DICARI! Pemimpin Amanah di Negeri Ini

Pemimpin sebuah negara, dalam hal ini pejabat pemerintah maupun orang-orang yang duduk di kursi dewan untuk mewakili rakyat yang menjadi konstituennya, hendaknya memiliki sifat amanah. Ini sangat penting mengingat pada hakikatnya kekuasaan adalah sebuah kepercayaan yang diberikan oleh sekelompok orang dengan harapan agar kepercayaan tersebut dapat dijaga dan dipergunakan untuk mengayomi kepentingan bersama. Yang terjadi kemudian ketika kepercayaan ini tidak dipegang secara amanah adalah mudah ditebak, konflik, dan ketegangan sosial.

Bagaimana dengan pemimpin-pemimpin di republik ini? Tanpa bermaksud menghakimi para pemimpin kita, sepertinya kepemimpinan dalam tata pemerintahan negara kita masih jauh dari sifat-sifat amanah. Hal ini terbukti dari masih tingginya angka korupsi meski sejumlah kasus korupsi satu per satu mulai terbongkar. Sejumlah pengamat menyatakan bahwa, kasus korupsi yang berhasil dibongkar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih merupakan puncak gunung es. Ya, beberapa kasus korupsi kelas kakap sepertinya masih tersembunyi (atau mungkin sengaja disembunyikan) demi kepentingan sekelompok orang.

Hal tersebut adalah salah satu contoh dari tidak amanahnya pemimpin kita dalam memangku jabatan. Secara spesifik, bagaimanakah kriteria pemimpin yang tidak amanah tersebut? Paling tidak ada empat ciri pemimpin yang tidak amanah.

1. Pemimpin yang tidak amanah adalah mementingkan diri sendiri, keluarga, dan kelompoknya. Masih segar dalam ingatan kita ketika beberapa waktu yang lalu pemerintah melakukan tawar menawar politik demi yang mereka sebut kestabilan politik. Meski berdalih mendengarkan aspirasi rakyat, kesan mengejar jabatan sangat kental terlihat dan sekali lagi ini bukanlah ciri pemimpin yang amanah.

2. Pemimpin yang tidak amanah adalah pemimpin yang tidak memenuhi syarat keahlian yang disepakati ulama Islam,
yaitu baligh dan berakal, lelaki, mampu (kafaah), merdeka atau bukan budak, serta sehat indra dan anggota badannya. Kita bisa lihat bahwa komposisi menteri dalam kabinet kita masih didominasi kalangan politisi dan kalangan profesional masih menjadi minoritas. Kalau sudah begini, masihkah pemimpin-pemimpin kita tersebut mumpuni di bidangnya masing-masing?

3. Pemimpin yang tidak amanah adalah pemimpin yang berlaku dzalim. Pemimpin seperti ini kerap melaksanakan kepemimpinan untuk memperturutkan nafsu berkuasa dan memiliki segala kekayaan negeri tanpa memedulikan bahwa tindakannya tersebut bisa saja menyengsarakan rakyatnya. Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Sesungguhnya akan datang di tengah-tengah kalian para pemimpin sesudahku, mereka menasihati orang di forum-forum dengan penuh hikmah, tetapi jika mereka turun dari mimbar mereka berlaku culas, hati mereka lebih busuk daripada bangkai. Barangsiapa yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kesewenang-wenangan mereka, maka aku bukan lagi golongan mereka dan mereka bukan golonganku dan tidak akan dapat masuk telagaku. Barangsiapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kesewenang-wenangan mereka maka ia adalah termasuk golonganku dan aku termasuk golongan mereka, dan mereka akan datang ke telagaku” (H.R. Thabrani).

4. Pemimpin yang tidak amanah adalah pemimpin yang menyesatkan umat dan menghancurkan seluruh tatanan sosial masyarakat. Kekuasaannya akan ia pergunakan bukan untuk kemakmuran rakyat, tetapi justru menjerumuskan rakyatnya. Sekali lagi, ini adalah bentuk ketidakpedulian pemimpin atas kepercayaan yang telah diberikan rakyatnya sehingga alih-alih menjunjung tinggi kepentingan rakyat, ia malah menginjak-injak harga diri rakyatnya.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw. bersabda, “Akan muncul di akhir zaman lelaki yang memanipulasi agama untuk kepentingan dunia, mengenakan pakaian yang halus-halus, lidah mereka lebih manis daripada madu, tetapi mereka berhati serigala. Allah berfirman: ‘Apakah kepada-Ku mereka sombong atau, kepada-Ku mereka berani. Atas nama-Ku mereka bersumpah. Maka akan ditimpakan kepada mereka fitnah, yang membuat orang-orang pandai jadi kebingungan'” (H.R. Tirmidzi).

Ketika di dunia ketidak-amanahan seorang pemimpin hanya berbuah sanksi sosial atau hukum negara yang masih tergolong ringan, maka di akhirat Allah akan mempertanyakan kepemimpinan tersebut dan meminta pertanggungjawaban kepada yang bersangkutan sebagai mana keterangan berikut.

MAPI Oktober 2011

“Setiap kalian adalah pemimpin dan karenanya akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Amir adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Lelaki adalah pemimpin di tengah keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentangnya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang itu. Dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.” (H.R. Muttafaq ‘alaih)

Jadi, wahai para pemimpin negeri ini, masihkah kalian akan menyia-nyiakan amanah jabatan tersebut? Semoga kalian dapat belajar dari peringatan yang Allah sampaikan melalui rangkaian bencana yang terjadi sepanjang tahun ini yang sedikit banyak disebabkan oleh kepemimpinan kalian yang tidak amanah. Semoga! [Muslik]

Refrensi : MaPI Des 2010

Humas PI

Humas PI

PERCIKAN IMAN ONLINE DIGITAL - Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *