Jika Tak Malu : Hiduplah Sesukamu

Mungkin, baru di era inilah alat pemuas kebutuhan manusia mencapai keragaman yang luar biasa. Jauh melambung tinggi bila dibandingkan masa-masa sebelumnya. Perubahan ketersediaan alat pemuas kebutuhan ini terus memacu bertambahnya keinginan baru manusia. Manusia terus terbuai angan-angan dan kenikmatan.

Bersamaan itu terjadilah pergeseran nilai-nilai yang dianut manusia sebelumnya. Apa yang dulu tuntunan, berubah menjadi hanya sebagai tontonan. Dan sebaliknya, yang dulu tontonan, sekarang jadi tuntunan.

Lihat saja dakwah pada layar kaca. Lebih menonjolkan hiburan yang menyenangkan selera. Menjadi sekedar da’itaiment, dibandingkan conten yang membawa pencerahan dan menuntun pada pembentukan kepribadian yang bermoral dan beradap. Saat mendengar dakwah orang bisa tertawa, orang bisa menangis. Setelah mendengar dakwah, tidak ada yang berubah. Masih seperti yang dulu. Tapi iklannya mengendap diam-diam. Bergerak di bawah kesadaran, show konsumerisme memicu orang untuk rakus berbelanja. Membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan, dan mengikuti gaya hidup yang tidak patut sebagai orang beradat ketimuran yang relijius beragama.

Demikian juga orang terbuai dan terbakar semangatnya saat menyaksikan sang motivator menggelorakan semangat diri. Seperti kerupuk yang digoreng. Lekas mekar,lekas menggelembung. Namun lekas demun saat terkena terpaan angin atau percikan air kehidupan.

Mendalami dan belajar sesuatu, memang tidak bisa sambil lalu. Perlu keseriusan dan ketekunan. Perlu kesadaran dan kesengajaan. Perlu istiqomah. Bukan seperti membuat mie instan. Cepat membuatnya. Cepat menikmatinya. Tapi, awas. Berbagai penyakit siap menyergap.

Tapi, seperti rokok. Menyajikan ironi, paradox, dan tirani yang absurd. Dan muskil. Tapi itulah faktanya. Kenikmatan semu asap nikotin, mengalahkan segala macam peringatan alarm bahaya oleh penjualnya sekalipun.

Ini salah satu ikon bagaimana manusia terjebak konsumerisme akurt. Konsumsi bukan lagi keperluan untuk kesehatan, tapi pemuas kesenangan belaka. Bahkan life style. Gaya hidup.

Pada masa-masa paceklik dulu, makanan hanya berfungsi untuk mengusir rasa lapar dan memenuhi kebutuhan kesehatan. Dengan teknoligi pangan yang terus berkembang, makanan bukan lagi hanya sebagi makanan. Ia menjadi komoditas industry dan pariwisata. Maka muncullah wisata kuliner. Yang menikmati makanan tidak hanya lidah, tetapi mata dan jiwa. Terlebih nafsu.

Yang menggemari suatu makanan, asal punya uang silahkan puas-puaskan. Kalau takut timbul penyakit atau obesitas, tidak usah kawatir. Tersedia obat penawar dan penangkalnya.

Ajaran Nabi: makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kekenyangan, atau makanlah seperlunya, telah diganti motto: satu mana cukup.

Saya jadi teringat masa kecil dulu saat kelas satu esde ketika pertama diajari puasa oleh orang tua. Lapar yang melilit saat siang hari, muncul akal liar yang mengganggu. Kalau saja manusia punya kantong di mulut atau tembolok untuk menyimpan makanan, maka bisa seperti seekor lembu.

Ayah dulu, seperti petani lain di desa, memelihara seekor sapi di kandang. Hanya diberi makan pada malam hari. Tapi siang harinya ia masih bisa mengunyah makanan, kalau dalam bahasa jawa disebut “nggayemi.” Keirian liar muncul pada pemikiran terhadap sapi tersebut pada siang hari saat puasa.

Pikiran itu saya simpan rapat-rapat, tidak pernah saya ceritakan pada siapapun. Saya merasa tidak patut menceritakannya. Dalam ungkapan jawa, ora elok, tidak elok. Tidak pantas. Tidak patut.

Pikiran nakal saat kecil saya dulu itu rupanya, tidak hanya pikiran saya. Teknologi makanan modern ternyata, menyingkap kesamaan kenakalan itu. Meski dalam bentuk tidak persis sama.

Adanya makanan untuk mengusir rasa lapar dalam waktu lama -yang ada pada saat ini, pasti diproduk oleh orang dewasa, yang dulu saat kecil merasa tidak nyaman saat puasa. Hanya dia terus terobsesi untuk mewujudkan makanan tersebut. Lalu memproduksinya dan menjualnya sebagai komoditi makanan atau obat.

Rasa lapar yang memantikkan peluang bisnis

Bedanya, saya menghentikan pikiran itu dan membaliknya.

Mengapa makanan yang halal tidak boleh dimakan saat siang hari waktu kita puasa? Pasti ada rahasia di balik itu. Menguak yang pada awalnya rahasia.

Tuhan menciptakan manusia dan memberinya naluri untuk makan. Dan menyediakan rezekinya yang halal bagi yang ikhtiar. Tapi mengapa pada saat tertentu, yang halalpun tidak boleh dimakan?

Saya mencoba berselancar dan menyelami rasa lapar seperti menikmati teh tanpa gula. Sewaktu kecil saya selalu diajari menikmati teh manis. Ketika pertama kali menyeruput teh yang kelupaan diberi gula, reaksi spontan saya menyemburkan teh itu kembali. Sebagai reaksi penolakan untuk mempertahankan kebiasaan.

Tetapi apakah teh pahit tanpa gula itu memang tidak nikmat? Saya penasaran. Lalu mencobanya. Dan ternyata teh pahit itu tak kalah nikmatnya. Dan yang lebih menggembirakan kemudian, setelah mempelajari ilmu kesehatan, ternyata teh tanpa gula yang segera diminum sesaat setelah diseduh itu lah teh yang sehat.

Begitu juga ketika saya mencoba menikmati bagaimani rasa lapar dan mengambil hikmahnya. Ternyata kenikmatan makan saat berbuka lebih nikmat dari makan biasa. Kenikmatan itu ternyata muncul karena adanya harapan dan rindu. Rindu menikmati berbuka dan rindu menikmati berjumpa nanti dengan Allah.

Tapi ada yang lebih dalam dari sekedar itu. Pengenalan diri: Siapa kita.

Puasa sesungguhnya mengenalkan kita bahwa Allah telah memberikan kenikmatan yang sangat banyak. Maka jika Allah mencegah sesuatu, tentu bukan karena Allah itu lalai. Tetapi agar manusia tidak lupa diri, agar manusia tidak lupa kendali. Bahwa manusia adalah makluk yang harus taat pada yang menciptakannya.

Ketaatan dan kepatutan inilah, yang sekarang semakin jauh, karena manusia merasa serba cukup dan serba bisa. Segala macam kenikmatan ingin dinikmatinya tanpa batas. Tanpa mempedulikanya bahwa dirinya serba terbatas.

Kalau kemudian berbagai penyakit fisik menggerogoti manusia, seperti: stroke, diabet, AIDS dan lain-lainnya; dan juga penyakit jiwa, seperti sifat iri, dengki, tamak, loba, tidak jujur, hasad, dan lain-lainnya; sebenarnya itu adalah rem agar manusia menimbang tentang kepatutan dan kepantasannya dalam menjalankan kehidupan.

Saat ini nilai kepatuhan dan kepatutan di semua lini kehidupan telah terkoyak sangat memprihatinkan. Dari tingkat kehidupan rakyat jelata sampai ke penyelenggara negara. Jumawa terhadap kekuasaan dan kekayaan,serta hedonisme telah menjadi life style orang modern.

Nilai kepatuhan dan kepantasan terkait erat dengan harga diri, kehormatan, kewajaran, dan rasa malu. Masihkah kita memiliki ini semua di zaman serba bebas dan serba ada?

“Berbuatlah sesukamu, bila kau tak punya rasa malu,” sabda Nabi kita tercinta.

http://menuliskehidupanketapang.blogspot.com/2014/06/kepatuhan-dan-kepatutan.html?m=1

Related Post

Humas Percikan Iman

Humas Percikan Iman

Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *