Penyebab Manusia menjadi Hina

Sahabatku, Manusia itu sejatinya adalah mulia. Namun terkadang dan seringkali manusia itu sendirilah yang menjatuhkan dirinya kedalam kehinaan.

Mereka memiliki hati, akal dan panca indera namun tidak digunakan untuk melihat dan mendengarkan ajaran-ajaran Allah. Mendengarkanpun enggan, apalagi melaksanakan perintah Allah baik amalan ibadah ataupun muamalah sehingga didalam Al-Qur’an, manusia dapat menjadi lebih hina dari binatang ternak (QS. Al A’raf:129).

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”(QS. Al-A’raaf: 179)

Jadi, mereka tidak mau membuka hati yang telah diberi kemampuan untuk memikirkan petunjuk-petunjuk keimanan dan hidayah yang terbentang di alam semesta. Juga, di dalam risalah-risalah yang dapat diketahui oleh hati yang terbuka dan pandangan yang melek.

Ada beberapa hal yang membuat manusia menghinakan dirinya, yakni :

1. Ketika manusia mengingkari ayat-ayat Allah (QS Ali Imran: 112)

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.

Ayat ini berbicara tentang kondisi bani israil. Kaum bani israil ini adalah awalnya kaum yang dimuliakan oleh Allah karena seperempat dari kaum bani israil ini menjadi nabi diantaranya Yaqub AS, Yusuf AS, dan Musa AS, nabi-nabi lainnya juga diutus pada Bani Israil, seperti Nabi Harun AS, Nabi Ilyas AS, Nabi Ilyasa AS, Nabi Yunus AS, Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Zakaria AS, Nabi Yahya AS, hingga Nabi Isa AS

Nama Yahudi dinisbahkan pada salah seorang putra Nabi Ya’kub yang bernama Yahudza bin Ya’kub, salah satu dari 12 orang putra Ya’kub. Putra lainnya bernama Ruben, Simeon, Lewi Yehuda, Isakhar, Zebulon, Yusuf AS, Benyamin, Dan, Naftali, Gad, dan Asyer.

Allah menghinakan kaum yahudi karena tidak bisa membangun hubungan yang baik dengan Allah dan juga kepada sesama manusia. Maka sahabatku, jika ingin dimuliakan Allah, kita harus mampu membangun hubungan yang baik dengan Allah yang telah menciptakan kita dan dengan manusia. Manusia harus berinteraksi shalih kepada sesama, karena kita tidak akan bisa hidup seorang diri tanpa bantuan, suatu saat kapanpun kita akan membutuhkan orang lain.

Disaat kita meninggal, orang lain lah yang memandikan, mengkafani, menyolatkan dan mengantarkan kita ke kubur. Disaat keluarga mendapat bencana, maka tetangga terdekatlah yang akan menolong dan peduli kepada kita. Mari kita jalin hubungan yang baik dari yang terdekat yaitu keluarga sampai lingkaran yang lebih luas yaitu dengan orang lain.

2. Diperbudak Hawa Nafsu
Dalam diri kita ada dua dorongan nafsu yang berkompetisi yaitu dorongan kebaikan dan dorongan keburukan. (QS. Asy syams: 7-10)

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)

Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q. S. al-Syams [91]: 7-10).

(QS. Al Jatsiyah: 23)

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Manusia menjadi hina karena mengikuti dorongan keburukan yang ada dalam dirinya sehingga di perbudak hawa nafsu dan menjadikan hawa nafsu lah sebagai tuhannya.

Sehingga pada akhirnya Allah benar-benar menutup mata hatinya dari petunjuk-petunjuk-Nya sehingga membiarkannya sesat jauh dari kebenaran.Kemudian poin selanjutnya akan di bahas ahad depan.

Wallahu ‘alam bishshawab

In Syaa Allah ahad depan MPI akan di laksanakan di mesjid Darul Ihsan Telkom jl. Gegerkalong Hilir no. 47

kajian mpi-15-9-2019-aam-TSM

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *