definisi-hati-sakit-aam-amiruddin-percikan-iman

Unsur-Unsur Keshalehan

Secara etimologi, kata shalih berasal dari shaluha-yashluhushalahan yang artinya baik , tidak rusak dan patut. Sedangkan Shalih merupakan isim fa’il dari kata tersebut di atas yang berarti orang yang baik, orang yang tidak rusak dan orang yang patut.

Sedangkan Shalih menurut definisi Al-Qur’an adalah orang yang senatiasa membaca Al-Qur’an di waktu malam, melaksanakan shalat malam (tahajjud), beriman dan beramal shalih, menyuruh kepada kebaikan, mencegah perbuatan mungkar dan bersegera mengerjakan kebajikan. Defini ini sesuai dengan firman Allah swt dalam surat Ali Imran 113-114 dan Al-Ankabut ayat 9.

Sahabat Percikan Iman, ada tiga unsur amalan kesholehan:
1. Amalan Qolbiyyah (amalan hati)
2. Amalan Aqliyyah (amalan akal)
3. Amalan Jasadiyyah (amalan jasad)

1. Amalan Hati

Ketiga unsur diatas adalah saling terkait dalam membentuk kesholehan.
Jasad adalah pelaksananya sedangkan penentunya adalah qolbu dan akal.
Oleh karena itu jika ingin menjadi orang yang sholeh harus di mulai dari bersihnya qolbu atau hati.

Sebagaimana terdapat dalam (QS. Ali Imran: 8) ketika nabi Adam AS berdo’a agar senantiasa hatinya selalu berada dalam petunjuk dan hidayah Allah.

Hal pertama yang harus di perhatikan adalah amalan qolbiyyahnya benar.
Ada 3 jenis qolbu:
Qolbun mayyitun
Yaitu hati yang mati (QS.Al Baqarah: 6-7) (QS. Al A’raf:179).
Hati yang mati adalah hati yang tidak tersentuh dengan nasehat. Jika di beri peringatan atau tidak hasilnya adalah sama saja. Allah telah mengunci mati hatinya sehingga pendengaran dan penglihatannya pun sudah tidak berfungsi lagi. Sehingga orang yang telah terkunci hatinya tidak akan menjadi orang yang sholeh.
Cirinya adalah qolbu nya sudah tidak dapat lagi di gunakan untuk memahami kebenaran. Allah menyebutkan mereka seperti binatang ternak bahkan lebih buruk lagi dari itu.

Qolbun Maridun
Yaitu hati yang sakit (QS.Al Baqarah: 10). Jika hati sakit, pasti masih ada harapan untuk sembuh, namun bila di biarkan akhirnya akan menjadi hati yang mati pula.

Adapun ciri-ciri hati yang sakit : Tidak merasa berdosa bila melakukan kesalahan (meremehkan dosa). Misalnya dalam melalaikan sholatpun sudah tidak merasa bersalah.

Dalam hadits riwayat Tirmidzi di sebutkan bahwa sesungguhnya seorang hamba bila melakukan maksiat itu akan mengotori hatinya, karena perbuatan dosa itu di umpamakan seperti noda. Jika berhenti dan bertobat tentunya jiwa qolbu yang sudah terkotori itu akan bersih kembali. Namun jika di ulangi lagi maka dosa-dosa itu akan semakin menodai jiwanya yang bersih itu. Orang-orang yang melakukan dosa kemudian bertaubat bersih kembali namun jika terulang kembali maka hatinya akan tertutup.
Sesungguhnya qolbu manusia itu asalnya bersih namun dosa yang mengotorinya. (QS. Al Muthoffifin: 14-16).

Yang bisa menjadikan hati menjadi sakit kemudian mati adalah diantaranya banyak berkeluh kesah atau mengeluh, mudah berputus asa jika mendapatkan kenikmatan cenderung lupa diri dan jika sukses ia sombong (QS Al Ma’arij: 19-23)

Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berperilaku sombong (QS. Luqman: 18-19).

Qolbun salim
Yaitu hati yang sehat (QS. Asy- Syu’ara: 89). Nabi Ibrahim seraya berdo’a kepada Allah agar di karuniai hati yang bersih. Jika hati sehat atau bersih maka akan berimbas pada jasad. Terbentuk kesholehan itu di mulai dari hati yang sehat dan bersih sehingga pikiran dan apaun yang keluar dari lisan pun menjadi bersih.

2. Amalan Akal

Ahli hikmah mengatakan “ilmu dahulu sebelum beramal”. Jika kita beramal tanpa ilmu itu sesat. Oleh karena itu Allah mnyuruh kepada kita untuk terus belajar.

Surat yang pertama turun adalah Iqra bacalah, Allah menyebutnya dua kali. Betapa penting ilmu bagi seseorang karena kita dapat melakukan ibadah dengan benar tentunya di karenakan ilmu, dan ilmu bisa di peroleh hanya dengan proses belajar. Dan belajar itu tidak hanya sekali perlu waktu yang lama dan terus berkesinambungan. Tidak hanya mencari namun butuh juga pengulangan. (QS. Muhammad: 19)

3. Amalan Jasad (QS. Al Mulk: 2)
Sahabatku, pada akhirnya akan kelihatan jika hatinya bersih dan kesholehannya tampak maka akan Allah Swt selalu akan uji siapa diantaranya yang paling bagus amalannya.
Dan amalan itu akan baik jika unsur yang pertama dan kedua terpenuhi yaitu unsur hati dan akalnya. (QS. Al Qashash:77).

Gunakan semua yang Allah Swt karuniakan itu untuk akhirat tanpa melupakan bagiannya di dunia. Jadi dalam amalnya bersikap tawazun yaitu melakukan amalan yang seimbang untuk dunia dan akhiratnya.

Tidak hanya dekat dengan Allah Swt namun berbuat baik pula kepada makhluknya, sehingga maka akan terlihat itulah kesholehan yang sesungguhnya.

Selalu berbuat baik, tidak berbuat kerusakan (QS. Al Qashash: 88)
Kita melakukan amal sholeh sejatinya untuk diri kita sendiri. Berbuat jujur, disiplin semua kebaikan itu akan berbalik pada diri kita.

Ini adalah Rumus yang sangat indah, di saat kita paham bahwa unsur-unsur pembentuk kesholehan yaitu (1) hati yang bersih, (2) akal yang di gunakan untuk mempelajari ilmu dan (3) jasad yang melakukan amal. Jika ini dipadukan menghasilkan hati yang bersih didasari ilmu yang bermanfaat dan menghasilkan amalan nyata berdasarkan ilmu dan keikhlasan  yang terukur (terlihat).

Wallaahu ‘alam bishshawab

Resume Kajian MPI online streaming. Ahad, 5 April 2020 bersama Ust.Dr. Aam Amiruddin, M.Si. Di tulis oleh Ika Kartika (@kartikamuslimah)

mpi-05-april-2020-aam-online
Kajian MPI Online

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *