Apa yang salah ketika Mendidik Anak

“Apa yang salah dengan caraku mendidik anak? Semua yang terbaik untuk anak telah kuberikan, segala kebutuhannya telah kulengkapi, namun tetap saja dia tidak bisa menjadi juara dikelasnya, dia juga tidak mau berteman dengan teman-teman lainnya, dan parahnya bukannya suamiku membantuku dalam mendidik anak, malah menyalahkan aku tak bisa dalam mendidik anak, apa yang salah?”

Ucapan seperti itu sering sekali terdengar ketika para ibu sedang menunggu anaknya pulang sekolah, atau ketika arisan ibu-ibu berlangsung, atau ketika ibu tersebut mengeluhkan kepada guru pembimbingnya di tempat kursus.

Lalu sudah benarkah langkah yang diambil, ketika kebutuhan anak semuanya kita penuhi, anak dikursuskan ke tempat les yang berkelas dan dipenuhi jadwal lesnya sehingga dia tak memiliki waktu luang lagi untuk bermain dengan teman-temannya?

Atau salahkah ketika orangtua sudah rela mengeluarkan biaya yang tidak sedikit hanya untuk menyekolahkan anaknya disekolahan yang elit??

Apa sebenarnya kesalahan-kesalahan kita sebagai orang tua yang terkadang sering diabaikan, walaupun secara kasat mata semuanya sudah diberikan yang terbaik?

1. Salah Tujuan

Seringkali orangtua menyekolahkan anak karena malu pada tetangga bila anaknya “tidak pintar” atau kalah kecerdasannya, atau khawatir kelak anaknya tidak mendapat pekerjaaan yang layak. Atau, si orangtua hanya ingin agar anaknya nanti menjadi pengawai negeri dan pejabat tinggi yang banyak harta dan hidup mapan. Padahal, orangtua haruslah berangkat dari niat menjalankan perintah Allah, yaitu memenuhi kewajiban hamba sebagai orangtua yang memang dituntut untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang bertakwa dan shalih, yang menjadi simpanan abadi di akhirat kelak.

عَنِ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِذَا مَاتَ اْلعَبْدُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ. صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, “Apabila seorang hamba meninggal dunia, maka terputuslah amal-amalnya kecuali 3 hal. Sedekah jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan orang, atau ANAK SHALIH yang mendoakannya”. [HR. Bukhari]

 
2. Salah Teladan

Keteladan memiliki pengaruh kuat dalam proses pendidikan anak. Perilaku orangtua maupun guru berdampak kuat bagi pembentukan kematangan pribadi sang anak. Teladan yang salah akan membuat anak terdidik di atas kebiasaan buruk dan perilaku negatif. Karena itu, orangtua harus memilih pendidik yang menjunjung tinggi nilai-nilai akidah dan moral, serta memiliki kelebihan ilmu dan amal dibanding murid-muridnya.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  ص: مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ  اِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى اْلفِطْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوّدَانِهِ اَوْ يُنَصّرَانِهِ اَوْ يُمَجّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ اْلبَهِيْمَةُ بَهِيْمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّوْنَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟ ثُمَّ يَقُوْلُ اَبُوْ هُرَيْرَةَ رض: فِطْرَتَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا، لاَ تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ، ذلِكَ الدّيْنُ اْلقَيّمُ. البخارى

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tiadalah anak yang terlahir kecuali terlahir atas fithrah, maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi, sebagaimana binatang ternak yang terlahir dengan sempurna, maka apakah kamu lihat ada telinganya yang terpotong ?”. Kemudian Abu Hurairah RA membaca, Fithrotallooh, allatii fathoron naasa ‘alaihaa. Laa tabdiila likholqillaah, dzaalikad diinul qoyyim”. (HR. Bukhari)

 
3. Salah Metode Pendidikan

Bisa saja pelajaran yang diberikan kepada sang anak sudah baik, tapi cara penyampaiannya yang tidak tepat, sehingga tujuan dan target pendidikan tidak tercapai, atau anak didik menjadi gagal. Mendisiplinkan anak-anak dengan sanksi kekerasan fisik, misalnya, hanya membentuk anak berwatak keras. 

فَبِمَا رَحَمْةٍ مّنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَ لَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ اْلقَلْبِ لاَنْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. [QS. Ali Imran : 159]

 
Sebaliknya, memberi toleransi yang berlebihan akan membuat anak semakin manja. Anak yang selalu diluluskan permintaan materinya akan tumbuh menjadi anak yang cinta dunia, sementara anak yang biasa diabaikan permintaannya, bisa punya kebiasaan mencuri. Di sekolah, anak hanya dicecar dengan hafalan, tapi kurang diajak memahami suatu permasalahan.

Sobat…Itu hanya sedikit dari kesalahan-kesalahan yang terkadang oleh kita sebagai orangtua menganggap semuanya adalah yang terbaik untuk anak, padahal belum tentu demikian. Terlebih anak akan mengalami dilema ketika dia mendapatkan pengajaran yang berbeda dari ayah dan ibunya. Misalnya ibunya mengajarkan bahwa ini salah, tetapi ayahnya membenarkan.

Anak akan mengalami kebingungan, dan lebih salah lagi jika kita berdebat didepan anaknya. Alangkah bijaknya ketika pengajaran anak sepaham, sejalan jika seorang suami sudah memberikan kepercayaan kepada istrinya dalam mendidik, maka percayakan saja dan suami cukup ikut mengawasi, jikalau pun ada yang harus diperbaiki itu tidak didepan anak.

Mengarahkan masa depan anak merupakan salah satu bentuk pencapaian tujuan jangka panjang. Bagaimana bentuk masa depan anak di masa yang akan datang sangat dipengaruhi oleh visi, prinsip, dan sikap hidup orang tuanya. Orang tua harus jeli dalam menyeting masa depan anak. Dahulukan kasih sayang, lihatlah mereka menjadi pribadi2 yang membanggakan, yang melanjutkan keberadaan kita dikehidupan dimasa depan.

 

يايُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا قُوْآ اَنْفُسَكُمْ وَ اَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَ اْلحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَّ يَعْصُوْنَ اللهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai (perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [QS. At-Tahrim : 6]

Anak itu akibat bukan sebab, karena anda mengizinkan yang tidak baik untuk dilakukannya, maka dia terbiasa untuk tidak baik. Sehingga kalau anda marah karena anak melakukan yang tidaa baik, anda harus cek apa yang telah anda izinkan selama ini. Anda melarang hal2 yang menjadikannya pandai, yang menjadikannya kreatif, jadi kalau mereka menjadi tidak agresif dan cenderung pendiam, harus cek apa yang telah anda larang padanya. Jadi kalau kita mau teliti apa yang menjadi penyebab kemarahan kita kepada anak-anak,  sebetulnya kitalah yang menjadi penyebab kemarahan bagi diri kita sendiri.

 

Jangan Pernah LUPA  Berdoa

Segala usaha, segala upaya dalam mendidik anak dalam rangka menjadikan keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah tidak akan pernah terwujud tanpa ijin Allah SWT. Maka ketika usaha telah dimaksimalkan maka DOA memiliki peran utama.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَ ذُرّيـَّاتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

 

Ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. [QS. Al-Furqaan : 74]

 
–irM@–

Humas PI

Humas PI

PERCIKAN IMAN ONLINE DIGITAL - Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *