aksi bela islam 3 indonesia

Dakwah Islam Adalah Kewajiban Umat

Sahabat Percikan Iman, salah satu kewajiban umat Muslim adalah berdakwah. Sebagian  ulama ada yang menyebut berdakwah itu hukumnya fardu kifayah (kewajiban kolektif), sebagian lainnya menyatakan fardu ain. Meski begitu, Rasulullah SAW selalu mengajarkan agar seorang Muslim selalu menyeru pada jalan kebaikan dengan cara-cara yang baik.


وَلْتكُنِ مِنْكُمْ اُمَّةُ يَدْعُوْنَ اِلَى الخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِهُوْنَ.

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itu lah orang-orang yang beruntung (QS.Ali Imran :104)

Dakwah berarti kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang lain untuk beriman dan taat kepada Allah SWT, sesuai dengan garis akidah, syariat dan akhlak Islam.

Secara bahasa, dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da’a yad’u yang artinya “panggilan”, “seruan” atau “ajakan”.

Kata dakwah sering dirangkaikan dengan kata “Ilmu” dan kata “Islam”, sehingga menjadi “Ilmu dakwah” dan Ilmu Islam” atau ad-dakwah al-Islamiyah. Orang yang berdakwah disebut dai (juru dakwah), sedangkan obyek dakwah disebut mad’u

Setiap dakwah hendaknya bertujuan untuk mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridai oleh Allah. Nabi Muhammad SAW mencontohkan dakwah kepada umatnya dengan berbagai cara melalui lisan, tulisan dan perbuatan.

Rasulullah SAW memulai dakwahnya dari istri, keluarga, dan teman-teman karibnya hingga raja-raja yang berkuasa pada saat itu. Di antara raja-raja yang mendapat surat atau risalah Nabi SAW adalah kaisar Heraklius dari Byzantium, Mukaukis dari Mesir, Kisra dari Persia (Iran) dan Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia).

Sahabatku, ada beberapa metode dakwah yang bisa dilakukan seorang Muslim. Dari segi kuantitas target dakwah.

Pertama, dakwah fardiah, yakni metode dakwah yang dilakukan seseorang kepada orang lain (satu orang) atau kepada beberapa orang dalam jumlah yang kecil dan terbatas.

Kedua, dakwah ammah, yakni  jenis dakwah yang dilakukan oleh seseorang dengan media lisan yang ditujukan kepada orang banyak dengan maksud menanamkan pengaruh kepada mereka. Media yang dipakai biasanya berbentuk khutbah (pidato).

Sahabatku, dakwah tidak sekedar menyampaikan sesuatu kepada orang lain, tapi sesungguhnya dakwah itu mempunyai metode dan tatacara  tersendiri yang harus di ketahui dan di mengerti oleh setiap orang, agar dakwah itu sendiri bisa tertata dengan rapi dan apik, sehingga apa yang disampaikan oleh dai dapat dimengerti dan di pahami oleh orang lain, dan untuk selanjutnya agar dakwa itu sendiri bisa berhsil secara maksimal.

Diantara sekian metode dan tatacara berdakwah, Al-Qur’an dan As-Sunnah sendiri telah mengajarkannya. Sebagaimana QS. An-Nahl : 125

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ [١٦:١٢٥]

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Ayat di atas diawali dengan kalimat perintah yang di tujukan kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengajak semua manusia kepada jalan yang lurus yakni dinul islam. Maka ayat ini juga menjadi pelajaran penting bagi semua umat islam untuk menyampaikan dan mengajak orang lain agar menjadikan agama islam ini sebagai satu-satunya ajaran dalam kehidupan ini, serta menjalankan apa yang telah diperintahkan dan menjahui apa yang telah di larang oleh agama islam.

aksi-212-monas

Gbr. Aksi Bela Islam bagian dari Dakwah terbesar

 

Ayat Al-Qur’an di atas juga menyiratkan metode dan tata cara berdakwah, diantaranya adalah :

Pertama, Metode dakwah Bit thoriqil Hikmah
Artinya dengan kebijaksanaan.

Dijelaskan dalam tafsir Al-Muyassar dan tafsir Qur’nul Adim bahwa bit thoriqil hikmah adalah jalan lurus yang telah di berikan Allah kepada semua manusia yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kemudian dijelaskan juga al-hikmah adalah hendalah bercakap-cakap dan berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh orang diajak bicara.

Oleh karena itu bagi  para penyeru atau dai, setiap ucapan dan perkataan yang dilontarkan haruslah berlandaskan Al-qur’an dan Sunnah, terlebih pada sikap dan tingkah lakunnya haruslah sesuai dan cocok dengan ajaran-ajaran Al-qur’an dan Sunnah. Karena setiap ucapan, perkataan, sikap, dan tingkah laku seorang dai itu akan selalu di lihat dan di pantau oleh orang lain untuk kemudian di jadikan teladan bagi mereka.

Begitu pula bagi seorang dai hendaklah memahami keadaan yang diajak bicara termasuk menggunakan bahasa yang dipahami oleh yang di ajak bicara, agar apa yang disampaikan dapat dimengerti dan dipahami. Dengan pemahaman yang demikian, maka dakwah yang di sampaikan akan lebih berkesan dan berhasil dengan baik.

Kedua, Metode dakwah Mauidhatil Khasanah
Artinya nasehat yang baik.

Dijelaskan dalam tafsir al-muyassar bahwa “al-mauidah khasanah” adalah memberi nasehat yang baik sehingga orang akan suka kepada kebaikan dan menjahui kejelekan. Sedangkan tafsir qur’anul adhim menjelaskan bahwa “al-mauidah khasanah adalah memberi nasehat menggunakan perasaan hati dan memahami konteks keadaan, agar mereka menjadi takut dengan siksaan Allah SWT.

Keterangan ini memberikan pelajaran bagi setiap penyeru (dai) bahwa dalam menyampaikan dan memberi nasehat hendaklah dengan cara yang baik dan yang sesuai dengan keadaan mereka, tidak semata-mata hanya keinginan sendiri dan disukai, tapi hendaklah melihat siapa yang di ajak berbincang, termasuk menggunakan perasaan bila perlu.

Artinya seorang dai hendaknya juga memahami psikologi yang di ajak bicara atau mad’u. Sehingga dengan memahami keadaan dan psikologi mereka seorang dai akan mempertimbangkan terlebih dahulu perkataan yang akan di sampaikan, mana yang harus disampaikan dan mana yang tidak hearus disampaikan. Karena keadaan orang maupun masyarakat itu berbeda-beda maka berbeda pula pola berfikir dan pemahamannya, dan ini tidak bisa di samakan.

Ketiga, Metode dakwah Wajadilhum Bil Lati Hiya Ahsan
Artinya berdebat dengan cara yang baik.

Dijelaskan dalam tafsir al-muyassar “wajadilhum bil lati hiya ahsan” adalah berdebat dengan cara lemah lembut dan rasa kasih sayang. Sedangkan makna “ wajadilhum bil lati hiya ahsan” dalam tafsir qur’anul adhim adalah jika ada orang yang berhujjah atau mengajak berdebat hendaklah melawan dengan raut muka yang manis, sikap yang lembut, dan ucapan yang baik.

Keterangan ini memberikan satu suntikan pelajaran bagi para dai, jika di tengah-tengah berdakwah ada seseorang yang membantah dan mengajak berdebat maka hendakalah berdebat dengan cara yang baik, ucapan yang baik, bersikap lemah lembut, dan menampakkan raut muka yang manis bila perlu. Karena tidak semua orang yang di dakwahi begitu saja ikut dengan perkataan dai, terkadang terjadi perbedaan dan perselisihan.

Sahabatku, selain metode dakwah yang diajarkan oleh Al-Qur’an, beliau Nabi Muhammad SAW pun telah mengajarkan hal itu. Sebagaimana sabda beliau yang artinya

عَنْ اَبِيْ سَعِيْدِ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإيْمَانِ (روه المسلم(

Dari Abu Sa’id Al Khudri ra, ia berkata saya telah mendengar Rasulullah saw berabda: Barang siapa diantara kalian yang melihat kemungkaran maka ubahlahkemungkaran tersebut dengan tangannya jika tidak mampu maka dengan lisanni, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah selamahnya iman. (HR.muslim).

Dari sabda beliau diatas kita dapat mengambil suatu ibrah yang amat besar terkait dengan metode dakwah, diantara metode tersebut adalah :

Pertama, Metode dakwah Bil Lisan
Secara dhahir memang dalam konteks kemungkaran, akan tetapi tidak menafikan juga bagi seorang dai. Bahwa tugas pokok seorang dai adalah menyampaikan ajaran-ajaran islam, ini tentunya sangat dibantu dengan vocal lisan, karena seorang  dai identik dengan ceramah, maka seorang dai harus bisa mengolah kata-kata sehingga menarik dan dapat di pahami, apalagi seorang dai melihat kemungkaran haruslah segera bertindak, akan tetapi jangan gegabah dalam mengambil tindakan, hendaklah mengingatkan dengan ucapan yang lembut dan halus terlebih dahulu.

Kedua, Metode dakwah Bil Yadd
Maksud yadd disini adalah kekuasaan atau jabatan. Artinya seorang dai yang mempunyai kedudukan di masyarakat bahkan berpendidikan tinggi itu lebih di segani dan di hormati oleh masyarakat, sehingga nantinya dakwah akan lebih mudah dan gampang.

Ketiga, Metode dakwah Bil Qolbi
Hal ketiga yang tidak kalah pentingnya bagi seorang dai adalah senantiasa berdoa untuk diri sendiri maupun untuk orang lain agar di berikan kemudahan dalam berdakwa dan bagi orang lain semoga senantiasa di berikan keteguhan dan petunjuk ke jalan yang lurus, dan untuk selanjutnya meninggalkan kemaksiatan dan bertaubat.

Terakhir Sahabatku, Allah Swt berikan karunia dan pahala besar bagi pelaku dakwah.

Tersentuhnya hati bukanlah karena kelihaian kita berdakwah tetapi hanya Allah lah yang memberikan hidayah dan petunjukNya. Tak sepantasnya kita kecewa atau lupadiri ketika melihat hasil dakwah yang akan,sedang dan yang telah kita lakukan.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ دَعَا اِلَى هُدًي كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبَعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْئا وَمَنْ دَعَا اِلَى ضَلَالَةَ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثلُ آثَامِ مَنْ تَبَعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئا (روه مسلم(

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “siapa saja yang mengajak kepada kepada kebenaran, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun. Dan siapa saja yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang yang mengerjakan tanpa dikurangi sedikitpun” (HR Muslim)

 

sesudah-kesulitan-ada-kemudahan

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *