Menaklukan Dosa Dengan Taubat

Taubat yang pertama kali dialami oleh manusia adalah penyesalan Adam dan Hawa ketika berada di Surga, yang kemudian diturunkan ke bumi karena melanggar perintah Allah SWT, sebagaimana Firman-Nya: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu (Hawa) surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai dan janganlah kamu dekati pohon ini (Pohon Khuldi) yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. (Q.S. Al-Baqarah 2 : 35)

Setelah itu, datanglah iblis menaburkan bujuk rayunya kepada Adam dan Hawa supaya memakan pohon khuldi yang dilarang oleh Allah SWT. Karena terbawa oleh bujuk rayu iblis, Adam dan Hawa lupa akan larangan itu, yang menyebabkan dirinya terusir dari surga, “Maka syetan membujuk keduanya (untuk memakan buah Khuldi) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru; “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan padamu; “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Q.S. Al-A’raf 7 : 22).

Setelah mendapat teguran dari Allah SWT., Adam dan Hawa menyesali perbuatannya, dan kemudian bertaubat, “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (Q.S.Al-Baqarah 2 : 37). Dengan ungkapan, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (Q.S. Al-A’raf 7 : 23)

Itulah dosa yang pertamakali dilakukan oleh manusia. Oleh karena, tak ada seorang manusia pun yang steril dari dosa. Setiap manusia, baik itu santri apalagi preman, tentu pernah melakukan dosa. Dosa adalah perbuatan yang sangat dibenci Allah SWT, yang akan menjerumuskan pelakuanya kedalam api neraka. Oleh karena itu, kita harus mampu menjauhi dosa-dosa yang ada disekeliling kita, jika kita belum mampu menjauhinya, paling tidak, kita bisa meminimalisirnya, agar kita tidak terjerumus kedalam jurang api neraka.

Agar kita dapat terhindar dari perbuatan dosa, maka kita harus selalu mewaspadai penyebab munculnya dosa. Dosa yang kita lakukan seringkali disebabkan oleh dua faktor, yaitu: Pertama, Faktor Eksternal yaitu lingkungan yang tidak bermutu. Atau suatu kondisi yang dapat menyesatkan manusia dari jalan yang benar, dan biasanya sudah terorganisir, sistemik, dan terstruktur melalui berbagai media, “Segolongan dari ahli kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka  (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya.” (Q.S. Ali Imran  3 : 69).

Kedua, Faktor Internal yaitu mempertuhankan hawa nafsunya. Hawa Nafsu adalah bencana yang paling berbahaya dalam menggelincirkan hati manusia kedalam kesesatan. Jika seseorang jiwanya telah diperbudak oleh hawa nafsu, maka prilakunya akan| bertentangan dengan ajaran Allah SWT. Dia akan selalu mencari kepuasan duniawi, tanpa mempertimbangkan masa depannya di akherat kelak. Orang seperti ini akan mendapat azab Allah SWT., baik di dunia maupun di akherat kelak. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasar ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Q.S. Al-Jaatsiyah 45 : 23). Siapakah yang merasuki hati manusia dengan hawa nafsu? Jawabannya tentu adalah syetan, makhluk Allah yang telah dikutuk karena perilakunya yang selalu mengingkari kebenaran dari Allah SWT., “Barangsiapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Qur’an), Kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan). Maka syetan itulah yang menjadi teman  yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syetan-syetan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (QS. Az-Zukhruf 43 : 36 – 37).

Senjata untuk menghancurkan kedua penyebab munculnya benih-benih dosa tersebut adalah dengan melakukan taubat, yaitu taubat yang serius, dengan tidak mengulangi dosa yang pernah kita lakukan.

Taubat yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, pasti akan diterima oleh Allah SWT. Dan taubat yang sungguh-sungguh harus memenuhi beberapa kriteria, diantaranya:

Pertama, Menyesali kesalahan. Kesalahan yang telah dilakukannya disadari sebagai kesalahan, dan mengikrarkan di dalam hati dengan penyesalan karena terlanjur telah melakukannya. Kesedihan hati telah melakukan kesalahan merupakan tanda penyesalan. Dan penyesalan seseorang terhadap kesalahan dirinya adalah pertanda bahwa dirinya telah bertaubat. Hal ini diungkapkan oleh Rasulullah saw., “Penyesalan adalah pertanda taubatnya seseorang.” (H.R. Abu Dawud dan Al-Hakim).

Kedua, Mengakui diri bersalah. Seseorang yang  telah melakukan kesalahan, dan mengakui bahwa dirinya telah bersalah, kemudian dia bertekad untuk tidak mengulanginya lagi, maka dia dinyatakan telah bertaubat, “Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.S. Ali Imraan 3 : 135)

Ketiga, Membutuhkan ampunan Allah SWT. Ampunan Allah sangat dibutuhkan ketika kita ingin mensucikan hati dari perbuatan dosa yang telah kita lakukan. Prilaku seperti ini pernah dilakukan oleh Adam dan Hawa disaat mereka melakukan pelanggaran kepada Allah SWT., “Keduanya (Adam dan Hawa) berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-‘Araf  7 : 23).

Keempat, Tidak mengulangi lagi perbuatan dosa. Berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan dosa yang ia lakukan adalah bukti bahwa ia telah bertaubat. Dan kesalahan yang pernah ia perbuat harus diganti dengan amalan-amalan shaleh, jika taubat dirinya ingin diterima oleh Allah SWT., “Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat pembalasan dosa (nya). (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang  yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka kejahatan  mereka itu diganti oleh Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Furqaan 25 : 68 – 70). Dan dalam ayat berikutnya Allah menjelaskan, “Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu,dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqaan 25 : 71 – 72).

Ayat ini merupakan kabar gembira bagi orang-orang yang bertaubat, sehingga ketika ayat ini turun, Rasulullah sangat bergembira dikarenakan Allah SWT masih membuka lebar pintu taubat bagi hamba-hambanya.

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat yang bunyinya “…maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebaikan”. Apakah sifat penggantian ini berlaku hanya didunia saja atau bahkan diakherat pun berlaku. Ada dua pendapat dalam hal ini, menurut Ibnu Abbas dan rekan-rekannya, mereka sendiri yang mengganti amal-amal mereka yang buruk dengan amal-amal yang baik, seperti mengganti syirik dengan keimanan, mengganti zina dengan cara mengangkat kehormatan diri, mengganti dusta dengan kejujuran, mengganti khianat dengan amanat, dan seterusnya.

Sedangkan menurut Sa’id bin Al-Musayyab dan rekan-rekannya yang lain dari kalangan tabi’in (kelompok umat Islam setelah periode sahabat) berpendapat, bahwa Allah-lah yang akan mengganti keburukan yang mereka lakukan dengan kebaikan di akherat, mengganti kepada mereka satu kebaikan sebagai pengganti dari satu keburukan.

Pendapat kedua ini berhujjah dengan riwayat Tirmidzi di dalam kitabnya, bahwa Rasulullah saw telah bersabda; “Aku benar-benar mengetahui orang terakhir yang keluar dari neraka. Orang itu dihadapkan pada hari kiamat, lalu dikatakan di hadapannya, ‘Tunjukkan kepadanya dosa-dosanya yang kecil’. Sedang dosa-dosanya yang besar disembunyikan. Dikatakan, ‘Pada hari ini dan itu aku berbuat begini dan begitu’. Orang itu mengakuinya dan tidak menyangkalnya. Dia merasa kasihan kepada diri sendiri karena dosa-dosanya yang besar. Dikatakan, ‘Berikan kepadanya satu kebaikan sebagai pengganti dari satu keburukan yang dilakukannya’. Orang itu berkata; ‘Aku mempunyai beberapa dosa yang tidak kulihat ada disini’. Abu Dzarr berkata, ‘Kulihat Rasulullah saw tersenyum, hingga terlihat gigi gerahamnya’.”

Dengan kata lain, setiap keburukan orang yang bertaubat diganti dengan kebaikan, karena ia menyesalinya. Penyesalan ini merupakan taubatnya dari keburukan itu, sebab penyesalan itu sendiri sudah merupakan taubat. Taubat dari setiap dosa adalah kebaikan. Ayat P. Muhlis.

  Ayat Muhlis

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *