Seni Mengendalikan Diri Bicara dan Bekerja

Bicara dan bekerja adalah tolak ukur jati diri seseorang. Keduanya bisa membuat seseorang  menjadi hina, dan bisa pula mengantarnya menemukan  kemuliaan dan kehormatannya. Jika ia salah dalam bicara, maka orang akan merendahkannya. Jika ia tak mampu menunaikan tugas kerjanya, maka orang tak akan mempercayainya. Namun ketika keduanya dilakukan dengan baik, bukan hanya manusia yang akan menghomatinya, tapi Allah pula akan memuliakan.

Maka, di sini kita perlu memahami kapan kita harus bicara, dan seperti apa bekerja itu harus kita lakukan dan dipahami.
Bila harus bicara, bicalalah !

“Diam itu hikmah, tetapi sedikit yang melakukannya.” Demikian bunyi pesan Rasul, agar kita memilih sedikit bicara.
“Diam adalah emas.” Itu pesan orang – orang arif. Tetapi diam tentu tidak selamanya berarti emas, jika keadaan mengharuskan kita bicara. Bila harus bicara, maka bicaralah. Sebab diam disaat kita semestinya bicara adalah tanda seorang penakut.
Jika sebuah kebenaran harus disampaikan maka kita tidak boleh diam. Sebab diam disini sama dengan pengecut. Sebab ketika kita bicara di sini juga amal, juga prestasi dan juga bukti profesionalitas. “Sampaikanlah yang benar itu walaupun itu pahit,” sabda Rasulullah saw, menegaskaskan pentingnya bicara tentang kebenaran.

 

عَنْ اَبِى بَكْرٍ الصّدّيْقِ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: عَلَيْكُمْ بِالصّدْقِ، فَاِنَّهُ مَعَ اْلبِرّ وَ هُمَا فِى اْلجَنَّةِ. وَ اِيَّاكُمْ وَ اْلكَذِبَ، فَاِنَّهُ مَعَ اْلفُجُوْرِ وَ هُمَا فِى النَّارِ. ابن حبان فى صحيحه

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama kebaikan, dan keduanya di surga. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena dusta itu bersama kedurhakaan, dan keduanya di neraka”. [HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya, juz 5, hal. 368, no. 5743]

Bicara ketika kita memang harus bicara, adalah lahan pahala bagi siapapun, tentu jika kita melakukannya dengan jujur dan bertanggung jawab.

Hari ini, mungkin kita sedang belajar dari seorang Prita Mulyasari. Dia telah bicara, meski hanya lewat surat elektronik, ketika belum ada orang berani bersuara atas kezaliman yang dilakukan oleh sebuah institusi kesehatan. Dia mungkin merasakan penderitaan akibat bicaranya, tetapi orang banyak akan menyebutnya sebagai pahlawan, sebab dia telah bicara ketika dia memang harus bicara. 

Setiap kita sebenarnya sudah punya tugas dan kewajibannya masing – masing. Jika kita tugasnya bicara, maka kita harus bicara. Jika kita tugasnya bekerja maka kita harus bekerja. Sebab, kalau yang seharusnya bicara memilih diam, maka orang yang tak perlu bicara akan tampil sebagai pengacau, provokator, dan pembuat makar. Pun, kalau orang yang seharusnya bekerja tidak menunaikan tugasnya dengan baik, maka tidak akan tercipta kestabilan, kedamaian dan kesejahteraan.
Dalam statusnya sebagai pemimpin negara dan umat, Umar bin Khatab ra adalah seorang yang tekun bekerja, siang dan malam. Ia hanya tidur sebentar. Keluarganya pernah menegurnya, “Apakah engkau tidak tidur?” Ia menjawab, “Jika aku tidur pada malam hari, jiwaku akan hilang (kesempatan ibadah hilang), Dan jika aku tidur di siang hari maka rakyatku akan hilang (karena tidak diurus).”

Maka dibawah pemerintahannya para pengangguran dan pemalas tidak mendapat toleransi. Suatu saat ia mengusir anak – anak muda yang tinggal di mesjid, yang hanya berkumpul untuk memperbanyak doa tapi tak mau bekerja. Ia mengatakan, “Pergi kalian, keluarlah dan carilah rezeki.”

Bila harus bicara, maka bicaralah. Dan jika harus bekerja, bekerjalah dengan baik dan penuh rasa tanggung jawab.
Berbicara pada hakikatnya adalah sebuah tanggung jawab.

Seorang aktris, Desi ratnasari menjadi bintang tamu suatu acara tertentu, saat itu dia membawa putri kecilnya yang kemudian diberikan pertanyaan oleh hostnya “kamu lebih senang bertemu papah atau “dady” (calon ayah barunya)” dengan wajah polos dia menjawab “lebih senang bertemu “dady”” serentak penonton tercengang dengan jawaban polosnya, dan Desi pun menangis memeluk anaknya sambil berkata “its, ok honey”.

Desi dalam hal ini mengajarkan anaknya untuk berkata jujur, apa yang membuatmu bahagia atau tidak suka katakan saja, bahkan dalam acara wawancara seperti ini sekalipun. Ini adalah suatu pendidikan/tanggung jawab. Dimana berbicara adalah sebuah tanggung jawab yang harus tetap dijaga, dilakukan dalam keadaan apapun. Meskipun kejujuran itu terkadang menyakitkan. Atau berujung pahit.   Ketika berbicara tidak menjadi sesuatu yang harus, maka kebohongan dan kebohongan akan menjadi suatu kebiasaan dan bukan lagi menjadi beban dalam hati akan tetapi menjadi suatu kebutuhan yang semakin lama semakin busuk.

Berbicara dan bekerja adalah  dua hal yang berbeda, namun keduanya memiliki persamaan yaitu diperlukan seni dan tanggung jawab didalamnya.

Selalu ingatlah bahwa jujur akan selalu membawa akhir yang bahagia 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اَرْبَعٌ اِذَا كُنَّ فِيْكَ فَلاَ عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا: حِفْظُ اَمَانَةٍ وَ صِدْقُ حَدِيْثٍ وَ حُسْنُ خَلِيْقَةٍ وَ عِفَّةٌ فِى طُعْمَةٍ. احمد و ابن ابى الدنيا و الطبرانى و البيهقى باسانيد حسنة، فى الترغيب و الترهيب

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Ada empat hal apabila ada padamu maka tidak menyusahkanmu lehilangan dunia. yaitu : 1. menjaga amanah, 2. jujur dalam berbicara, 3. bagus perilakunya, dan 4. tidak rakus terhadap makanan”. [HR. Ahmad, Ibnu Abid Dunya, Thabrani dan Baihaqi dengan sanad hasan, di dalam At-Targhiib wat Tarhiib juz 3, hal. 589]

 

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *