Memahami Dua Wajah KESEMPATAN

Ini tentang hadiah paling agung dari Tuhan untuk manusia. Barangkali, Anda semua mendapatkannya, tetapi tidak atau jarang yang menyadarinya. Tuhan memberi kita hidup, memberi kita kemampuan, memberi kita segalanya. Tuhan menakdirkan kita jatuh cinta, Tuhan menakdirkan kita mengecap suka. Semua nikmat Tuhan itu, jika kita rangkum ke dalam satu kata, percayalah, ia bernama KESEMPATAN.

Hidup itu pilihan, bung! Manusia menjadi apa, mengecap hidup yang bagaimana, menjalani profesi apa, semua ditentukan oleh pilihan. Oke, itu memang benar. Tetapi, hendaknya kita berterima kasih karena Tuhan telah memberi kita kesempatan untuk memilih. Setiap detik, pilihan tersuguh di hadapan kita. Kesempatanlah yang memungkinkan kita untuk melakukan pilihan-pilihan. Kesempatan memang anugerah terhebat dari Tuhan buat kita.

Kesempatan, 10 huruf yang memiliki arti penting dalam hidup. Tanpa kita sadari, sehari-hari kita menggunakan kata itu untuk mewakili sesuatu. Bahkan, sebagian besar sesuatu yang diwakili dengan kata kesempatan seolah tidak bisa dilewatkan. Ada pula yang menyepuh kesempatan dengan emas. Sehingga lazim di tengah-tengah kita istilah kesempatan emas. Pertanyaannya, apakah setiap kesempatan memang tidak boleh dilewatkan?

Mari sejenak kita menengok sejarah. Ini tentang seorang hamba Tuhan yang mendapatkan kesempatan. Bahkan, boleh dibilang, ini adalah kesempatan emas 24 karat! Siapakah dia? Dia adalah Yusuf, hamba Tuhan yang Mahakasih.

Barangkali kita sudah berulang menyimak bagaimana Yusuf berada dalam satu ruangan dengan hanya bersama seorang istri raja bernama Zulaikha. Saat itu, Zulaikha datang dengan tampilan yang sanggup membungkam iman. Penampilan yang sanggup membuat keteguhan seorang lelaki empot-empotan. Dia seorang perempuan yang cantik bukan rekaan, parfumnya wangi memabukkan, pakaiannya… Wah! Saya bahkan tidak kuasa menggambarkannya. “Sangat sederhana” itu saja, cukup!

Ini merupakan sebuah kesempatan yang sangat langka. Mereka hanya berdua di ruang tertutup dan keduanya memiliki gelora yang sama. Tetapi, kita sama-sama tahu bahwa Yusuf dengan berpeluh melawan godaan kesempatan itu. Dia yang hampir tergoda, mendapat teguran Tuhan. Hingga sikap Yusuf kemudian berubah dan membuat Zulaikha marah. Kita pun lalu mendapati bagaimana Yusuf berupaya lari dan Zulaikha merenggut bagian belakang baju Yusuf hingga robek. (Q.S. [12]: 23-29)

Nah, bagaimana kalau kesempatan yang didapatkan Yusuf datang kepada kita? Apa yang akan kita lakukan?

Setiap hari kita mendapatkan kesempatan. Barangkali, bagi pelajar atau mahasiswa yang sedang ujian, mendapati pengawas lengah merupakan sebuah kesempatan untuk “belajar dengan membuka catatan” atau saling membantu demi “kesetiakawanan”. Bagi seorang suami atau istri, ketika melihat lelaki atau perempuan lain yang menggoda hati adalah sebuah kesempatan untuk berpaling ke lain hati.

Bagi seorang karyawan, ketika ada uang sisa program adalah sebuah kesempatan untuk menilapnya. Bagi atasan, ketika ada bonus yang semestinya diberikan kepada karyawan berdedikasi dan berprestasi merupakan kesempatan untuk menikmati sendiri bonus itu. Bagi seorang pemimpin, setiap saat ada kesempatan untuk menipu rakyatnya. Bagi pejabat, limpahan materi yang ada adalah sebuah kesempatan untuk melakukan korupsi (saya lebih sepakat jika istilah korupsi diganti dengan istilah pencuri). Tentu saja dengan ragam ilustrasi lain, tidak ada yang tidak berpulas kesempatan.

Padahal, bagi pelajar atau mahasiswa yang mendapati pengawas ujiannya lengah, merupakan satu kesempatan untuk menguji diri sejauh mana pemahaman yang telah didapatkan. Juga sebuah kesempatan untuk melatih kejujuran. Bagi seorang istri atau suami yang mendapati lawan jenis yang sangat menggoda, selayaknya menjadi sebuah kesempatan untuk menguji sedalam mana kesetiaannya kepada pasangan.

Bagi karyawan yang mendapati uang program perusahaan masih tersisa, merupakan sebuah kesempatan untuk jujur dan mengembalikannya ke perusahaan. Bagi atasan yang mendapati bonus yang mesti diberikan kepada bawahan, sepantasnya sebuah kesempatan untuk menjadi seorang ksatria.

Bagi seorang pemimpin yang diamanahi kepercayaan rakyat, semestinya itu menjadi kesempatan meraih kemuliaan. Bagi seorang pejabat publik dengan banyaknya materi, ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya bersih dari perilaku yang tidak semestinya.

Jadi, kunci untuk membangkitkan bangsa adalah kesempatan. Pun, godam paling mematikan untuk melumpuhkan sebuah bangsa adalah kesempatan. Kesempatan memampukan seseorang berlaku jujur, tetapi kesempatan juga bisa membuat seseorang untuk tidak jujur. Surga dan neraka juga tertentukan oleh kesempatan. Ada kesempatan tertentu di mana kita bisa mendapatkan surga. Ada pula kesempatan tertentu bagi neraka untuk mendapatkan kita. Semuanya kesempatan yang selalu memiliki dua wajah.

Maka ingat-ingatlah pesan Bang Napi, “Kejahatan (dan kebaikan) terjadi bukan karena ada niat pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan!” Waspadalah! [Fatih]

Gbr. GDPI (Galeri Dakwah Percikan Iman)

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *