TAKWA ITU DI SINI!

Dari Abi Hurairah r.a. berkata, telah berbda Rasulullah Saw., “Janganlah kalian saling dengki, janganlah kalian tanajusy, janganlah kalian saling benci, janganlah kalian saling membelakangi (berpaling), janganlah kalian menjual (barang) yang membatalkan penjualan saudara kalian, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersudara. Seorang muslim adalah saudara bagi sesama muslim. Janganlah dia menzaliminya, jangan merendahkannya, dan jangan menghinakannya. Takwa itu ada di sini. (Sembari Rasulullah Saw. menunjuk ke dadanya tiga kali). Cukuplah keburukan seseorang bila menghinakan saudaranya. Setiap muslim adalah haram bagi muslim lainnya darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (H.R. Muslim)

“Jadi, kalau Ramadhan bagaikan stasiun pengisian bahan bakar, anggaplah kita tidak akan bertemu lagi dengan stasiun lain padahal kita punya cita-cita sampai ke tujuan: surga!”

Itulah kalimat penutup tulisan saya pada edisi lalu. Ramadhan 1432 H dengan segala keutamaannya memang telah kita lalui. Target yang Allah canangkan untuk kita capai adalah takwa. Dengan takwa itulah kita akan mencapai tujuan, yakni surga.
Persoalannya adalah, berhasilkan kita mencapai takwa dan berjuluk al-muttaqin (orang-orang yang bertakwa)? Memang ayat yang terkait dengan pencapaian takwa oleh shaum Ramadhan menggunakan kalimat “la’allakum tattaqun” (agar kalian bertakwa). Kalimat itu memberikan isyarat bahwa dengan shaum bisa jadi ada orang yang mencapai takwa dan bisa jadi pula tidak mencapainya.

Akan tetapi, sebagai upaya dan bukti semangat bahwa kita ingin selalu menjadi lebih baik dalam kehidupan, cara yang terbaik adalah meyakini bahwa kita adalah orang-orang yang bertakwa dan kita dengan amaliah di bulan Ramadhan mencapai derajat al-muttaqin, seberapa besar pun kadarnya. Mengapa harus begitu?

Pertama, karena (sebagaimana yang telah diuraikan pada tulisan terdahulu) takwa itu dibentuk oleh shaum dan selain shaum. Artinya, bukan hanya ibadah shaum yang membentuk ketakwaan pada diri seseorang. Karena, sesungguhnya seluruh ibadah yang Allah perintahkan kepada manusia, secara bersama-sama dimaksudkan untuk membentuk ketakwaan. “Wahai manusia, beribadahlah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 21)

Kedua, keyakinan bahwa kita adalah orang-orang bertakwa sangat penting. Keyakinan ini akan menjadi modal untuk melakukan segala kebaikan dan bahkan untuk melakukan perbaikan-perbaikan dan peningkatan kualitas hidup dan kualitas hubungan dengan sesama muslim, bahkan lebih luas dengan sesama manusia. Itulah antara lain yang dapat kita tangkap dari hadits Rasulullah Saw. tersebut.

Dengan sabdanya itu, Rasulullah Saw. menyebutkan beberapa hal yang terlarang ada pada seorang muslim; yakni saling iri, tanajusy, saling benci, saling membelakangi atau berpaling, dan beliau juga melarang seorang muslim menjual (barang) yang membatalkan penjualan saudaranya yang sudah ditawar atau sudah disepakati. Adapun, tanajusy adalah menaikkan harga barang yang akan dijual oleh saudaranya bukan untuk dibelinya melainkan untuk membuat pembeli lain tergoda membelinya. Misalnya, seorang pedagang bernama si A menjual sebuah barang dengan harga seratus ribu rupiah. Ada seorang pembeli bernama B yang ingin membelinya dengan harga sembilan puluh ribu rupiah. Lalu muncullah si C (boleh jadi sudah bersekongkol dengan si A) yang mengatakan bahwa dirinya berani membeli barang tersebut dengan harga seratus sepuluh ribu rupiah. Itulah cara tanajusy.

Kemudian, Rasulullah Saw. memerintah­­­­kan kita berperasaan, memandang, bersikap, dan berperilaku sebagai saudara satu sama lain. Indikasi persaudaraan atas dasar Islam itu antara lain tidak menzalimi, tidak merendahkan, dan tidak menghinakan. Jika seseorang menghinakan saudaranya sesama muslim, maka tanpa melakukan kesalahan lain sekalipun, hal itu sudah cukup menjadi keburukan besar pada dirinya. Di bagian akhir beliau menegaskan tentang haramnya darah, harta, dan kehormatan saudaranya. Artinya, kita dilarang untuk menodai, merusak, merampas darah, harta, dan kehormatan seorang muslim.

Yang menarik adalah, dalam kaitan penyebutan hal-hal tidak boleh dilakukan oleh seorang muslim kepada saudaranya sesama muslim dan penyebutan hal-hal yang harus dilakuan oleh seorang muslim kepada sesamanya, Rasulullah Saw. mengatakan “attakwa ha huna”, takwa itu ada di sini. Beliau mengatakannya tiga kali dan sambil menunjuk dadanya. Tentu banyak makna yang dapat kita tarik dari pernyataan itu.

Di antara makna-makna itu adalah takwa itu ada di dalam hati tapi refleksi dan pancarannya harus dirasakan oleh orang lain. Itu di satu sisi. Di sisi lain, kalimat itu juga bermakna yang kita lakukan kepada orang lain sangatlah bergantung pada yang ada di dalam jiwa dan bagaimana seseorang memposisikan dirinya.

Di sinilah arti pentingnya kita meyakini bahwa kita mencapai derajat ketakwaan sampai kadar tertentu, andai pun belum sempurna. Keyakinan ini yang akan membentuk citra diri sebagai orang yang bertakwa. Dari citra diri ini akan mendorong kita untuk melakukan penyesuaian cara berfikir, cara berperasaan, dan cara bertindak. Cara apa? Adalah caranya orang yang bertakwa.

Dengan kata lain, dalam hidup ini kita harus memposisikan diri sebagai orang yang bertakwa. Mengapa? Hal ini karena:

Siapa diri kita menentukan yang kita lihat.
Orang bertakwa memandang kehi­dup­an dunia sebagai mazra’atul-akhirah (ladang untuk akhirat). Sedang­kan orang kafir, “Dan orang-orang kafir bersenang-senang dan makan seperti makannya binatang ternak.”

Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, “Seorang mukmin memandang dosa-dosa seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yg ditakutkan akan jatuh menimpanya. Sementara seorang fajir/pendosa memandang dosa-dosa seperti seekor lalat yang lewat di atas hidung, dia cukup mengibaskan tangan untuk mengusir lalat tersebut.”

Seuntai kata mutiara menyatakan, “Bukan karena hari ini indah kita berbahagia. Melainkan karena kita berbahagia maka hari ini terasa indah. Bukan karena tidak ada rintangan kita merasa optimis. Melainkan karena kita optimis maka rintangan menjadi sirna. Bukan karena segalanya mudah kita yakin bisa. Melainkan karena kita yakin bisa maka segalanya menjadi mudah. Bukan karena segalanya baik maka kita tersenyum. Melainkan karena kita tersenyum maka semuanya menjadi baik.”

Siapa diri kita menentukan cara kita memandang orang lain.
Rasulullah Saw. memberi arahan kepada para sahabat tentang cara memandang orang lain. Dari Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi, dia mengatakan bahwa seorang laki-laki lewat di hadapan Rasulullah Saw. Maka berkatalah beliau kepada seseorang yang sedang duduk di sampingnya, “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?” Orang itu menjawab, “Seorang laki-laki dari kalangan terhormat. Orang ini, demi Allah, kalau meminang layak dinikahkan dan kalau ia meminta untuk orang lain pasti berhasil.” Sahl bin Sa’id mengatakan, maka Rasulullah Saw. diam. Kemudian lewatlah seseorang. Rasulullah Saw. berkata lagi, “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?” Dia menjawab, “Ya Rasulullah, ini dari kalangan orang-orang muslim yang fakir. Orang ini jika meminang layak ditolak, jika meminta tidak akan diberi dan jika berbicara layak tidak didengarkan kata-katanya.” Maka berkatalah Rasulullah Saw., “Orang (yang miskin) ini lebih baik dari orang seperti itu sepenuh bumi.” (H.R. Bukhari)

Ini karena Rasulullah Saw. meman­dang­nya dengan kaca mata iman dan takwa dan parameternya pun iman dan takwa. Orang yang hatinya busuk akan melihat orang lain hanya dari sisi buruknya saja dan tidak mampu melihat dari sisi baik dan positifnya. Pantaslah Rasulullah Saw. bersabda:

“Jika seseorang berkata, ‘Orang-orang telah binasa (rusak)’ maka dialah sesungguhnya yang paling binasa (rusak).”(H.R. Muslim)

Siapa diri kita menentukan cara kita memandang kehidupan.
Orang beriman dan bertakwa selalu memandang kehidupan dan segala suka dukanya dengan sudut pandang positif dan menyikapinya dengan sikap positif pula, sebuah sikap yang diperintahkan Allah Swt. Sabda Rasulullah Saw., “Sungguh mengagumkan urusan orang mukmin itu. Karena segala urusannya menjadi baik baginya. Jika dia menerima karunia dia bersyukur maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika dia menerima nestapa dia bersabar. Maka hal itu menjadi kebaikan bagi dirinya.” (H.R. Muslim)
Siapa diri kita menentukan yang kita lakukan dalam hidup ini.

Rasulullah Saw. bersabda, “Ingatlah bahwa dalam jasad itu ada segumpal darah. Jika dia baik maka baiklah seluruh amalnya dan jika dia rusak maka rusaklah seluruh amalnya. Ingatlah itu adalah hati.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Jadi, takwa itu ada di sini, dalam hati. Dari situlah terpancar pendangan, pemikiran, perasaan, dan perilaku. Jadi, posisikanlah diri kita dalam kehidupaun ini sebagai orang-orang bertakwa.

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *