnya, ikhlas semata-mata karena Allah swt dan membersihkannya dari berbagai virus riya, nifak, ghurur dan penyakit-penyakit hati lainnya.

Karena akan banyak sekali godaan dan ujian dalam proses ibdah tersebut, dari hal yang (dirasa) kecil sampai dengan hal besar.
Sebagaimana dituntut Allah swt terhadap setiap orang yang beribadah kepada-Nya :


وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ


Artinya : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah : 5)

Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Umar bin Khottob bahwa dia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan.”
Ikhlas akan melahirkan kesungguhan (jahada) dan totalitas dalam beribadah.

2. Dilarang malas dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.
Ketika melakukan haji, yaitu tidak melalaikan Allah swt saat melakukannya serta menghilangkan rasa malas dalam menunaikan berbagai kewajiban dan sunnah-sunnah haji hingga akhir pelaksanaannya.

Bisa jadi ini merupakan detik terakhir, sebelum dipanggil Allah SWT. Dengan begitu ia akan bersabar dari berbagai dorongan dan keinginan untuk berhenti dari menyelesaikannya.


وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُم مِّنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ



Artinya : “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang Tinggi di dalam syurga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah Sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya.” (QS. Al Ankabut : 58 – 59)

3.Menghilangkan bisikan Riya’.
Setelah Haji, yaitu tidak menyiarkan dan memamerkannya karena riya’ atau hanya untuk mendapatkan pujian maupun sanjungan manusia. Menjauhi sifat ujub dan segala sifat yang dapat membatalkan amal-amal manasiknya, sebagaimana firman Allah swt :



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ


Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” (QS. Muhammad : 33)



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى



Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al Baqoroh : 264)

Karena pada dasarnya, ciri mendapatkan predikat mabrur adalah menjadi lebih baik, setelah pulang dari haji. Semakin beriman dan bertaqwa, dan selelu memperbaiki kualitas hubungan dengan Allah dan sesasama makhluknya.

Semoga Allah swt memberikan karunia kepada anda dengan haji yang mabrur yang tidak ada balasan bagi seorang yang mendapatkan haji mabrur kecuali surga-Nya.

– Kiriman dari Jamaah MPI-

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *