kajian-mpi-aam-amiruddin-mt-siti-hajar

Menggapai Iman yang Prima

Sahabat Percikan Iman, awalnya Iman itu sifatnya abstrak atau tidak nyata. Iman akan konkrit dan terlihat jelas dalam bentuk perilaku pemilik yang mengaku beriman.
Seperti yang di jelaskan dalam (QS. Ibrahim: 24-25)

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,

تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

Allah membuat perumpaan tentang gambaran iman. Iman bagaikan pohon yang akarnya menghunjam ke bumi, dahannya menjulang ke langit serta daunnya yang rindang.

Makanya iman yang kokoh adalah yang dapat dirasakan manfaat dan maslahatnya oleh sekitarnya. Sehingga yang ada di sekitarnyapun selalu merasakan kesejukan.

Sahabat Percikan Iman, lalu bagaimanakah untuk menggapai iman yang prima, berikut ini adalah caranya :

1. Bersihkan Hati.
Yang dapat mengotori hati adalah perbuatan maksiat. Jika qolbu sudah tertutup oleh maksiat maka akan menghalangi jalannya pertemuan dengan Allah.

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. (QS. Al Muthaffifin: 14),

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا

Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. (QS. Al Furqan: 70-71),


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS.At Tahrim: 8),

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kemudian juga silahkan dibuka (QS. Az Zumar: 53) & (QS. Ali Imran: 8),
Cara membersihkan hati adalah dengan bertaubat yaitu dengan memperbaiki diri dan introspeksi diri. Ingat tdak ada manusia yang suci dari dosa.

2. Pupuk hati dengan ilmu dan tadabbur Al Qur’an.

Kita harus banyak belajar karena dengan belajar kita bisa jadi paham kemudian banyak membaca Al Qur’an serta berikhtiar untuk mentadabburinya. Dan untuk berusaha diamalkan, bukan hanya sebatas dibaca dibibir saja.

3. Dekatkan diri dengan lingkungan yang sholeh.
Manusia adalah makhluk yang seringkali di pengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Jika lingkungan nya kondusif maka perilakunya pun akan baik pula. Misal salah satunya adalah majlis ta’lim, majlis ta’lim adalah tempat atau lingkungan yang kondusif karena di dalamnya tidak mungkin ada kemaksiatan.
Kita memohon kepada Allah agar di masukkan kedalam lingkungan atau golongan orang-orang yang sholeh. (QS. Asy Syua’ra: 83).

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

(Ibrahim berdoa): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh,

4. Hadapi hidup dengan sungguh-sungguh.
Jika kita ingin sukses maka jadilah seorang pembelajar. Jalani kehidupan ini dengan kesungguhan dan berusaha untuk melakukan yang terbaik.
(QS. Al Ankabut: 69).

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Dr. Aam Amiruddin Percikan Iman

5. Sabar dalam menghadapi kehidupan.
Hidup adalah ujian. Kita melewati hidup penuh dengan ujian dan ujian yang terberat adalah keluarga karena keluarga adalah berada dalam lingkaran terdekat kita. (QS. Ali Imran: 200).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.

6. Berdo’a
Hendaklah kita terus berdo’a kepada Allah untuk memohon kekuatan kepada-NYA agar di tetapkan dalam iman. QS. Ali Imran: 8)

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.

Semoga di bulan Ramadhan ini dapat menghantarkan kita kepada iman yang prima.

Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin
Wallahu’alam bishshawab.
Resume Kajian Ust. DR.Aam Amiruddin, M.Si tanggal 5 Mei 2019 bersama MT. Siti Hajar di Mesjid Al Murabbi. Dan ditulis oleh Ika Kartika (@kartikamuslimah)

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *