aam-amiruddin-almultazam-mpi

Ramadhan untuk Memperbaiki AKHLAK

Akhlak adalah nama lain adalah sifat dan perilaku. Kata akhlak secara bahasa verasal dari bahasa Arab “Al Khulk” yang diartikan sebagai perangai, tabiat. Budi pekerti, dan sifat seseorang. Jadi akhlak seseorang diartikan sebagai budi pekerti yang dimiliki oleh seseorang terkait dengan sifat-sifat yang ada pada dirinya.

Sedangkan secara istilah kata akhlak menurut istilah khususnya dalam islam diartikan sebagai sifat atau perangai seseorang yang telah melekat dan biasanya akan tercermin dari perilaku orang tersebut.

Sifat dan perilaku itu ada yang mulia dan ada pula sebaliknya yakni tercela. Bila sifat kita pemaaf, dermawan,ramah maka sifat itu adalah akhlak mulia dan apabila sebaliknya jika sifat kita adalah pendendam, iri tidak suka melihat orang lain sukses,kikir serta mudah putus asa, maka sifat itu adalah akhlak tercela. Semua potensi itu ada dalam diri kita sebagai manusia.

Sahabat Percikan Iman, lalu bagaimanakah akhlak tersebut bisa di bentuk atau di rubah. Sarana istimewa untuk mengubah sifat dan perilaku itu ada dibulan Ramadhan.

Ramadhan yang akan kita jalani ini adalah sebagai sarana untuk menghantarkan kita dalam melatih akhlak baik atau mengkonversi tabiat-tabiat yang buruk menjadi akhlak yang mulia.

Ketika shaum (puasa) kita diwajibkan menahan lapar dan dahaga, sebagai hal untuk merasakan banyaknya saudara-saudara kita yang kekurangan. Dengan merasakan secara langsung maka akan lebih mudah untuk melatih diri kita menjadi dermawan, disaat shaum-pun kita harus menahan diri/emosi, dengan harapan nantinya dalam kehidupan sehari-hari kita harus menjadi seorang yang pemaaf.  Maka adalah sangat benar bahwa pada bulan Ramadhan itu adalah sarana bagi kita untuk dapat merubah kembali akhlak yang buruk menjadi akhlak yang mulia.

Sahabatku, sifat manusia terdiri dari dua yaitu:

  • Sifat yang tercela (Akhlak madzmumah)
  • Sifat yang mulia (Akhlak Karimah).

Marilah kita jabarkan sifat-sifat tersebut. Sifat-sifat buruk manusia (QS. Al Ma’arij: 19-21).

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.

إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا

Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,

وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,

(1) Manusia itu di ciptakan dengan sifat suka mengeluh.

Dalam ayat ini manusia memang diciptakan dengan sifat suka mengeluh. Manusia yang suka mengeluh itu berarti potensi sifat keburukannya dominan. Maka dari itu manusia tidak akan bisa dibahagiakan dengan seutuhnya karena masih memiliki potensi suka mengeluh. Sehingga ini menghalangi manusia untuk merasa cukup karena merasa tidak mungkin semua kebutuhannya terpenuhi.

Tugas kita adalah berikhtiar untuk melakukan segala sesuatunya yang terbaik sesuai dengan kemampuan kita dan selalu berdoa meminta kemudahan dari Allah untuk menjadi manusia yang baik sesuai syariat dari Allah dan Rasul-Nya.

Kajian Umum MPI bersama Dr.Aam Amiruddin

(2) Bila ditimpa kesusahan, mudah berputus asa (keluh kesah).

Dijelaskan dalam (QS.Ali Imran: 200)

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَا بِرُوْا وَرَا بِطُوْا ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah waspada terhadap bujukan setan yang mengintaimu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 200)

Allah menyuruh kita untuk selalu bersabar. Sebagai manusia terkadang ketika di uji, awalnya kita bisa bersabar tetapi untuk selanjutnya belum tentu akhlak kesabaran itu masih ada. Perilaku putus asa itu muncul di saat kita diberikan beban ujian yang tidak menyenangkan dan menyusahkan. Maka dari itu Allah menyuruh kita untuk selalu bersikap sabar dan kuatkan kesabaran tersebut.

Menjaga kesabaran dilakukan dengan waspada, artinya disaat ujian itu datang pasti ada rasa putus asa dan keluh kesah, mungkin sekarang bisa, besok lusa menyerah maka tingkatlah kesabaran itu sehingga Allah menyebutnya orang yang beruntung yaitu orang yang bisa menepis keputus asaan itu.

Wallahu’alam bishshawab.

Untuk poin selanjutnya akan di bahas pada kajian MPI ahad depan yang akan di laksanakan di Mesjid Trans Studio Bandung.

Resensi Kajian Umum MPI Ahad Pagi
14 April 2019 bersama Dr. Aam Amiruddin, M.Si
di Massjid Al Multazam Ciganitri
Di tulis oleh Ika Kartika (@kartikamuslimah)

 

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *