JALANI DENGAN SYARIAH, AKHIRI DENGAN ISTIQAMAH

Ramadhan adalah momen bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah rutin tahunan. Saatnya kita mengerjakan ibadah shaum, qiyamul lail (Tarawih), memperbanyak tilawah atau membaca Al-Quran, meraih lailatul qadar dan itikaf demi meraih keberkahan dan keutamaan Ramadhan.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 183)

Insya Allah, orang yang mampu melaksanakan shaum semata-mata karena Allah Swt., dalam dirinya akan terhimpun keimanan dan ketakwaan. Keikhlasan pula yang mampu mendorong seorang mukmin dapat melaksanakan rangkaian ibadah Ramadhan lainnya, seperti shalat Tarawih. Perhatikan keterangan berikut.

Aisyah r.a. berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Saw. pada suatu malam shalat di masjid lalu para sahabat mengikuti shalat beliau. Pada malam berikutnya (malam kedua) beliau shalat maka orang-orang semakin banyak (yang mengikuti shalat Nabi Muhammad Saw.), kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat. Maka, Rasulullah Saw. tidak keluar pada mereka, lalu ketika pagi harinya Rasulullah Saw. bersabda, ‘Sungguh aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan, dan tidaklah ada yang mencegahku keluar kepada kalian kecuali sesungguhnya aku khawatir akan diwajibkan pada kalian,’ dan (peristiwa) itu terjadi di bulan Ramadhan.” (Muttafaq ‘alaih)

Di bulan Ramadhan ini, Allah Swt. membuka kesempatan selebar-lebarnya kepada kaum muslim untuk meraih limpahan pahala dan pengampunan dosa. Segala ibadah dan muamalah yang dilaksanakan semata-mata untuk-Nya di bulan Ramadhan, niscaya bernilai pahala yang sangat besar dan beroleh jaminan pengampunan atas segala dosa.

Kita juga tidak boleh tertinggal untuk berlomba-lomba meraih lailatul qadar, satu malam yang lebih baik dari seribu bulan (Q.S. Al-Qadar [97]: 3). Terjadi di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan (terutama malam-malam ganjil, yaitu malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29). Lailatul qadar adalah pelebur dosa-dosa di masa lalu. Rasulullah Saw. bersabda, “Dan barangsiapa yang beribadah pada lailatul qadar semata-mata karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang terdahulu” (H.R. Bukhari).

Tentu saja, usaha untuk meraih berkah lailatul qadar ini harus dimulai dari malam pertama shaum hingga akhir. Caranya adalah dengan banyak membaca Al-Quran, berdoa, berdzikir kepada Allah Swt., serta melakukan itikaf sebagaimana yang disyariatkan oleh rasul-Nya. Ibnu Umar r.a. berkata, “Rasulullah melakukan itikaf sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Itikaf merupakan bentuk ketundukan seorang hamba kepada Tuhannya, yaitu dengan berdiam diri di masjid dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan memperbanyak ibadah. Itikaf merupakan sunah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dengan sungguh-sunguh. Banyak hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. sering melakukan itikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Bahkan, menjelang wafat, Rasulullah melakukan itikaf selama dua puluh hari terakhir Ramadhan.

Ibadah bulan Ramadhan sepatutnya menjadi refleksi diri untuk mengevaluasi dan memperbaiki kualitas keimanan dan ketakwaan agar diri terbina dan terbiasa melakukan ibadah di bulan-bulan setelahnya. Pembinaan keimanan selama Ramadhan harus mampu menjadikan jiwa, hati, pikiran, lisan, dan perilaku lebih baik. Sehingga, kualitas ibadah pun akan lebih mantap.

Selain untuk beribadah kepada Allah Swt., Ramadhan juga menjadi sarana pelatihan diri untuk gemar beramal saleh dan ber­-hablum minannas. Sungguh amat dicintai oleh Allah Swt. apabila ibadah ritual kita baik, pun amal saleh atau bermuamalahnya. Amalan saleh yang dimaksud, misalnya memiliki rasa kepedulian tinggi terhadap saudara, menjalin silaturahmi, dan meneguhkan jalinan ukhuwah islamiah yang amat dibutuhkan sekarang ini.

Muhammad Saw. menyebutkan bahwa Ramadhan adalah bulan muwasah atau bulan saling tolong menolong. Di bulan suci ini, Rasulullah Saw. sendiri lebih dermawan daripada angin yang berembus karena beliau tahu besarnya balasan atau pahala perbuatan tersebut. Beliau bersabda, “Barangsiapa memberi buka shaum pada orang yang bershaum maka baginya semisal pahala mereka tanpa mengurangi sedikit pun dari shaum mereka.” (H.R. Tirmidzi)

Karakter dermawan bila didukung dengan tafaqquh fiddin (berilmu agama dengan baik dan benar) sampai terhimpun sifat alim dan juud (dermawan), maka mencapai derajat hamba Allah yang paling tinggi. Selain menempa diri menjadi dermawan, kita juga dituntut untuk memperkokoh jalinan ukhuwah islamiyah.

Dari Abu Musa Al-Asy’ari r.a., Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Orang mukmin itu bagi mukmin lainnya seperti bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Kemudian, Nabi Muhammad menggabungkan jari-jari tangannya. Ketika itu, Nabi Muhammad duduk, tiba-tiba datang seorang lelaki yang meminta bantuan. Nabi hadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda, ‘Tolonglah! maka kamu mendapatkan pahala, dan Allah putuskan lewat lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki.”
 (H.R. Bukhari dan Muslim)

Tepat kiranya apabila keterangan ini bisa dipraktikkan dalam kehidupan sosial, berbangsa, dan bernegara saat ini. Umat Islam yang mempunyai banyak harta bisa menafkahkan hartanya kepada kaum yang kurang beruntung, orang yang kuat dan memiliki kekuasaan bisa membela orang yang lemah, dan seterusnya sehingga terciptalah ukhuwah yang solid. Dan, ukhuwah adalah nikmat Allah Swt. yang paling utama sebagaimana firman-Nya,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpegangteguhlah kamu sekalian kepada tali Allah keseluruhannya, dan janganlah kamu berpecah belah. Ingatlah kamu akan nikmat Allah yang dilimpahkan-Nya kepadamu ketika kamu dalam keadaan saling bermusuhan, lalu Allah menyatukan antara hati-hati kamu. Maka, jadilah kamu dengan nikmat-Nya bersaudara.” (Q.S. Ali Imran [3]: 103)

Perintah Allah ini berlaku dalam setiap aspek kehidupan. Bukan saja dalam kehidupan keluarga atau bermajelis, tetapi juga dalam skup kehidupan yang lebih besar lagi, yaitu berbangsa dan bernegara. Kebersamaan umat Islam dalam menegakkan nilai-nilai Islam amat diperlukan di negeri ini. Nilai-nilai Islam memiliki sifat universal yang bukan hanya bermaslahat bagi kaum muslim, tetapi juga dapat dirasakan oleh nonmuslim.

Begitu juga dalam menghadapi banyaknya kasus yang menimpa umat sekarang ini. Krisi moral bukan hanya melanda kaum muda dan remaja, tetapi juga telah melanda sebagian penguasa. Tentunya, ini adalah persoalan yang perlu diselesaikan oleh umat Islam sendiri. Insya Allah, hasil pembinaan dan tempaan selama bulan Ramadhan berbuah istiqamah dalam menyamakan visi dan misi Islam untuk menyelesaikan segala persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Insya Allah, bila semua itu mampu dilaksanakan, kita akan mencapai derajat tinggi di mata Allah Swt. Keseimbangan ber-hablum minallah dan hablum minannas perlu dipelihara dan dijaga. Setiap muslim pastinya mengharapkan mampu melaksanakan hubungan dengan Allah Swt. juga hubungan dengan sesama manusia secara baik sehingga persoalan yang melanda umat mampu terselesaikan pasca Ramadhan.

Untuk memaksimalkan ibadah Ramadhan, saya selaku Menkominfo mengimbau agar umat Islam bisa memanfaatkan jasa internet untuk kemashalatan, bukan kemudharatan. Banyak manfaat internet, tetapi ada juga celah untuk sesuatu yang buruk. Sebelum Ramadhan, situs atau laman porno sebaiknya diblokir oleh perorangan di PC atau piranti lainnya untuk memaksimalkan usaha pemblokiran massal yang kami lakukan. Pemerintah melalui Departemen Kominfo berjanji untuk terus bekerja sama dengan provider untuk menentukan langkah-langkah yang dapat diambil terkait pemblokiran situs-situs terlarang.

Pemblokiran laman porno adalah amanat Undang-Undang (UU) Pornografi. Oleh karenanya, pemerintah pun bertugas menjalankan segala hal yang diatur di dalam Undang-Undang. UU Pornografi juga mengatakan bahwa negara wajib untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif pornografi. Pemblokiran akan dilakukan secara masif, terutama terhadap laman yang masuk kategori porno.

Anjuran ini sebenarnya adalah imbauan universal yang mampu mengamankan kerusakan moral bagi setiap generasi tanpa membatasi agama, ras, dan suku. Bagi umat Islam, tentunya aturan yang harus dilaksanakan sudah jelas, baik yang terkandung dalam Al-Quran maupun hadits.

Semoga di bulan Ramadhan ini, kita bisa melaksanakan ibadah dan bermuamalah dengan sungguh-sungguh sehingga ibadah yang kita laksanakan bernilai pahala berlipat dan dekat dengan pengampunan dosa oleh-Nya. Insya Allah, setelah berpisah dengan Ramadhan, kita bisa istiqamah dalam menjalankan ibadah hablum minallah dan hablum minannas sehingga Allah Swt. menurunkan berkah dan rahmat-Nya kepada bangsa ini. Amin. [Ahmad, disarikan dari hasil wawancara]

Humas PI

Humas PI

PERCIKAN IMAN ONLINE DIGITAL - Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *