BERKACA PADA MUALAF

Ketika tengah menghadapi kasus penyelewengan akidah yang sepertinya tidak ada habis-habisnya, Islam pun selalu dikaitkan atau diidentikkan dengan terorisme. Belum lagi dua masalah tersebut terselesaikan, Islam juga kerap mendapat fitnah mengenai keotentikan Al-Quran dan pemelintiran sejarah Nabi Muhammad Saw. yang gencar dikampanyekan pihak orientalis. Namun demikian, semua hal tersebut tidak lantas membuat Islam dibenci oleh nonmuslim. Sebaliknya, Islam semakin banyak mendapat simpati dan banyak orang yang berbondong-bondong menjadi mualaf.

Sebut saja di belahan benua Amerika dan Eropa yang notabene identik dengan kaum orientalis yang antipati terhadap ajaran Islam. Di sana, orang berbondong-bondong masuk Islam dan mengakui kebesaran ajaran yang dibawa oleh Muhammad Saw. Pasca peristiwa pemboman Gedung Kembar World Trade Center 11 September 2001 lalu, muncul berbagai provokasi anti Islam dari kaum orientalis sehingga masyarakat Amerika termakan isu dan kemudian mengecap agama Islam sebagai agama teroris. Klaim itu berkembang luas, ketidaksukaan serta kebencian kepada agama Islam menyebar ke berbagai belahan dunia. Bersamaan dengan itu, simpati terhadap Islam pun terus berdatangan. Ribuan orang dengan sadar dan tanpa paksaan berbondong-bondong menyatakan masuk Islam setelah melihat keagungan ajaran dan menemukan kedamaian dalam Islam.

Kabar gembira muncul dari televisi Amerika NBS yang memberitakan bahwa 20.000 orang Amerika masuk Islam setiap tahunnya. Masyarakat Amerika dikenal sebagai masyarakat liberal dan terbuka yang kering spiritual. Ketika keindahan Islam telah menyentuh jiwa seperti diakui oleh para mualaf tersebut, mengalirlah gelombang keyakinan mengakui Islam yang merupakan agama rahmatan lil ‘alamin.

Bukan hanya di Amerika, data PBB menunjukkan bahwa jumlah penduduk muslim Eropa meningkat 100 persen pada 1999 dibanding tahun sebelumnya, menjadi 13 juta atau dua persen dari seluruh penduduk Eropa. Jumlah pemeluk Islam di Eropa tersebut tersebar sebanyak 3,2 juta di Jerman, 2 juta di Inggris, 4-5 juta di Prancis, dan sisanya di negara Eropa lainnya; terutama kawasan Balkan. Kaum mualaf Eropa merasakan kedekatan dengan Tuhan setelah masuk Islam. Menurut mereka, Islam itu sederhana, lebih teliti, dan mudah karena semua ajarannya telah dijelaskan secara eksplisit. Dalam Islam, mereka menemukan pola pikir hidup dan aturan yang dapat diikuti.

Kabar lain juga datang dari penulis terkemuka Yahudi berkebangsaan Jerman, Henryk Broder (61) yang mengumumkan diri masuk Islam. Semula, dia kerap membuat tulisan yang sangat memusuhi Islam dan kaum muslim. “Aku sekarang menjadi anggota dari sebuah umat yang berjumlah 1,3 juta orang di dunia, yang dihina terus-menerus, dan mereka pun bereaksi atas penghinaan itu. Sungguh aku senang bisa kembali ke rumah di mana aku dilahirkan,” katanya.

Di tanah air sendiri, baru-baru ini penulis menyaksikan prosesi pengucapan dua kalimat syahadat yang dilakukan oleh Ibu Yoyoh dan dibimbing oleh Ustad Dr. H. Aam Amiruddin, MSi pada Sabtu (30/04) di Masjid Al-Munajat kompleks Batununggal Mulia X.No.11 Bandung. Hadir pula pada kesempatan tersebut wakil Kementerian Agama Kota Bandung, MUI, KUA, DKM Masjid Al-Munajat, warga kompleks Batununggal, DKM Masjid Lautze, YUMI, PITI, dan para undangan lainnya.

Dalam tausiah singkatnya, Ustad Aam Amiruddin mengatakan bahwa betapa Allah membuka hidayah kepada siapa pun dengan sekejap mata. “Mudah saja bagi Allah untuk melakukan sesuatu yang menurut perkiraan manusia tidak mungkin. Ini adalah pelajaran yang berharga bagi siapa pun, jangan pernah berputus asa dengan hidayah dan karunia Allah Swt. Begitu Allah membukakan pintu hidayah-Nya, seluruh logika manusia akan sulit untuk menjelaskannya,” terangnya.

Bunda Yoyoh masuk Islam bukan tanpa proses panjang dan berliku. Putrinya, Hj. Nelih, berkata, “Sejak awal di masa pertama masuk Islam pada sembilan puluhan, saya memang mengharapkan ibu juga memeluk Islam. Tapi bukan perkara mudah untuk mengajaknya sebab kakak-kakak saya yang berbeda keyakinan pasti tidak akan menyetujuinya. Saya tidak mau ada konflik keluarga karena ibu masuk Islam.” Makanya, Hj. Nelih sangat berhati-hati ketika bicara soal keyakinan di lingkungan keluarganya. Tapi sebagai umat Islam, hamba-Nya disyariatkan untuk menjadi mubaligh (penyampai pesan Al-Quran dan hadits sesuai dengan kemampuannya) sebagaimana yang dipesankan oleh Rasulullah Saw., “Ballighuu ‘anniy walau aayah (sampaikanlah tentangku walau satu ayat yang kalian tahu).”

Islam adalah agama yang nyata. Islam juga merupakan agama yang menenteramkan jiwa dan memberikan petunjuk agar bisa selamat di dunia maupun akhirat. Berdasar keyakinan inilah Hj. Nelih berupaya berdakwah kepada sang bunda. Bukan dengan cara langsung menyampaikan ayat-ayat Al-Quran dan kajian hadits, melainkan dengan hal-hal yang sederhana, seperti mengucapkan salam, senantiasa membaca doa sebelum makan, sebelum tidur, dan doa lainnya yang diajarkan dalam Islam. Menurutnya, bila dia mengajarkan hal-hal yang berat semacam kajian ayat Al-Quran dan hadits, dikhawatirkan akan berat diterima oleh sang bunda. Sang bunda pun sangat terkesan pada putri bungsunya ini yang tiap saat senantiasa memberikan ketenangan dan kebahagiaan kepadanya, baik secara materi maupun cara menunjukkan bakti dan kasih sayangnya.

Selain itu, proses datangnya hidayah kepada Bunda Yoyoh muncul karena beliau senantiasa mendengar pengajian yang diadakan YUMI (Yayasan Ukhuwah Mualaf Indonesia) di rumah Hj. Nelih. “Metode dakwah yang dilakukan YUMI adalah dengan cara bersilaturahmi dari rumah ke rumah. Salah satunya pengajian yang diadakan di rumah Hj. Nelih yang sudah berlangsung selama tiga tahun,” ungkap Kwi Han.

Ibu Yoyoh adalah salah satu dari sekian banyak orang di dunia ini yang memeluk Islam dan meninggalkan keyakinannya yang lama. Dilihat dari aspek keimanan, menyimak alasan-alasan kaum mualaf merelakan dirinya memeluk Islam sebenarnya mampu mempertebal keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Ada orang yang masuk Islam setelah mendengar keindahan lantunan ayat-ayat Al-Quran dan ada juga yang memeluk Islam karena mendengar azan yang oleh sebagian umat Islam sendiri dianggap hal biasa.

Kalau saja mereka tergugah untuk meyakini Islam karena Al-Quran sebagai pedoman hidup dan azan sebagai penyeru untuk mendirikan shalat, kenapa kita yang sudah muslim sejak lahir tidak tergerak hatinya untuk meningkatkan kualitas ibadah dan amal shaleh dengan lebih mengkaji Al-Quran (paling tidak dengan sering membacanya) serta bersegera melaksanakan ibadah shalat setelah mendengar azan berkumandang?
Hal lain yang perlu diambil ibrahnya dari kaum mualaf adalah semangat dan kerelaan berkorban (termasuk nyawa) untuk tetap mempertahankan keyakinannya pada Islam.

Penulis sendiri pernah mendengar kisah mualaf yang dijauhi dan dimusuhi orangtuanya. Ada juga yang tidak dianggap lagi menjadi bagian dari keluarga karena dimusuhi saudara kandungnya sendiri. Bahkan, tidak sedikit mualaf yang harus bersusah payah dan hidup dalam kemiskinan karena sudah tidak mendapat dukungan finansial dari keluarganya. Meski begitu, kaum mualaf tetap mempertahankan keyakinan dan akidah Islam.

Jadi, suka duka para mualaf dalam keistiqamahan mempertahankan akidah Islam menjadi pelajaran bernilai bagi kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sudah sepantasnya kita mempertanyakan kualitas keimanan saat melihat dan mendengar orang yang masuk Islam tapi hati tidak tergetar sedikit pun. Padahal, orang yang banyak bersyukur dan mengagungkan kekuasaan-Nya adalah bagian dari tanda-tanda orang yang dicintai Allah Swt. Insya Allah. (Abu Hilmy)

 

Sumber : MAPI edisi Juli 2011

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *