Buah Hati pun Perlu Dipuji

Budaya memuji sebagai penghargaan dan penggugah ghirah, perlu diteladankan kepada anak-anak. Dalam ingatan setiap anak selalu terdapat catatan lengkap tentang hubungan mereka dengan orangtuanya. Catatan kebahagiaan, perhatian, dan kasih sayang dalam pikirannya akan memengaruhi perilaku dan sikapnya.

Pujian tidak selamnya berbentuk perkataan. Pujian bisa berupa pemberian hadiah atau bahasa tubuh yang menenteramkan, seperti kecupan dan pelukan. Rasulullah SAW pernah mengecup Hasan bin Ali (cucu beliau), sedangkan di sampingnya duduk Aqra’ bin Habis At-Tamimi. Lalu Aqra’ berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh anak, namun aku tidak pernah mengecup salah seorang pun dari mereka. Kemudian Rasulullah memandang kepadanya seraya bersabda, ‘Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.’” (H.R. Bukhari Muslim)

Pujian terhadap anak memiliki pengaruh yang sangat dominan terhadap jiwanya. Anak-anak memiliki kecenderungan akan menggerakkan perasaan dan indranya selama pujian atau sanjungan tersebut diberikan pada waktu dan tempat yang tepat serta wajar atau tidak berlebihan. Jiwanya akan menjadi riang dan juga senang dengan pujian ini untuk kemudian semakin aktif dalam hal positif.

Rasulullah Saw. sebagai manusia yang mengerti betul tentang kejiwaan manusia, telah mengingatkan akan pujian yang memberikan dampak positif terhadap jiwa anak. Jiwanya yang akan tergerak untuk menyambut panggilan dan melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Rasulullah Saw. pernah memberikan pujian kepada seorang anak yang belajar bahasa Arab dan bahasa Suryani untuk membantu Nabi Muhammad Saw. Rasulullah Saw. memuji anak tersebut dengan mengatakan, “Dia adalah sebaik-baik anak muda.”

Demikianlah, Rasulullah Saw. telah mengajarkan kepada kita cara menghargai dan membahagiakan anak-anak dalam rangka mendidik perasaan dan kecenderungannya. Dengan memberikan penghargaan berupa pujian, belaian kasih sayang, menciumnya, mengusap kepalanya, memberi hadiah, dan masih banyak lagi.

Hal ini bukan berarti Islam tidak memperbolehkan kita memberikan hukuman kepada anak. Bukan berarti pula bahwa Rasulullah tidak pernah marah atau tidak pernah memberikan ‘pelajaran’ atau hukuman kepada anak-anak. Dalam beberapa hadits, dari Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Hasan bin Ali pernah mengambil sebiji kurma dari kurma sedekah dan kemudian hendak menyantapnya. Seketika itu pula Rasulullah bersabda, “Kakh…Kakh… Buang! Tidakkah engkau tahu bahwa kita tidak makan barang sedekah?!”

Ummu Salamah juga pernah mengatakan, Rasulullah pernah melihat salah seorang anak kami yang bernama Aflah. Ketika sujud, dia suka meniup tanah (pasir), maka beliau menegurnya dengan lembut, “Wahai Aflah, tempelkan mukamu ke tanah.” (H.R. Tirmidzi)

Islam tidak melarang orangtua memberikan hukuman secara fisik kepada anak ketika teguran halus tidak membuahkan hasil. Tentu saja, pemberian hukuman tersebut harus sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Pada tahap awal, Rasulullah Saw. memerintahkan kepada para sahabat untuk menakut-nakuti si anak dengan menggantungkan cemeti, hanya sekadar untuk memperlihatkannya saja agar si anak bergegas untuk memperbaiki diri, berlomba untuk berpegang pada yang benar, serta segera memperbaiki perilakunya.

Ibnu Abbas menyatakan, “Gantungkanlah cemeti yang bisa dilihat oleh keluargamu agar hal itu menjadi peringatan bagi mereka.” (HR. Thabrani)

Tentunya, bentuk peringatan yang ditujukan kepada anak-anak perlu disampaikan di waktu yang tepat dan dengan santun pula. Bentuk marah yang diiringi dengan kecupan mempunyai peran yang sangat efektif dalam menggerakkan perasaan dan kejiwaan anak, juga mempunyai peran yang besar dalam menenangkan gelombang amarahnya.

Dengan kecupan akan lahir pula rasa keterikatan yang erat di dalam mengokohkan hubungan orangtua dengan buah hati. Kecupan merupakan pujian jiwa yang akan menenteramkan hati sang anak, melonggarkan dadanya, serta menambah hangatnya interaksi mereka dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Dalam beberapa hadis dapat kita temui bagaimana Rasulullah Saw. menyentuh perasaan anak dengan cara membelai kepala atau pipi mereka sehingga mereka merasa mendapatkan sentuhan nikmat kasih sayang dan kelembutan. Bahkan, pujian dalam bentuk penghargaan itu menjadi bagian pembentukan kepribadian islami.

Bentuk lain dari pemberian penghargaan adalah pemberian hadiah yang memiliki pengaruh baik terhadap jiwa, terutama pada anak-anak, asalkan diberikan secara tidak berlebihan. Rasulullah bersabda, “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (H.R ath-Thabrani). [Ahmad, disarikan dari hasil wawancara]

 

Humas PI

Humas PI

PERCIKAN IMAN ONLINE DIGITAL - Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *