LIDAH; SURGA ATAU NERAKA? (3)

Rasulullah bersabda, “Inginkah engkau aku beri tahu tentang kepala (pokok) segala urusan, tiangnya dan puncaknya?” Aku menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Kepala segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.” Rasulullah Saw. mengatakan lagi, “Inginkah engkau aku beritahukan tentang penguat itu semua?” Aku menjawab, “Ya, wahai Nabi Allah.” Maka Rasulullah Saw. memegang lidahnya seraya mengatakan, “Tahanlah (peliharalah) ini (lidah) olehmu.” Aku mengatakan, “Wahai Nabi Allah, akankah kita dibalas gara-gara omongan yang kita ucapkan?” Rasulullah Saw. menjawab, “Ibumu telah kehilangan kamu! Tidaklah manusia dibenamkan ke dalam neraka -dimulai dengan wajah mereka atau lubang hidung mereka- melainkan buah dari lidah-lidah mereka?”
(H.R. At-Tirmidzi, hadits hasan)

***

Hal yang dikemukakan pada tulisan terdahulu adalah beberapa contoh tentang pekerjaan lidah yang dapat membawa pemiliknya ke surga. Lalu, hal apakah yang harus dihindari lidah agar tidak membawa pemiliknya ke neraka?

1. Menyekutukan Allah
Hal terburuk yang dilakukan manusia dalam hidupnya adalah kemusyrikan (menyekutukan Allah dengan makhluk). Lidah mempunyai peran besar dalam menjerumuskan seseorang ke dalam kemusyrikan. Allah berfirman dalam salah satu ayat-Nya,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia Mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia Kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, sungguh dia telah tersesat jauh sekali.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 116)

Lidah menjadi salah satu alat pembuktian iman. Sebagaimana sering dijelaskan, iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lidah, dan melaksanakan dengan anggota badan. Maka, lidah juga bisa menghancurkan iman itu sendiri.

Banyak bentuk kemusyrikan yang dilakukan oleh lidah. Jika seseorang secara eksplisit mengatakan, misalnya, “Waduh gelang ini telah menyelamatkan hidup saya,” atau “Jika saya waktu itu tidak pakai gelang ini, pasti saya sudah mati,” maka dia telah menyekutukan Allah. karena pada hakikatnya tidak ada yang dapat memberi manfaat dan bahaya selain Allah Swt.

Ketika seseorang berdoa dan meminta kepada orang yang sudah meninggal dunia dengan mengatakan, “Duhai Syekh Fulan, tolonglah kami dan keluarkanlah kami dari segala kemelut kehidupan ini. Kami menyimpan harapan begitu besar kepada engkau…,” itu pun bentuk kemusyrikan. Allah Swt. telah berfirman:

“Dan jangan engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah, sebab jika engkau lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.” (Q.S. Yunus [10]: 106)
Bahkan, kita dilarang mengatakan: “Sesuai kehendak Allah dan kehendak engkau.”

Yang benar adalah: “Sesuai kehendak Allah kemudian kehendak engkau.”
Apa perbedaan kedua kalimat di atas? Kalimat pertama menyandingkan kehendak Allah dengan kehendak manusia dan menempatkan keduanya pada posisi yang sama. Itulah kemusyrikan. Sedangkan kalimat kedua menjadikan kehendak manusia berada di bawah kehendak Allah Swt.

2. Ghibah
Kejahatan lidah lainnya adalah ghibah alias menggunjing atau membicarakan keburukan orang lain. Buruknya ghibah diibaratakan seseorang yang memakan daging bangkai saudaranya.

Allah Swt. mengingatkan kita dengan firman-Nya:

“…Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Hujurat [49]: 12)

Berkaitan dengan hal tersebut, marilah kita simak hadits berikut.

Rasulullah Saw bersabda, “Tahukah kalian apa ghibah itu?” Para shahabat berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Kemudian beliau mengatakan, “Engkau menyebut-nyebut saudaramu tentang sesuatu yang dibencinya.” Ditanyakan, “Bagaimana bila (yang saya katakan itu) benar adanya pada saudaraku?” Beliau menjawab, “Jika yang engkau katakan itu benar-benar ada pada saudaramu sungguh engkau telah berbuat ghibah, sedangkan jika itu tidak benar maka engkau telah memfitnahnya.” (H.R. Muslim)

Ibnu Qudamah Al-Maqdisy (rahimahullah) dalam kitabnya (Minhajul Qasidin) menyebutkan bahwa makna ghibah adalah menyebut-menyebut saudaramu yang tidak ada di sisimu dengan perkataan yang tidak disukainya; baik yang berhubungan dengan kekurangan badannya, seperti pernglihatannya yang kabur, buta sebelah matanya, kepalanya yang botak, badannya yang tinggi, badannya yang pendek, dan lain sebagainya.

Juga termasuk ghibah adalah membicarakan hal-hal yang menyangkut nasab; seperti berkata, “Ayahnya berasal dari rakyat jelata,” “Ayahnya orang India,” “Ayahnya orang fasik,” dan lain sebagainya.” Atau, yang menyangkut akhlaknya, seperti perkataan, “Dia akhlaknya buruk dan orangnya sombong.”

Atau, yang menyangkut pakaiannya, seperti perkataan, “Pakaiannya longgar,” “Lengan bajunya terlalu lebar,” dan lain sebagainya. Beliau juga menambahkan “Ketahuilah bahwa setiap sesuatu yang dimaksudkan sebagai celaan, maka itu dikategorikan ghibah, baik dalam bentuk perkataan ataupun yang lainnya; seperti kedipan mata, isyarat, ataupun tulisan. Sesungguhnya, tulisan merupakan salah satu dari dua lisan. (dikutip dari koranmuslim.com)

Intinya adalah perkataan apa pun yang menginformasikan keburukan orang lain adalah masuk dalam kategori ghibah. Memang ada pengecualian yang artinya dosa (ghibah) akan diampuni jika pertama, orang yang menyebut-nyebut keburukan orang lain dalam rangka mencari solusi untuk melakukan perbaikan dan menasihatinya. Dalam kasus ini, jika dimungkinkan, tidak menyebut nama tentu lebih baik. Akan tetapi, jika tujuan tidak tercapai dengan tanpa menyebut nama, hal itu boleh dilakukan.


Kedua, mengingatkan saudara agar tidak tertipu oleh kebusukan orang lain.
Dalam hal ini tentu saja orang yang sedang mengingatkan itu harus menyebutkan nama dan keburukan orang tersebut. Jika tidak menyebutkan nama, boleh jadi yang muncul adalah saling curiga dan justru akan menimbulkan petaka berikutnya yang lebih dahsyat.
Ketiga, dalam proses pengaduan dalam persidangan atau peradilan. Jika seseorang sedang mencari keadilan atas kezaliman yang diterimanya, tentu saja tujuan itu tidak akan tercapai tanpa menjelaskan bentuk kezaliman dan siapa pelakunya. (Bersambung)

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *