Utamakan Lapar Ilmu Daripada Lapar Makan

Diantara ratusan ribu hadits Nabi Muhammad saw, banyak hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. Meski hanya empat tahun hidup bersama Rasul saw. sebelum wafat beliau, namun ia telah menghafal dan meriwayatkan 5.374 hadits dari Nabi saw.

Nama aslinya Abdurrahman bin Shakhr Ad Dausi. Ia masuk Islam pada 7 H. Setelah masuk Islam, ia termasuk Ahlus Shuffah (ahli Shuffah). Setelah masuk Islam, ia tinggal di masjid Nabawi. Ia termasuk Ahlus Shuffah (ahli Shuffah).

Ahli Shuffah adalah orang Islam dan dianggap tamu oleh Nabi saw. Mereka tidak punya tempat tinggal dan tidak punya kerabat di Madinah. Mereka tinggal di halaman masjid Nabawi. Jika Nabi saw. mendapatkan shadaqah, beliau segera mengirimkan kepada mereka dan beliau tidak mengambil sedikit pun. Kalau mendapat hadiah, maka Nabi saw. mengirimkannya kepada Ahli Shuffah dan beliau mengambil sedikit atau beliau memakannya bersama mereka.

Abu Hurairah selalu menemani dan melayani Rasulullah saw. kapan pun dan dimana pun beliau berada. Karena itu ia mendapat banyak ilmu dari Nabi saw. Maka, ia mampu menghafal lebih banyak hadits daripada sahabat lain yang lebih senior.

Salah satu kelebihan Abu Hurairah adalah rasa hausnya akan ilmu mengalahkan rasa laparnya terhadap makanan. Imam Bukhari menarasikan penggalan perjalanan hidup Abu Hurairah bersama Rasul saw. (diolah dari Riyadhus Shalihin hadits no. 502).

Suatu hari, Abu Hurairah menceritakan keadaannya. Ia berkata, “Demi Allah, yang tiada tuhan selain Dia. Aku pernah merapatkan perutku ke tanah karena lapar. Aku mengikat batu di perutku. Aku juga pernah terduduk kelaparan di tempat di sebuah jalan yang biasa dilalui orang. Dari kejauhan, Nabi saw. tersenyum saat melihatku. Sepertinya beliau mengerti keadaanku setelah memperhatikan ekspresi wajahku dan posisi tubuhku.”

Kemudian Nabi saw. memanggil Abu Hurairah, “Wahai, Abu Hirr (panggilan akrab Abu Hurairah, artinya pemilik kucing kecil, Red.).

“Labbaik ya Rasulullah.”

“Ikutlah denganku,” ucap Nabi saw.

Lalu Abu Hurairah menemani Nabi saw. menuju salah satu rumah keluarga beliau. Nabi saw. pun masuk. Abu Hurairah minta izin masuk dan beliau mengizinkannya. Di sana ada segelas susu. Nabi saw. bertanya kepada penghuni rumah, “Darimana asal susu ini?”

“Seorang perempuan menghadiahkan untuk engkau, wahai Rasulullah,” jawab penghuni rumah.

“Wahai Abu Hirr.”

“Labbaik ya Rasulullah,” jawab Abu Hurairah.

“Temuilah Ahli Shuffah itu. Ajaklah kemari.”

Saat memanggil Ahli Shuffah, Abu Hurairah berkata sendiri, “Mengapa susu ini diberikan kepada Ahli Shuffah? Padahal aku paling pantas untuk minum susu itu agar kekuatan saya pulih. Apabila Ahli Shuffah kemari, beliau pasti menyuruh saya memberikan susu itu kepada mereka dan kemungkinan saya tidak mendapat bagian dari susu itu. Maka, perasaanku jadi tidak enak karena ini. Tapi taat kepada Allah dan Rasul harus diutamakan.”

Inilah salah satu kelebihan akhlak Abu Hurairah. Ia menjaga harga dirinya meski hidup kekurangan. Ia tidak meminta-minta. Ia pernah tergeletak di antara mimbar Nabi saw. dan kamar Aisyah (di sekitar Masjid Nabawi, Red.). Lalu ada yang melewatinya dan menginjak lehernya. Ia mengira Abu Hurairah orang gila. Padahal ia tergeletak karena lapar.

Setelah Ahli Shuffah tiba dan duduk mengelilingi Nabi saw, kemudian Nabi saw. berkata, “Wahai Abu Hirr.”

“Labbaik ya Rasulullah.”

“Ambil susu itu dan bagikan kepada mereka.”

Abu Hurairah berkata sendiri, “Aku sangat berharap aku mendapat bagian dari susu ini. Dan ini bukan berarti aku tidak taat kepada Allah dan Rasul sama sekali.”

Namun ia tetap melaksanakan perintah Nabi saw. Ia memberikan susu itu kepada Ahli Shuffah. Satu per satu minum sampai puas. Dengan izin Allah, susunya tidak habis-habis meski telah diminum banyak orang. Setelah semua minum, Nabi saw. mengambil gelas itu. Nabi saw. memandang Abu Hurairah sambil tersenyum.

“Wahai Abu Hirr.”

“Labbaik ya Rasulullah.”

“Sekarang tinggal aku dan kamu.”

“Engkau benar wahai Rasulullah.”

“Duduklah dan minumlah.”

Maka Abu Hurairah duduk dan meminumnya. “Minumlah,” ucap Nabi saw. lagi. Ia pun meminumnya lagi. Dan Nabi saw. berkali-kali menyuruhnya minum. Ia terus minum hingga akhirnya berkata, “Tidak, demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran! Perut saya tidak muat lagi.” Lantas Nabi saw. bersabda, “Bawa kemari gelas itu.” Kemudian, Nabi saw. memuji Allah, menyebut Asma-Nya dan kemudian meminumnya.

Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu adalah shahabat terbanyak periwayat haditsnya. Keberaniannya bertanya kepada Rasulullah saw menjadikan tahu akan permasalahan-permasalahan yang tidak pernah ditanyakan oleh shahabat lainnya. Shahabat Ubay bin Ka’b menjelaskan, “Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu sangat bersemangat bertanya kepada Rasul tentang berbagai permasalahan yang tidak pernah kami tanyakan.”

Demikian banyaknya hadits yang ia teguk dari bejana Nabi belum membuatnya puas, ia kembali mencarinya dari bejana-bejana ilmu yang dimiliki beberapa shahabat senior, seperti Abu Bakar, Umar, Al-Fadhl bin ‘Abbas, ‘Ubay bin Ka’b, Usamah bin Zaid, ‘Aisyah, dan bushra Al-Ghifari Radhiallahu ‘anhum. Ia selalu bertanya kepada mereka tentang hadits-hadits Nabi yang disampaikan pada awal-awal islam, atau kisah-kisah yang terjadi sebelum keislamannya, seperti kisah kematian Abu Thalib dan yang lainnya.

Maka tidaklah berlebihan jika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menjulukinya sebagai bejana ilmu. Dan tidak mengherankan jika sebagian shahabat ikut menciduk ilmu Abu Hurairah dari bejananya yang amat luas, seperti Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Anas bin Malik, Watsilah bin Asqa’, Jabir bin ‘Abdillah, dan Abu Ayyub Al-Anshari Radhiallahu ‘anhum.

Tidak ketinggalan pula para pemuka tabi’in juga ikut mencicipi segarnya ilmu Abu Hurairah. Diantara mereka adalah, Sa’id bin Musayyib, Abdullah bin Tsa’labah, ‘Urwah bin Zubair, Salman Al-Aghar, Syuraih bin Hani’, Khabab, Sulaiman bin Yasar, Abdullah bin Syaqiq, Hafsh bin ‘Ashim, Humaid bin Abdurrahman Al-Himyari, Salim maula Syaddad, Amir bin Sa’d bin Abi Waqqash, Muhammad bin Sirin, Abdurrahman bin Hurmuz, Samman, ‘Ubaidullah bin Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’ud, Atho bin Abi Rabah, Atho bin Yasar, Nafi’ bin Jubair bin Mut’im, Abdurrahman bin Mihran, Isa bin Thalhah, Abu Hazim Al-Asyja’i, Hammam bin Munabbih, dan masih banyak lagi.

Imam Al-Bukhari berkata, “Telah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah sebanyak 800 Ahlul Ilmi atau lebih, beliau adalah periwayat hadits yang paling hafal.”

Imam Syafi’i Rahimahullah berkata, “Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu adalah orang yang paling hafal hadits pada masanya.”

Lihat biografi lengkap beliau di kitab Al-Ishabah fi Ma’rifati Ash-Shahabah karya Al-Hafizh Ibnu Hajar, Tadzkiratul Huffazh karya Adz-Dzahabi, dan Siyar karya Adz-Dzahabi.

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *