hikmah-penjual-koran-percikan-iman

Belajar dari Penjual Koran

PENJUAL KORAN ini mungkin bukan Ustadz atau Kyai atau Prof. atau Doktor, tapi kita WAJIB belajar darinya. Silakan baca dan renungkan !
****

Pagi itu seorang penjual Koran berteduh di tepi sebuah warung…
Sejak subuh hujan memang turun lebat sekali….
Seakan hujan tersebut menghalangi nya melakukan aktivitas utk berjualan koran seperti biasa.

Terbayang di fikiranku, kayaknya tidak ada satu sen pun uang yang akan di peroleh seandainya hujan tidak berhenti.
Namun, ….kegalauan yang kurasakan …
ternyata tidak nampak sedikitpun di wajah Penjual Koran itu.

Hujan masih terus turun.
Si penjual koran masih tetap duduk di tepi warung itu sambil tangannya memegang sesuatu. Tampaknya seperti sebuah buku. Kuperhatikan dari jauh, lembar demi lembar dia baca. Awalnya aku tidak tahu apa yang sedang dibacanya. Namun perlahan-lahan ku dekati….
ternyata Kitab Suci Al-Quran yg dibacanya.

  • “Assalamu ‘alaikum wr wb” …
  • “Wa’alaikumus salam wr wb”
  • “Bagaimana jualan korannya mas ?” …
  • “Alhamdulillah, …sudah terjual satu.”
  • “Susah juga ya, kalau hujan begini” …
  • “In shaa Allah sudah diatur rezekinya.”
  • “Terus mas, ….kalau hujannya sampai siang, gimana?”
  • “Itu berarti rezeki saya bukan jualan koran, tapi banyak berdoa.”
  • “Kenapa ?” (Tanyaku takjub)
  • “Bukankah Rasulullah SAW pernah besabda, ketika hujan adalah saat yang mustajab untuk berdoa. Maka, kesempatan berdoa itu adalah rezeki juga…mendoakan tak hanya untuk pribadi tapi juga orang-orang yang kita sayangi dan menyayangi kita”
  • “Lantas, kalau tidak dapat uang, bagaimana mas?”
  • “Berarti, rezeki saya adalah dengan bersabar”
  • “Kalau tidak ada yg bisa dimakan mas?” …..
  • “Berarti rezeki saya dengan berpuasa”
  • “Kenapa bisa berfikir seperti itu ?”
  • “Sejatinya hanya Allah SWT yang memberi kita rezeki. Apa saja rezeki yang Allah berikan saya syukuri. Selama berjualan koran…. walaupun tidak laku, dan harus berpuasa….saya tidak pernah kelaparan” – kata-katanya ikhlas menutup pembicaraan

● Sahabat …
Hujan pun berhenti….
Si penjual koran bersiap-siap untuk terus menjajakan korannya.
Ia pergi sambil memasukkan Al-Quran ke dalam tasnya.

● Aku termenung …
tanpa kusadari …
cermin mata ku menjadi gelap….
karena cucuran tangisku… Aku tersadar….
setelah aku merenungi setiap kalimat tausiah yang diucapkan penjual koran tadi…

● Ada penyesalan di dalam hati….mengapa kalau hujan ada yg resah-gelisah….
Kuatir tidak mendapat uang….
Risau rumahnya akan terendam banjir…..
Bimbang tidak bisa datang kekantor.. ..
Keluh kesah tidak bisa bertemu rekan bisnis…..

● Kembali baru ku sadari,… Rezeki bukan saja uang…
Tetapi bisa dalam bentuk…hidayah…. kesabaran, ….berpuasa,….. berdoa, …..beribadah….
rasa syukur….
semuanya merupakan amal sholeh yang perlu kita syukuri….yang juga merupakan rezeki dari Allah SWT.

Subhanallaah …
walhamdulillaah…
Walaa ilaaha illallaah…
Allaahu Akbar ….

Kiriman dari Jamaah Percikan Iman

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *