Mendidik Anak dengan Tauladan

Alhamdulillaah, saya ucapkan selamat kepada Anda sekarang sudah menjadi orangtua. Mudah-mudahan Anda bisa menjadi orangtua yang amanah dan keluarga dikaruniai kebaikan-kebaikan serta bakti dari sang buah hati.

Banyak orangtua yang bertanya mengenai cara mendapatkan anak yang saleh. Namun, terkadang mereka lupa kalau anak saleh tidak didapatkan begitu saja saat dilahirkan. 

 

Orang bijak berkata bahwa seorang bayi yang baru lahir ibarat kertas putih tanpa noda. Orang yang pertama kali menulisi kertas tersebut adalah orang terdekatnya, yaitu orangtuanya. Bagus tidaknya tulisan yang dihasilkan bergantung kepada mereka. Apakah kertas itu akan diisi oleh coretan tanpa makna ataukah sebuah karya yang indah dan mengagumkan.

Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang memberikan contoh yang baik dalam Islam maka baginya pahala atas perbuatan baiknya dan pahala orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tidak menghalangi pahala orang-orang yang mengikutinya sedikit pun. Dan barangsiapa yang memberikan contoh yang buruk di dalam Islam maka baginya dosa atas perbuatannya dan dosa orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tanpa mengurangi sedikit pun dosa orang-orang yang mengikutinya” (H.R. Muslim).

Salah satu isi “tulisan” yang hendaknya orangtua dituangkan dalam kertas putih seorang anak adalah teladan yang baik. Anak akan lebih mudah memahami sesuatu perbuatan jika ia melihat contoh langsung dari orangtuanya. Sederhananya, mereka akan bisa melakukan kebaikan jika melihat orang-orang di sekelilingnya melakukan kebaikan.
Orangtua adalah guru dan orang terdekat yang harus jadi anutan. Orangtua harus bisa menjadi figur ideal bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, kita sebagai orangtua dituntut untuk bekerja keras memberikan contoh dalam berperilaku. Insya Allah dengan begitu, anak akan mudah diingatkan secara sukarela.

Salah satu praktik pemberian teladan yang baik bagi anak adalah kesamaan antara ucapan dan perbuatan. Bagaimanapun, perbuatan dan tingkah laku jauh lebih mudah diingat bila dibandingkan hanya sebatas kata-kata.

Lalu, sikap apa saja yang harus ditunjukkan agar kita bisa menjadi teladan bagi anak-anak kita?

Pertama, menghargai orang lain. Bila mengharapkan buah hati mampu menghargai perasaan dan hak orang lain, kita harus memulainya dengan menghargai perasaan dan hak mereka. Tunjukkan kepada mereka bahwa setiap orang berbeda dan memiliki kepribadian yang unik. Tunjukkan pada anak bahwa kita mau dan bisa menghargai perbedaan tersebut. Hal ini akan sangat bermanfaat sebagai bekal ketika anak mulai berinteraksi dengan kawan-kawan sebayanya.

Kedua, sopan santun. Kata-kata sederhana seperti “maaf”, “terima kasih”, dan “tolong” harus sering kita ucapkan. Hal ini akan membuat anak meniru dan memahami bahwa bersikap sopan merupakan bagian dari perilaku dalam kehidupan. Perlihatkan pula sikap menghargai orang-orang di sekitar kita. Tunjukkan dalam interaksi sehari-hari saat kita memperlakukan orang-orang yang lebih tua, saudara sebaya, dan keponakan yang berusia lebih muda.

Ketiga, tegas. Sikap tegas seseorang dibentuk dari lingkungannya. Lingkungan yang kurang mendukung ketegasan dapat membentuk pribadi yang lemah. Ciri-ciri seseorang dengan kepribadian tidak tegas adalah kurang percaya diri, mudah mengikuti arus, dan sering bertindak gegabah.

Keempat, tunjukkan antusiasme. Antusiaslah dengan apa pun yang sedang kita kerjakan. Jangan terlihat malas dan ogah-ogahan karena antusiasme adalah kunci produktivitas dan inovasi. Penelitian menunjukkan anak-anak berprestasi selalu menunjukkan antusiasme pada hal-hal yang sedang dikerjakannya dan tentu saja hal itu biasanya mereka dapatkan dari contoh terdekatnya, yaitu keluarga.

Masih banyak lagi cara yang bisa dilakukan untuk memberikan teladan kepada anak-anak kita. Apa yang saya tuliskan di atas hanyalah beberapa contoh saja. Intinya, orangtua adalah cermin bagi anak-anaknya. Kita harus mulai menyadari bahwa kesalahan yang dilakukan anak tidak serta merta murni kesalahan mereka, tetapi di dalamnya terdapat andil kesalahan dari cara didik orangtuanya. Wallaahu A’lam

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *