DARI TANAH KEMBALI KE TANAH

Dari padanya Kami menciptakan kalian, dan kepadanya kalian Kami kembalikan, dan dari padanya kalian Kami keluarkan lagi.(Q.S. Thaahaa [2]:55)

Oleh Ibnu Abbas, ayat tersebut ditafsirkan sebagai berikut. Manusia berasal dari Adam, Adam berasal dari debu, dan debu berasal dari bumi. Setelah meninggal, manusia dikubur atau dikembalikan ke bumi yang kemudian akan dikeluarkan lagi dari bumi.

Al-Khozin menafsirkan lain lagi. Beliau menyatakan bahwa ada malaikat penjaga rahim yang diperintah oleh Allah untuk mencampur nutfah (air mani) dengan tanah, tempatnya kelak akan dikebumikan.

Dalam konteks sains, ayat tersebut dapat memunculkan inspirasi teknologi arsitektural. Manusia tersusun dari unsur kimia yang sama dengan tanah. Dia akan lebih nyaman berada dalam rumah yang berbahan bangunan tanah. Temboknya terbuat dari batu bata dan gentengnya dibuat dari tanah liat yang dicetak dan dibakar. Di dalamnya, ada gentong dan kendi dari tanah. Di halaman, ada pot tanaman yang juga terbuat dari tanah liat. Karena teknologinya yang sederhana, rumah model ini mudah dibangun secara mandiri oleh masyarakat di pedesaan. Konsep ini disebut vernacular architecture dan dipopulerkan oleh Moshe Safdi, arsitek dari Mesir. Konsep ini banyak dipakai pada proyek perumahan rakyat di Afrika Utara.

Selain itu, ada juga konsep arsitektur “Kembali ke Dalam Tanah” yang dikembangkan oleh Christian Müller (arsitek Swiss) dan Bjarne Mastenbroek (arsitek Belanda). Mereka berdua membangun rumah yang ditanam ke dalam tanah. Desain rumah untuk 10 penghuni ini sangat ramah lingkungan karena memanfaatkan pencahayaan alami dan kehangatan bumi secara maksimal. Karena sebagian besar ruangan terbenam dalam tanah, halaman menjadi lebih luas bagi resapan air.

Arsitek Jepang lain lagi. Mereka membangun gedung bertingkat jauh ke bawah tanah. Konstruksi bertingkat ke bawah ini relatif lebih aman terhadap gempa bumi dibanding pencakar langit. Hal ini juga untuk mengantisipasi serangan bom nuklir seperti yang mereka alami pada 1945.

Dengan konsep ini, setiap bangunan akan lebih mandiri dan tidak bergantung pada jaringan prasarana kota. Misalnya, untuk kebutuhan air bersih cukup dengan melubangi dinding. Tentu saja, permukaan di atas tanah tetap terbuka sebagai lahan hijau. Semua itu akan mengurangi pemanasan global dan menjadikan bumi lebih nyaman dihuni. Wallahu a’lam.

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *