Hidup Barokah Dan Hasanah

Di ruangan sidang Pascasarjana.  Seorang Guru Besar membaca  tesis milik mahasiswa yang sedang diujinya, di halaman ucapan terimakasih sang mahasiswa.  Pertanyaan selanjutnya tidak terduga dan malah membuat sang mahasiswa menangis.  Apa kiranya bunyi pertanyaannya?

“saya lihat disini, kamu persembahkan ucapan terimakasih kepada Rektor di urutan pertama, apa benar kamu mengenal baik beliau?, apakah tidak lebih banyak pengorbanan orang tua dan keluarga mu pada kelancaran studimu sehingga ditempatkan di posisi sekian?”. Seketika itu juga semua teori hasil kuliah pascasarjana yang ditempuh hampir dua tahun seperti tidak berarti.

Begitu pula di kehidupan nyata, yang ujiannya hampir setiap hari. Bagaimana caranya kita dapat berhasil dalam kehidupan sehingga memperoleh barokah Allah?. Di tempat lain. Sang Guru Besar memaparkan cerita tersebut sebagai pelajaran kehidupan untuk meraih kehidupan yang barokah dan Hasanah, beruntunglah kita apabila dapat mengamalkannya;

1. Berbakti kepada orang tua
Kasus di atas hanya secuil kisah manusia yang melupakan orangtua, orang yang pertama-tama melahirkan dan mengasuh sampai dewasa. Melupakan lelah lalu dengan sabar melayani sang anak, bahkan di tidur dan diammnya berisi doa untuk anak-anaknya.
Membalas orangtua sejatinya takkan pernah terganti, maka berbakti kepada orangtua harus dengan usaha terbaik yang kita punya. Sehingga ketika orangtua meridhoi setiap langkah kita maka Ridho Allah juga turun.  Dan ketika Ridho Allah turun balasannya bukan saja kemudahan di dunia tapi sampai ke Akhirat.

2. Pandai bersyukur
Mengapa manusia harus pandai bersyukur? Q.S Ibrahim ayat 7 adalah jawabannya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

 

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Lalu bagaimana tips agar manusia pandai bersyuku? Perbanyaklah ucapan Alhamdulillah, dan senantiasa melihat “ke bawah”, masih banyak orang yang kekurangan dibanding dengan diri kita. Sebaliknya sering melihat “ke atas” membuat kita sombong dan akan selalu merasa kekurangan dan akan terasa lelah karena sering membanding-bandingkan orang yang lebih dari kita.

3. Berbicara yang baik
Perkataan yang baik sering membawa seseorang pada keberuntungan tak berujung, sebaliknya perkataan yang buruk sering menyakiti hati orang lain sehingga tertutup pintu rejekinya.

“Perkataan yang baik dan pemberian ma’af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. “ (Q.S Al-Baqarah : 263)

4. Qanaah dan Istiqomah
Berikut adalah pengertian Qanaah menurut Prof. Dr. Hamka. Qanaah ialah menerima dengan cukup, Orang yang mempunyai sifat qanaah telah memagar hartanya sekadar apa yang dalam tangannya dan tidak menjalar fikirannya kepada yang lain.
“Qanaah itu adalah harta yang tak akan hilang dan pura (simpanan) yang tidak akan lenyap”. (HR. Thabarai dari Jabir).

Qanaah itu mengandung lima perkara:
1.    Menerima dengan rela akan apa yang ada.
2.    Memohonkan kepada Tuhan tambahan yang pantas, dan berusaha.
3.    Menerima dengan sabar akan ketentuan Tuhan.
4.    Bertawakal kepada Tuhan.
5.    Tidak tertarik oleh tipu daya dunia.

Lalu pengertian Istiqomah terdapat dalam hadist (HR. Tirmidzi) seorang sahabat bertanya: ” ya Rasul tolong ajarkan sesuatu kepadaku yang paling penting dalam Islam, dan saya tidak akan bertanya lagi, kepada siapapun. Nabi menjawab ” Katakanlah aku telah beriman kepada Allah, kemudian istiqamah (Konsisten menjalankan perintah,dan menjauhi larangan.).

5.    Jangan lupakan sejarah
Sejarah terbagi dalam dua hal, kelimuan dan kekeluargaan.  Barang siapa tidak melupakan sejarah dalam keilmuan biasanya berhasil dalam setiap bidang akademik.

Namun alangkah lebih baik bila kita menjadi manusia yang tidak melupakan “sejarah” akan keberhasilan kita sendiri sehingga tidak melupakan orang yang telah berjasa sehingga dapat membalas jasanya dengan kebaikan. Bila kita tidak melupakan sejarah hidup kita, seringkali membuat kita tidak melupakan silaturahmi. Dan dari banyaknya silaturahmi, sebanyak itu pula orang mendoakan kebikan untuk kita. Wallahu ‘alam bishawaab.

Dari Pipit Nurul
Sumber : Prof. Dr. Nanan Sekarwana, dr., SpAK., MARS

Humas PI

Humas PI

PERCIKAN IMAN ONLINE DIGITAL - Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *