Mewaspadai YAHUDI Indonesia

Yahudi, sebuah agama yang dibenci oleh sebagian besar umat Islam Indonesia, kini kembali menjadi buah bibir di Tanah Air. Setelah aksinya membantai rakyat Palestina, kini mereka telah memperingati acara kemerdekaan Israel ke-36 di Indonesia. Sebuah pengkhianatan yang cukup menyakitkan karena para pelaku yang berjumlah puluhan orang tersebut sebagian besarnya warga negara Indonesia.

Kita perlu mempertanyakan nasionalisme mereka karena memperingati kemerdekaan negara orang lain. Mereka tidak peka terhadap keinginan mayoritas muslim Indonesia yang tidak setuju adanya peringatan kemerdekaan Israel itu.

Demi sebuah kebebasan HAM (Hak Asasi Manusia) mereka tetap melaksanakan peringatan tersebut pada Sabtu (14/5/2011) di Puncak, Bogor, Jawa Barat. Awalnya, peringatan kemerdekaan Yahudi itu akan digelar di sebuah lapangan (yang namanya dirahasiakan) di Jakarta Selatan. Namun, hal tersebut tidak terlaksana karena adanya penolakan dari berbagai elemen masyarakat. Bahkan, sejak diumumkannya, rencana perayaan itu langsung menuai kontroversi.

Indonesia selama ini tidak pernah mengakui Israel sebagai sebuah negara. Sebab, negeri ini bersama 130 negara di dunia mendukung kemerdekaan Palestina. Pemerintah pun menolak membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Dukungan Indonesia terhadap Palestina merupakan amanat dari Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Dengan demikian, penjajahan negara mana pun, termasuk Israel terhadap Palestina, akan ditentang oleh Indonesia. Selain itu, Indonesia dan Palestina mempunyai ikatan sejarah karena Palestina yang mula-mula mengakui kemerdekaan Indonesia.

Menurut buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri karya Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia (M. Zein Hassan Lc), Palestina telah memberi dukungan atas kemerdekaan Indonesia di saat negara lain belum berani untuk memutuskan sikap. Dukungan sudah diberikan sebelum Soekarno-Hatta memploklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Pada 6 September 1944, mufti besar Palestina (Syekh Muhammad Amin Al-Husaini) yang melarikan diri ke Jerman, lewat radio Berlin mengucapkan selamat atas kemerdekaan Indonesia yang bertepatan dengan pengakuan Jepang atas kemerdekaan Indonesia. Muhammad Ali Taher, pedagang kaya raya Palestina, menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata, “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia.” Maka, tidak aneh, apa pun yang berbau Israel atau Yahudi selalu mendapat penolakan dari banyak kalangan di Indonesia. Apalagi, Israel tidak kunjung mewujudkan perdamaian dengan Palestina yang menargetkan kemerdekaannya pada September 2011.

Dalam kondisi rasa solidaritas terhadap Palestina yang begitu tinggi, perayaan kemerdekaan Israel ibarat menyiramkan minyak pada api. Tindakan itu merupakan provokasi yang bisa menyulut ketersinggungan masyarakat Indonesia. Maka, banyak kalangan; baik DPR, pemerintah, maupun tokoh agama kontan menghujat rencana perayaan tersebut.

Sebenarnya, bagaimana awal mulanya Yahudi sampai ke Indonesia? Sejak gerakan zionis internasional freemasonry didirikan di Inggris pada 1717, orang Yahudi lebih suka menyelubungi aktivitas mereka dengan selimut perkumpulan teosofi yang bertujuan “kemanusiaan”. Untuk mendanai semua kegiatan, pengumpulan dana dipusatkan di New York sejak 17 November 1875 dan dipimpin oleh seorang Yahudi asal Rusia bernama Blavatsky. Jurnal The Theosofist, yang diterbitkan di New York, pada terbitan 1881 menyiarkan kabar bahwa Blavatsky mengutus Baron van Tengnagel untuk mendirikan Loge, rumah ibadat kaum Vrijmetselarij (Freemasonry) di Pekalongan.

Kota ini dipilih karena sejak 1868 berubah status dari desa menjadi kota. Selain itu, kota ini juga dikenal sebagai konsentrasi santri di Jawa Tengah. Loge didirikan pada 1883, tetapi tidak berkembang karena reaksi keras masyarakat berkenaan dengan praktik ritualisme mereka, yaitu memanggil arwah. Oleh karena itu, penduduk menyebut Loge sebagai “gedong setan”.

Pengalaman Pekalongan memaksa mereka mengalihkan kegiatan ke Batavia. Dua Loge besar didirikan di daerah Merdeka Barat (sebelumnya bernama Blavatsky Straat) dan daerah Budi Utomo (sebelumnya bernama Vrijmetselarijweg). Dua Loge itu (di samping Loge yang didirikan di Makassar, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta), menjadi pusat kegiatan ritual Yahudi Belanda dan Eropa yang bekerja di Hindia Belanda di sektor birokrasi VOC (Pemerintah Hindia Belanda) dan swasta.

Hindia Belanda saat itu dianggap sebagai wilayah aman bagi operasi gerakan zionis karena kebanyakan penduduk pribumi menganggap orang Yahudi Belanda dan Eropa sebagai orang Nasrani (Kristen). Selain itu, Gubernur Hindia Belanda yang menjabat selalu menjadi Pembina Rotary Club. Namun, aktivitas ritual tersebut berujung pada kebuntuan gerakan zionis ini.

Maka, gerakan Zionis Internasional untuk Asia dipindahkan dan dipusatkan ke Adyar, India, pada 1909 dan mengutus A.J.E. van Bloomenstein ke Jawa. Pola gerakan pun diubah oleh Bloomenstein pada 1912 dengan mendirikan Theosofische Vereeniging (TV). TV bekerja di kalangan intelektual dan calon intelektual bumiputra. Misalnya, TV mendanai Kongres Pemuda 1928 yang dilaksanakan di Loge Broederkaten di Vrijmetselarijweg Straat. Akibatnya, sejumah ormas pemuda memboikot kongres dan membuat kongres tandingan (Kongres II) pada 27-28 Oktober 1928 yang menghasilkan Sumpah Pemuda.

Pada 1920, orang Yahudi dari Belanda, Irak, dan Yaman datang ke Indonesia. Pada 1921, diperkirakan ada dua ribu orang Yahudi tinggal di Pulau Jawa. Saat itu, jumlah Yahudi bertambah karena banyaknya orang Yahudi yang menjadi pelarian karena diburu pasukan Nazi, Jerman. Namun, pada 1939-1945, banyak orang Yahudi yang menjalani hukuman di masa pendudukan Jepang. Baru setelah kemerdekaan, komunitas Yahudi mulai mengalami kemerosotan. Populasinya berkurang karena faktor politik dan ekonomi.

Gerakan Zionisme kembali dihidupkan pasca kemerdekaan. Pada 1954, berdiri Jewish Community Indonesia (JCI). JCI ini merupakan kelanjutan dari Vereeniging Voor Joodsche Belangen in Nerderlandsch-Indie te Batavia yang berdiri pada 1927.
Pada 1957, tercatat sekitar 450 orang Yahudi di Indonesia. Umumnya, mereka merupakan kaum Ashkenazim (dalam bahasa Ibrani berarti “Jerman”) yang tinggal di Jakarta dan kaum Sephardim di Surabaya. Pada 1963, populasi orang Yahudi kembali berkurang dan tinggal 50 orang saja. Mereka ini berada di bawah naungan Board of Jewish Communities of Indonesia (Dewan Komunitas Yahudi Indonesia).

Pada 1976, Departemen Agama (sekarang Kementerian Agama) mencatat hanya ada tiga orang pemeluk Yahudi di Jakarta. Pada 1997, tercatat ada sekitar 20 orang Yahudi yang tinggal di Indonesia.

Soal data jumlah populasi orang Yahudi di Indonesia memang tidak ada yang seragam. Direktur Eksekutif Indonesia-Israel Public Affair Committee (IIPAC), Benjamin Ketang, mengatakan bahwa komunitas Yahudi di Indonesia sesuai data di National Jewish Agency sebanyak 6.500 orang. Dari jumlah itu, yang menjadi anggota IIPAC tercatat 4.850 orang. Kebanyakan mereka memang bukan orang Indonesia asli, tetapi orang asing yang bekerja di sejumlah perusahaan asing yang ada di Indonesia. “Dan, orang Indonesia yang bekerja di luar negeri juga ada. Di Amerika, Kanada, Australia, dan Singapura juga ada,” kata Benjamin kepada salah satu media terbitan Jakarta.

Rabi Yahudi satu-satunya yang ada di Indonesia ialah Yaakov Baruch Pailingan yang berada di Sulawesi Utara. Dia mengakui, khususnya di Manado dan Minahasa, terdapat kurang lebih 500 orang penganut agama Yahudi. Mereka hidup terpencar dan baru berkumpul bila ada acara keagamaan. Namun, identitas agama mereka di KTP adalah agama yang diakui di Indonesia karena Yahudi sampai saat ini tidak diakui oleh pemerintah sebagai agama yang resmi.

Sepertinya, peringatan hari kemerdekaan Yahudi beberapa waktu lalu adalah geliat usaha mereka untuk diakui sebagai agama yang sah di negeri ini. Sepertinya, umat Islam (terlebih yang duduk di kursi pemerintahan) harus lebih waspada pada setiap gerakan Yahudi. Mengingat, kekejaman mereka kepada saudara sesama muslim di Palestina yang tidak termaafkan. Jangan lengah! (Abu Ulya)

Referensi : MAPI Juni 2011

Humas PI

Humas PI

PERCIKAN IMAN ONLINE DIGITAL - Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *